Home » Dan at The Movies » MILE 22 (2018)

MILE 22 (2018)

MILE 22: HAD PROBLEMS, BUT STILL SERVES ITS PURPOSE AS A MEAN-HITTING SPY-ACTION FLICK

Sutradara: Peter Berg

Produksi: STX Films, Huayi Brothers, 2018

Image: teaser-trailer.com

Tanpa bisa ditampik, dwilogi The Raid karya Gareth Evans memang punya andil besar membawa nama film Indonesia ke ranah internasional yang jauh lebih luas dari sekadar kelas festival. Khususnya terhadap talenta dan ikon aksi/martial arts baru Indonesia; Iko Uwais, Yayan Ruhian, Cecep Arif Rahman plus Joe Taslim. Sayangnya, memang kiprah mereka masing-masing sampai ke franchise sebesar Star Wars masih sebatas pendukung di porsi yang tak krusial.

Bagusnya, hempasan ombaknya terus berjalan walau Gareth tak lagi berkarya di sini, dan mulai tahun ini, sebelum Yayan dan Cecep yang kabarnya bakal tampil di John Wick 3, Iko mendapat kesempatan besar di film aksi baru karya Peter Berg (Battleship, Lone Survivor, Deepwater Horizon, Patriots Day) ini. Disandingkan bersama Mark Wahlberg di kolaborasi ke-4 mereka, porsinya bukan lagi pendukung tapi lebih ke second lead. Berg pun menyebutkan bahwa Iko merupakan alasan utamanya membuat dan merencanakan Mile 22 sebagai sebuah trilogi.

Melacak keberadaan elemen bom kimia yang gagal mereka amankan di sebuah operasi, satuan black-ops Overwatch yang dikepalai agen James Silva (Mark Wahlberg) bersama timnya; Alice (Lauren Cohan), Sam (Ronda Rousey), di antaranya, terpaksa berurusan dengan mantan pasukan khusus di Indocarr – negara fiktif Asia Tenggara (menggantikan Indonesia di skrip awalnya), Li Noor (Iko Uwais) – yang menyerahkan diri ke kedutaan AS dengan disc berisi informasi yang mereka inginkan. Sebagai imbalannya, Li Noor meminta pengamanan untuk membawanya ke luar. Tanpa mempedulikan tim intelijen yang menyatroni kedutaan untuk melumpuhkan Li Noor yang ternyata menguasai ilmu bela diri, Silva dan timnya pun bergerak cepat mengawal Noor melarikan diri di bawah arahan jarak jauh atasan mereka, Mother (John Malkovich), tanpa menyadari ada konspirasi lain yang menunggu mereka di pengujungnya.

Sebagai sebuah aksi spionase yang terang-terang menjual action, skrip yang ditulis scriptwriter layar lebar debutan Lea Carpenter bersama pengarahan Berg sayangnya tak sepenuhnya cermat menggelar premis yang walaupun klise namun berpotensi menggelar aksi dan ketegangan di sepanjang perjalanannya. Dialog yang terlalu cerewet dan overkill, pengisahan maju mundur hingga pilihan-pilihan teknis dengan shaky cam yang seringkali mengganggu pace dan berkejaran dengan ritme aksinya membuat Mile 22 kerap terasa cukup melelahkan dalam durasi singkatnya.

Selain itu, usaha Carpenter menyelipkan latar belakang bangunan karakter-karakternya pun tak bisa memberi efek apa-apa. Sebagai lead, karakter Wahlberg terlihat ingin dibentuk sebagai agen tangguh tanpa kompromi namun sering terpeleset di bangunan empati kita sebagai pemirsanya. Lantas sedikit latar konflik keluarga di karakter Cohan pun gagal mengisi potensi emosinya. Keputusan atas latar nama fiktif Indocarr dengan penggunaan bahasa Indonesia dan beberapa elemen yang mengarah ke sana namun seperti biasa agak dirusak dengan pemilihan nama-nama yang lebih terdengar aneh di film-film joint venture kita, juga kerap terlihat tak konsisten.

Sementara aksi Iko Uwais yang jadi jualan utamanya juga tak sepenuhnya tergarap sebaik yang diharapkan, paling tidak dari yang sudah kita lihat dari trailer dan promo-promonya. Bukan koreografi yang ikut digarap Iko tak bagus, pun sama sekali bukan tak ada adegan-adegan aksi yang kasar, sadis dan cukup menghentak. Iko bahkan bisa meyakinkan semua pemirsanya bahwa dirinya sangat layak disandingkan bersama nama-nama internasional ini. Namun selain terasa banyak ditahan terlebih di bagian klimaks yang lebih banyak berganti fokus ke Lauren Cohan – mungkin di balik alasan bahwa Mile 22 hanyalah bagian pembuka, pilihan-pilihan teknis tadi hanya menyisakan satu adegan aksi hebat Iko yang cuplikannya sudah pula kita saksikan di trailer.

Padahal, secara berbeda, Mile 22 yang diproduksi bersama oleh STX Films AS dan Huayi Brothers dari China ini punya potensi besar sebagai film aksi dengan cakupan internasional dengan deretan ansambel yang terisi secara variatif. Dari AS ada Mark Wahlberg, Lauren Cohan dari serial The Walking Dead, Ronda Rouseywrestler dan MMA artist wanita yang sebelumnya sudah kita lihat di beberapa film aksi hingga aktor senior John Malkovich dan Berg sendiri, yang bermain singkat, lama setelah ia beralih dari aktor menjadi sutradara Hollywood handal. Lantas selain Iko Uwais dari Indonesia, ada pula aktris/penyanyi Korea Lee Chae-rin bernama panggung CL dan aktris berdarah India Poorna Jagganathan yang selain dikenal lewat serial The Night Of pernah juga bermain di film Bollywood Delhi Belly. Terakhir, menambah potensi aksinya, juga ada aktor AS berdarah Vietnam Sam Medina yang sudah banyak tampil di film-film aksi dari Machete Kills ke Kickboxer: Retaliation. Sayangnya sebagian besar nama-nama ini tak dimanfaatkan dengan baik.

Begitupun, masalah yang cukup banyak ini tak sampai menenggelamkan Mile 22 menjadi sebuah film aksi yang sepenuhnya gagal. Tentu di luar aksi Iko di balik sepenggal twist yang menyisakan rasa penasaran ke kelanjutannya, masih ada Wahlberg, Cohan dan Rousey, yang paling tidak masih menawarkan sesuatu yang lebih dalam keseluruhan kemasannya. Ini bukan tak seru, hanya saja, tak benar-benar maksimal. It had problems, but still serves its purpose as a mean-hitting spy-action flick. Mudah-mudahan sekuelnya bisa jauh lebih baik dari ini, dan untuk kiprah talenta sekelas Iko yang potensial sekali mendobrak pencapaian lebih dari The Raid, jelas kita tetap bersedia menunggu. (dan)

 

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter