Home » Dan at The Movies » ROMPIS (2018)

ROMPIS (2018)

ROMPIS: A DELIGHTFUL ROMCOM WITH TOTAL CHARM AND ELECTRIFYING CHEMISTRY

Sutradara: Monty Tiwa

Produksi: MNC Pictures, 2018

Tak terlalu banyak mungkin penonton sekarang, mungkin, yang tahu kalau Rompis – kontinuitas layar lebar sinetron yang menggunakan judul asli Roman PicisanThe Series, berawal dari novel karya Eddy D. Iskandar yang sudah pernah diadaptasi ke film berjudul sama tahun 1980, disutradarai Adisurya Abdy. Sementara film yang juga berjudul sama di tahun 2010, karya Rako Prijanto yang dibintangi Tora SudiroArtika Sari Devi, bukan. Dibintangi Rano Karno, Lydia Kandou dan seabrek pemain muda masa itu – dari Tino Karno, Ita Mustafa hingga George Rudy, Roman Picisan versi 1980 itu merupakan salah satu film remaja yang sangat populer di trend film percintaan remaja yang marak pada eranya. Jadi sedikit berbeda dengan sejumlah film remaja yang menjual popularitas novelnya, Rompis yang kini diproduksi MNC Pictures, sedikit berbeda. Jadi sebuah adaptasi lepas layar lebar, ia lebih populer lewat sinetron adaptasinya.

Sekarang, bicara soal genrenya, yang diusung Rompis jelas bukan lagi hal baru. Plus eksistensinya di kotak sama yang menggunakan gimmick set luar negeri, saat sebagian produk sejenis laku keras di pasaran; dari Ada Apa dengan Cinta?, Eiffel I’m in Love hingga Dilan 1990 yang masih bakal terus berlanjut, di satu sisi mungkin ini resep yang dilihat pihak MNC dengan Lukman Sardi sebagai produser kreatifnya, bahwa meneruskan sinetronnya ke layar lebar – punya potensi untuk berhasil. Di sisi lain, ujiannya tentu sepenuhnya ada pada bagaimana cara mereka meracik formula. Tapi lihat lagi deretan film dengan premis serupa, selagi tak pernah ada yang spesial dari guliran plot-nya, kunci terbesarnya mungkin ada pada chemistry dan pemilihan cast-nya. Seperti apa racikannya memenuhi dua elemen terbesar genrenya, romance dan comedy.

Melanjutkan kiprah karakter-karakternya seusai sekuens pembuka lulus-lulusan SMA, Roman (Arbani Yasiz) bersama Sam (Umay Shahab) terpaksa meninggalkan Wulan (Adinda Azani) untuk kuliah di Belanda. LDR di antara Roman dan Wulan yang pada awalnya merasa kecewa dengan pilihan Roman berjalan lancar-lancar saja hingga muncul Meira (Cut Beby Tshabinacredited in the movie as Beby Tshabina) yang mulai dekat dengan Roman. Mengikuti instingnya, Wulan pun bertolak ke Belanda menyusul Roman. Bisa ditebak, ia dan Meira mulai bersaing untuk memenangkan hati Roman, yang sebenarnya sudah punya pilihannya sendiri.

Ditulis oleh Haqi Achmad yang memang sudah berpengalaman di genrenya, Rompis mengalir dengan lancar di atas penyutradaraan Monty Tiwa yang ternyata terasa sangat energik men-tackling ranah sedikit berbeda dari film-film yang biasa disutradarainya. Genre romcom mungkin sudah berderet di filmografi Monty, namun biasanya lebih bermain di ranah pasca-remaja/sekolahan yang serba lebih dewasa, Rompis benar-benar seperti membawanya ke sebuah energi baru yang terasa sangat fresh.

Di tangan Monty, dialog-dialog yang sebenarnya lebih dahulu mengetengahkan sosok remaja puitis jauh sebelum Rangga bahkan Dilan ini, hanya saja dalam level-level detil yang berbeda, bisa mengalir begitu menggemaskan, tanpa sekalipun terasa canggung atau mengganggu. Tak pula harus terikat dengan adaptasi versi 1980-nya dalam gambaran detil karakter, ataupun susah-payah menghindari elemen-elemen klise di genre-nya, namun yang sudah menyaksikan film lawas itu bisa tahu, ada respek yang tetap dipertahankan dan dibawanya  ke versi baru ini. Lihat juga salah satu scene terbaiknya di awal film yang memperkenalkan dua karakternya dengan begitu kuat di nafas genre itu (hint: di tengah barisan para siswa).

Dan memang kelebihan dalam sisi penyampaian ini ada pada deretan utama cast-nya. Muncul sebagai kekuatan utama Rompis lewat chemistry luar biasa dan sangat hidup yang mungkin sudah terbangun sejak penggarapan sinetronnya, keempat aktor muda ini bermain lepas seolah tanpa beban tapi punya sparks di setiap scene yang memuat kemunculan dan interaksi masing-masing. Arbani Yasiz, aktor muda potensial yang sayangnya selama ini belum pernah mendapat vehicle yang tepat di film-film layar lebar seperti Heartbeat dan Surat Untukmu kini membuktikan ia sangat layak diperhitungkan di deretan A-list young actors kita.

Sementara Cut Beby Tshabina, aktris belia yang memulai karir lewat sinetron antara lain Anak Menteng lantas muncul berurutan, langsung mencuri perhatian lewat peran-peran singkatnya di layar lebar lewat Susah Sinyal, Dear Nathan, Reuni Z dan Teman Tapi Menikah, juga bermain baik sekali sebagai Meira dengan tatanan rambut pirangnya. Dan Umay Shahab, jebolan Idola Cilik yang sempat muncul di The Tarix Jabrix 2 dan juga Heartbeat – muncul mengisi comic relief di momen-momen komedik yang tepat untuk menambah kemeriahan atmosfer romcom-nya. Namun yang secara mengejutkan tampil dengan sparks paling lepas dalam debut layar lebarnya adalah Adinda Azani sebagai Wulan. Bersama Arbani, Beby dan Umay, Adinda memerankan Wulan dengan gestur yang menggemaskan dan saling mengisi secara seimbang dengan lawan-lawan mainnya. Menekankan bahwa mereka adalah bintang-bintang muda yang patut diperhitungkan di masa depan industri film kita.

Lagi-lagi, ada banyak romcom remaja kita yang tergolong baik, namun yang sepenuhnya menggantungkan kekuatan cast-nya hanya ke jumlah karakter yang minim, tak banyak. Dalam banyak pendekatan serupa yang juga bisa memanfaatkan set luar negerinya dengan efektif, di sini lewat sinematografi Rollie Markiano, kolaborator rutin Monty, Rompis terasa cukup dekat ke Lost in Love, sekuel unofficial Eiffel I’m in Love namun jauh lebih baik dari aslinya yang disutradarai langsung oleh kreatornya, Rachmania Arunita, serta kalau masih ingat, Love in Perth produksi MD yang hingga saat ini masih jadi karya Findo Purwono HW paling baik di antara film-filmnya yang lain.

Namun Rompis, dalam segala sisi, termasuk dari sematan komposisi scoring Andi Rianto yang melodius dan mengisi atmosfer romantisnya dengan pas – seperti apa yang dilakukannya di salah satu piece terbaiknya di Critical Eleven, tetap jadi salah satu yang terbaik di genrenya. Dan ini sama sekali bukan karena inovasi macam-macam yang dibawa dalam usaha mendobrak satu sisi elemen di genre itu. Secara mendasar, menjadi satu lagi tata produksi paling rapi dari MNC Pictures setelah Koki-Koki Cilik kemarin, ia cukup hanya berdiri di atas sebuah elemen-elemen biasa, namun meracik semua fusinya menjadi sebuah produk tepat saji yang sangat enak serta nyaman buat dinikmati. Seperti titik lintas genrenya, komedinya bekerja di tengah atmosfer romansa yang diistilahkan banyak audiens sekarang, bikin baper. Hit all the right notes with total charm and electrifying chemistry, a delightful romcom that thoroughly will leave the smile on you. Cantik sekali! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter