Home » Dan at The Movies » THE NUN (2018)

THE NUN (2018)

THE NUN: THE CONJURING UNIVERSE GOES ON A FUN ADVENTURE-FANTASY RIDE

Sutradara: Corin Hardy

Produksi: New Line Cinema, The Safran Company, Atomic Monster, Warner Bros, 2018

Image: impawards.com

Sebut beberapa franchise horor paling sukses dalam dekade ini, tentulah ada The Conjuring di dalamnya. Kreasi sutradara James Wan dan produser Peter Safran ini memang tak main-main dalam konsepnya. Sekilas ia boleh jadi terlihat hanya sebagai horor bagus yang bermain di atmosfer kuat, tapi lihat lebih lagi, ia menyimpan potensi pengembangan universe di atas jualan potensial yang bertolak pada variasi karakternya untuk tujuan itu.

Setelah Annabelle, karakter biarawati iblis bernama Valak di The Conjuring 2 dan Annabelle: Creation, tanpa bisa dipungkiri, memang sangat ikonik dan menarik perhatian banyak orang. Kita, sebagai penonton dan sebagian besar fans-nya juga tahu kalau sewaktu-waktu Valak bisa diangkat menjadi spin off , walau sosoknya berada di balik kehebohan tawa atas salah satu gelaran jump scare terbaik di sekuel itu. So, memang tak ada yang terlalu mengejutkan ketika mereka mengumumkan bahwa The Nun, proyek inisial dari spin off subsekuen itu akan meluncur tahun ini. Isinya juga jelas bergerak ke kisah origin dalam pengembangan universe tadi sebagai sebuah spin off sekaligus instalmen ke-5 dalam keseluruhan semesta franchise-nya.

Bertolak dua setengah dekade sebelum apa yang kita saksikan dalam The Conjuring, kematian tak wajar seorang biarawati di sebuah biara terpencil di Rumania membuat Vatikan mengirim Pastor Burke (Demián Bichir) untuk menyelidiki apa yang sebenarnya tengah terjadi di sana. Investigasi ini juga melibatkan Irene (Taissa Farmiga; adik Vera Farmiga), seorang biarawati muda dan seorang pemuda lokal Frenchie (Jonas Bloquet) di mana mereka akhirnya menemukan ada sebuah kekuatan jahat di balik sosok mengerikan yang menunggu mereka di pengujungnya.

Tak ada mungkin yang terlalu spesial dari skrip yang ditulis oleh Gary Dauberman, penulis spin off Annabelle dan sekuelnya, selagi sutradara Corin Hardy juga belum punya track record banyak kecuali karya debutnya di 2015 yang juga bergenre horor, The Hallow. Selain soal horor dengan latar biara Katolik kuno sudah berulang kali muncul, kisah-kisah asal-usul makhluk iblis yang terkait dengan kepercayaan kuno juga sudah menjadi elemen klise di genrenya.

Namun Wan dan Safran sebagai duo kreatornya memang tahu kekuatan franchise ini ada di mana. Mereka dengan mudah membaca keinginan penonton dan membangun karakter-karakter potensial tadi untuk dikembangkan lebih jauh dalam sebuah semesta franchise. Triknya tentulah ada di konsep diversifikasi pendekatan yang jelas tak boleh menyerupai satu sama lain tapi tetap punya benang merah untuk kesinambungan keseluruhannya. The Nun, dalam hal ini agaknya memang tak sepenuhnya mengandalkan horor untuk menegaskan unsur-unsur pembedanya, walau jelas punya resiko buat yang mengharapkannya tampil luar biasa seram seperti film induknya. Mungkin juga mereka juga menyadari bahwa eksposur berlebih terhadap sosok Valak (tetap diperankan Bonnie Aarons) selama ini memang sudah bukan lagi sesuatu yang benar-benar menakutkan bagi semua pemirsanya, tapi lebih membidik rasa penasaran ke kisah asal-usul dan penjelasan lainnya.

Menggerakkan diversifikasi racikan subtema itu, Dauberman dan Hardy memilih untuk melarikan konsep horornya ke genre adventure-fantasy dengan konsep baku yang sudah banyak dipakai di genre sejenis dari Indiana Jones, The Mummy hingga pengikut-pengikut dan epigonnya. Bichir, Farmiga dan Bloquet yang bermain baik terutama Bloquet sebagai Frenchie yang sangat mencuri perhatian di tengah keduanya, jelas menjadi trio dengan konsep karakterisasi yang ada di film-film tadi; jagoan utama yang biasa paling pintar dan mengandalkan otak sebagai sentralnya didampingi satu karakter wanita – seringkali adalah seorang heroine, serta satu comic relief buat pelengkap namun biasanya bisa mencuri perhatian. Hanya saja, di sini, misi klise pencarian harta karun yang biasa juga menyenggol kepercayaan kuno melibatkan observasi makam dan situs-situs arkeologi rahasia, dipoles kental ke arah horor bernuansa gothic dengan lawan-lawan monster yang lebih terang-terang mengarah ke supranatural melebihi resep yang sama dengan elemen mirip seperti The Mummy.

Meski pendekatan fun adventure ride ini di satu sisi bisa jadi akan mengecewakan penonton yang mengharapkan gelaran horor se-horor-horornya, Hardy tetap menahan atmosfer gothic itu sebagai fondasi cukup kuat terutama di prolog dan dua act pertama sebelum akhirnya menggila di klimaks yang memang walau tetap dipenuhi jump scare lebih terasa fun dan seru ketimbang menyeramkan. Paling tidak, ada satu nyawa utama franchise-nya yang tetap mereka pertahankan; bahwa The Conjuring universe memang hidup melalui jualan karakter ikonik dari instalmen-instalmennya untuk dikembangkan sebagai spin off secara berkaitan. Yang paling kuat menyimpan potensi spin off lagi, tentulah karakter bernama Daniel (diperankan August Maturo), dan tentu masih ada hint dan benang merah dalam penjelasan koneksi-koneksinya lewat karakter yang sudah kita kenal sebelumnya.

Di tengah penggarapan teknis yang juga jelas tak kalah dari instalmen-instalmen franchise-nya – di mana The Nun jauh bermain lebih kuat di set dan desain produksi ketimbang The Conjuring dan Annabelle yang cukup mengedepankan keluarga dan selusur rumah, lagi-lagi resepsinya akan kembali kepada apa yang diharapkan penonton ketika datang menyaksikan filmnya. The Nun memang tak seseram pendahulu-pendahulunya walau masih setingkat di atas Annabelle pertama, apalagi Annabelle: Creation juga sudah bergerak ke arah fun horror ride, tetapi sebagai instalmen yang menawarkan pengalaman berbeda di atas gabungan lintas subgenre yang masih punya benang merah kuat ke induknya, ia tak bisa dipungkiri sudah menunaikan tugasnya dengan lebih dari sekadar baik. Kenapa tak coba nikmati saja permainannya? (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter