Home » Dan at The Movies » THE PREDATOR (2018)

THE PREDATOR (2018)

THE PREDATOR: A SLAM BANG, GENRE-BENDING TREAT THAT THROWS YOU BACK TO THE ‘80S, SHANE BLACK’S WAYS

Sutradara: Shane Black

Produksi: 20th Century Fox, Davis Entertainment, 2018

Image: impawards.com

Tak ada pasti yang menyangkal bahwa Predator (1987) karya John McTiernan yang dibintangi Arnold Schwarzenegger adalah sebuah cult classic, juga sangat layak menjadi creature-feature franchise dengan semesta spesies alien yang dinamakan Predator. Sayangnya, berselang lebih 20 tahun – instalmen-instalmen pengikutnya memang belum berhasil menaikkan statusnya untuk bisa bersanding sejajar dengan produk cross-universe-nya yang sudah berjumlah dua film di luar 6 solo franchise; Alien.

Berbagai formula sudah dicoba seperti membawa terornya ke kota di atas sebuah action thriller polisi – Predator 2 (1990) ataupun resep sama namun bagai kurang darah di Predators (2010). Dalam rentang cukup panjang, kini giliran Shane Black, sineas yang dikenal sebagai master of buddy movies dari film-film macam Lethal Weapon, The Last Boy Scout, The Long Kiss Goodnight hingga Iron Man 3 dan terakhir The Nice Guys, di antaranya. Setelah cukup lama tertahan sejak 2014 dan tampilan foto ansambel yang sudah dirilis lebih dari setahun lalu, visi Black terlihat tak jauh dari Predator 2 kala teaser dan trailer-nya dirilis. Tapi tentu tak ada yang tahu sampai The Predator akhirnya dirilis.

Bersama Fred Dekker, penulis veteran yang sudah berkolaborasi dengannya di The Monster Squad, juga menyutradarai Robocop 3, Black ternyata membawa awal The Predator ke atmosfer film pertamanya. Di sebuah hutan perbatasan Meksiko, para Predator yang kembali menginvasi bumi membantai tim militer yang tengah bertugas di sana. Pemimpin mereka, Quinn McKenna (Boyd Holbrook) berhasil menyelamatkan diri dan mengamankan teknologi alien yang kemudian dikirimkannya ke putra kecilnya, tech-geek introvert Rory (Jacob Tremblay) tanpa menyadari hal ini membuatnya diciduk oleh dinas rahasia pemerintah yang lantas mengamankannya bersama sekelompok serdadu bayaran nyeleneh penderita PTSD.

Sementara, satu Predator yang tertangkap tengah mengamuk melarikan diri dari lab penelitian ahli biologi Dr. Casey Brackett (Olivia Munn) yang juga direkrut oleh dinas rahasia yang dikepalai oleh Will Traeger (Sterling K. Brown) itu. Casey yang terpaksa bergabung dengan McKenna dan para serdadu bayaran tadi pun harus menghadapi amukan para Predator yang ternyata tengah berseteru dan mengarah ke sebuah kota kecil di tengah perayaan Halloween, menjadikan Rory sebagai sasarannya.

Berdiri di atas gaya Shane Black yang sangat khas dan kali ini mengarahkan instalmen Predator ke atmosfer ‘80an, The Predator memang mengikuti trend yang kini tengah sangat diminati banyak penonton-penonton film Hollywood. Trivia dan homage ke pola film-film mercenary action old skool ‘80an di mana sekelompok jagoannya beraksi di pinggiran kota kecil seperti Let’s Get Harry ataupun The Annihilators membalut campur aduk idenya dengan menarik, dan masih ditambah lagi dengan racikan lintas genre lain termasuk latar Halloween dari The Monster Squad dan scifi keluarga dari Disney yang sejak lama disebut-sebut memiliki kesamaan konsep bentuk dengan alien tech yang diusung Predator; Flight of the Navigator. Namun yang paling menarik, atmosfer ‘80an itu benar-benar digelar secara sangat kental dari keseluruhan look termasuk sinematografi dari Larry Fong, adegan-adegan aksi yang terkesan serba small scale ke eranya dengan tambahan gore visuals hingga komposisi score dari Henry Jackman.

Di fokus utamanya, aktor muda Boyd Holbrook yang pertama kali mencuri perhatian dalam thriller Run All Night (2015)-nya Liam Neeson, dipasang Black dengan impersona Michael Dudikoff di film-film aksi ‘80an dan jaket militer-nya termasuk satu yang paling dikenal – American Ninja, bersama Olivia Munn yang mengikuti trend heroine di genre sejenis sekarang ini. Tetap tak meninggalkan nafas buddy movie, komposisinya dilipatgandakan pula dengan padu-padan pasangan karakter dalam pola aksi-reaksi mereka. Trevante Rhodes dipasangkan bersama Holbrook bak Michael Dudikoff dengan Steve James, Munn bersama Augusto Aguilera dan Thomas Jane bersama Keegan-Michael Key di porsi comic relief-nya. Masih ada pula benang merah ke Predator 2 dari kemunculan singkat Jake Busey dengan hint ke karakter Peter Keyes yang dulu diperankan ayahnya, Gary Busey. Black bahkan masih membuka kemungkinan ekspansi semestanya ke arah creature-feature ala Cujo (1983) atau pengikutnya yang memasukkan sisi teknologi macam Man’s Best Friend (1993) serta di pengujungnya, robotic suit scifi yang lagi-lagi tak jauh dari Flight of the Navigator, serta bagi Dekker – jelas Robocop.

Mau tak mau, high concept seperti ini memang harus berhadapan pada resiko-resiko segmentasi pemirsanya. Yang pertama, guliran aksi yang kerap mengarah ke sempalan komedi ala Black tetap tak bisa menghindar dari slam bang third act yang tak bisa tidak harus tetap berpegang ke pakem franchise-nya dalam konteks hitungan karakter penyintas. Sementara yang kedua, tentulah tak semua penonton bisa mengenali tiap trivia dan homage serba vintage yang digelar Black dan Dekker ke tengah-tengah arena permainan mereka, dan yang ketiga, meski memunculkan subspesies-subspesies baru Predator beserta teknologinya, ini mungkin masih belum terasa cukup buat penonton yang lebih mementingkan latar mereka ketimbang karakter manusia sebagai pendampingnya.

Begitupun, meski mungkin masih agak jauh menyebutnya benar-benar berevolusi, apa yang dilakukan mereka adalah sebuah keberanian tinggi terhadap franchise-nya, termasuk menggabungkan dua pola latarnya, hutan dan kota. For those who dig every single one of those trivias, melempar kita kembali ke hiruk pikuk genre dan atmosfer ‘80an, The Predator jelas merupakan instalmen terbaik setelah film pertamanya. Lagi-lagi, hasil BO-nya lah yang nanti akan menentukan apakah franchise ini akan berlanjut atau kembali tertahan seperti sebelumnya. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)