Home » Dan at The Movies » MISSION: IMPOSSIBLE – FALLOUT (2018)

MISSION: IMPOSSIBLE – FALLOUT (2018)

MISSION: IMPOSSIBLE – FALLOUT: A TOTAL CRUISE CONTROL IN DEATH-DEFYING STUNTS

Sutradara: Christopher McQuarrie

Produksi: Bad Robot Productions, Skydance Media, Alibaba Pictures, Paramount Pictures, 2018

Image: impawards.com

Tak mudah mungkin mengadaptasi serial TV, apalagi yang berstatus klasik menjadi franchise layar lebar. Tapi di tengah ekspektasi-ekspektasi beragam, apa yang dilakukan Brian De Palma dan dua penulisnya, David Koepp (Jurassic Park, Spider-Man, War of the Worlds) & Robert Towne (Chinatown, Tequila Sunrise dan dua film Cruise sebelum M:IDays of Thunder dan The Firm) berdasar ide cerita Koepp bersama Steven Zaillian (Schindler’s List) memang berhasil membawa instalmen awal layar lebar Mission: Impossible/M:I (1996) keluar dari bayang-bayang serial TV-nya, bahkan ketika dengan berani menempatkan karakter utama serialnya; Jim Phelps (diperankan Jon Voight di versi layar lebar) sebagai antagonis utama.

Berlanjut menjadi franchise, sekuelnya M:I-2 yang menjual kolaborasi Tom Cruise dengan John Woo (tetap ditulis Towne) walau dipandang banyak orang lari jauh dari konsep, tetap laku di pasaran hingga berlanjut ke M:I-III yang memindahkan franchise-nya ke tangan J.J. Abrams dengan Bad Robot Productions-nya. Masih belum sepenuhnya kembali ke jalur semula, baru di instalmen ke-4, Ghost Protocol arahan Brad Bird (The Incredibles)-lah M:I  mulai menemukan polanya kembali dalam genre spy team yang jauh lebih solid walau tetap menjual Cruise sebagai pentolan utamanya, dan semakin kuat lagi di Rogue Nation yang membawa Christopher McQuarrie (The Usual Suspect), kolaborator Bryan Singer yang beralih menjadi jagoan baru Cruise sejak Valkyrie ke Jack Reacher.

Mission: Impossible – Fallout sejak jauh-jauh hari memang mengedepankan ambisi Cruise menjual stunt gila-gilaan dalam adegan-adegan aksinya. Terdengar nyaris menyamai Jackie Chan, bersama McQuarrie mereka seakan menantang diri sendiri untuk terus melebihi instalmen-instalmen sebelumnya sebagaimana Ghost Protocol dan pendakian Burj Khalifa dulu. Terjun bebas dari ketinggian 30 ribu kaki, bike stunts, rooftop jumps, bathroom brawl, name all – berikut satu yang paling dahsyat dan masih disimpan dari promo-promonya, ini memang jadi tantangan terbesar Fallout sebagai instalmen ke-6. Selagi ada daya tarik lebih dari kehadiran Henry Cavill di ansambelnya, McQuarrie juga membawa kembali sisi kehidupan personal Ethan Hunt sebagai salah satu motif terkuatnya. Tapi tentu ia tahu, untuk tak lagi mengulang kesalahan M:I-III yang terlalu mengedepankan hal ini sampai menyia-nyiakan ansambel hebat dalam nafas teamwork-nya, walaupun menyisakan satu resiko – ego Cruise yang kini tampak se-narsis film-film melodrama cinta segitiga ala Bollywood atau, well… film-film romansa reliji kita.

Dua tahun setelah Rogue Nation, IMF dan agen Ethan Hunt (Cruise) menghadapi ancaman bom nuklir dari sosok misterius bernama John Lark dan sindikat teroris The Apostles. Berujung kegagalan karena kelemahan intuisinya, Hunt (Cruise) dan timnya – Luther Stickell (Ving Rhames) dan Benji (Simon Pegg) dan pimpinan baru IMF, mantan direktur CIA Alan Hunley (Alec Baldwin) terpaksa menyetujui perintah direktur CIA baru Erica Sloane (Angela Bassett) untuk menitipkan agen andalannya, August Walker (Henry Cavill) buat mengawasi mereka. Memburu Lark dan hulu nuklir yang hilang di balik pertukaran gembong The Syndicate, Solomon Lane (Sean Harris, villain Rogue Nation) yang tak bisa mereka tolak, juga keberadaan seorang pedagang senjata gelap berjulukan White Widow (Vanessa Kirby), Hunt dan timnya pun berpacu dengan waktu mengarungi Belfast, Berlin, Paris, London hingga Kashmir – membawanya kembali bertemu dengan agen MI6 Ilsa Faust (Rebecca Ferguson) dan istrinya, Julia (Michelle Monaghan) bersama intrik hidup dan mati yang sewaktu-waktu bisa berujung pada bencana nuklir berskala global.

Cruise dan McQuarrie ternyata memang tak main-main dengan janjinya. Walau kedekatan koneksi plot-nya dengan Rogue Nation terasa bagai sekuel langsung ketimbang kisah petualangan berbeda yang bisa jadi mengharuskan penonton menyimak kembali film sebelumnya, skrip McQuarrie bisa hadir sangat rapi menyusun elemen demi elemen intrik dan layered twists-nya tanpa melupakan bangunan karakter-karakter franchise ini. Pusatnya memang tetap ada di karakter Ethan Hunt yang dikemas lebih manusiawi dari dua instalmen terakhir – mengarah ke film ketiga namun tak lantas lupa memberi balance terhadap karakter-karakter lainnya.

Sebagai Solomon Kane dengan tampilan lebih menyeramkan, Sean Harris tetap dijadikan gembong teroris manipulatif bersama satu sosok yang baru dibuka sebagai twist utamanya. Sementara Ving Rhames dan Simon Pegg tetap dijadikan comic relief untuk selipan jokes di tengah aksinya, Alec Baldwin juga mendapat justifikasi dalam satu peran terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir. McQuarrie bahkan menyelipkan sentuhan romansa yang cukup menyentuh namun jelas punya relevansi, sambil membuka kesempatan bagi karakter baru untuk ditunggu kembali di sekuel-sekuel berikutnya, seperti White Widow yang diperankan dengan menarik oleh Vanessa Kirby di salah satu highlight adegan pairing-action-nya sekaligus punya hint ke film pertama lewat karakter Max yang diperankan Vanessa Redgrave. Kembali sebagai Julie, Michelle Monaghan tampil menarik walau cukup singkat bersama aktor yang cukup lama tak mendapat peran sentral, Wes Bentley.

Tapi dua pendamping terkuat bagi Cruise di Fallout tentulah Henry Cavill dan Rebecca Ferguson. Selagi Cavill – yang sudah kita lihat di sejumlah promo-nya jadi sidekick seimbang buat Cruise (bahkan melebihi Jeremy Renner di dua instalmen sebelumnya), benar-benar dimanfaatkan di setiap guliran adegannya, dari bathroom brawl yang sangat ditunggu ke final showdown gila-gilaan yang sengaja disimpan, Ferguson yang sudah menyiratkan sparks luar biasa menarik bersama Cruise di Rogue Nation pun diberi character arcs melebihi film sebelumnya. Apalagi, sosoknya sudah jauh lebih melekat bagi penonton sejak tampil dalam The Greatest Showman dan sekuens lagu Never Enough.

Di atas semua, sesuai janji yang tersirat dari promo-promo Fallout yang digelar sejak awal, adalah gelaran adegan aksinya yang memang membawa instalmen keenam ini terbang menjulang sebagai entry terbaik dalam keseluruhan franchise-nya. Porsinya boleh jadi tak nonstop diselingi intrik spionase yang tetap memberi identitas M:I bersama nafas teamwork karakter jago-jago lintas agensi ini, tapi staging, ritme-tempo dan pacing action scenes di atas scoring Lorne Balfe, beautifully looking cinematography besutan Rob Hardy dan pameran stunts yang menjadi ambisi terbesar Cruise, tertata dan dihadirkan dengan luar biasa memikat.

Eye-popping, adrenaline-pumping dan seru gila-gilaan, gelaran finale climax di tengah pegunungan Kashmir itu hadir dengan nafas urgensi yang benar-benar membuat kita tercekat melihat never before seen action sequences yang rasanya melebihi ambisi dan segala tantangan yang di-set oleh Cruise dan McQuarrie terhadap diri mereka sendiri, bahkan memang layak masuk ke dalam deretan film aksi terbaik yang pernah ada. Not to reveal any twists, sekuens ini jauh melebihi dua karya klasik terbaik di ranah permainannnya; Blue Thunder atau Airwolf.  Still plays in the same globe-trotting field, Mission: Impossible – Fallout escalate the ammo up to the craziest level and paid off all of its stakes. A total Cruise control in death-defying stunts! (dan)

 

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter