Home » Dan at The Movies » PEPPERMINT (2018)

PEPPERMINT (2018)

PEPPERMINT: GARNER ROCKS, BUT JUST AIN’T ENOUGH

Sutradara: Pierre Morel

Produksi: Lakeshore Entertainment, STX Films, 2018

Image: impawards.com

Tema-tema vigilante jelas bukan hal baru lagi di Hollywood. Dari pionirnya, Death Wish – ke banyak pengikutnya, ini memang salah satu pakem film aksi yang masih dibuat hingga sekarang, dengan berbagai polesan tambahan sebagai pembedanya. Peppermint yang sedikit banyak terasa sebagai penggabungan antara Death Wish dan The Equalizer/The Punisher kini membawa dua nama yang sudah cukup layak menjadi jaminan buat genre-nya. Sutradara Perancis Pierre Morel dari Taken, District 13 dan From Paris with Love – dan Jennifer Garner yang kembali ke genre aksi.

Kehidupan bahagia Riley North (Garner) seketika diluluhlantakkan saat ia dan keluarganya menjadi korban kekejaman sindikat narkoba Diego Garcia (Juan Pablo Raba) atas sebuah rencana perampokan yang urung dilakukan suaminya, Chris (Jeff Hephner). Menempatkan Riley dalam luka parah, kehilangan Chris serta putri kecil mereka bahkan ketidakadilan yang membebaskan para pembunuhnya, ia pun memilih menghilang secara misterius untuk akhirnya kembali tepat di hari peringatan kematian keluarganya 5 tahun kemudian untuk membantai satu-persatu orang yang terlibat dalam kasus itu. Sepak terjangnya membela keadilan lantas bukan saja mulai menarik perhatian masyarakat, tapi juga polisi dan FBI yang siap meringkusnya.

Jelas tak salah menempatkan Jennifer Garner dalam film-film seperti Peppermint. Sempat bermain di sejumlah film-film drama kecil, Garner yang dulu dikenal cukup ikonik sebagai bintang aksi wanita lewat serial Alias, Daredevil versi Ben Affleck dan spin off-nya – Elektra, juga thriller perang The Kingdom, ia memang memiliki postur serta gestur meyakinkan untuk beraksi di genre seperti ini. Sebagai sutradara, Pierre Morel juga sudah punya cukup kredibilitas sejak Taken yang memicu trend geriatric action dan menjadi inspirasi banyak film sejenis.

Sayangnya, skrip yang ditulis oleh Chad St. John (London Has Fallen) tak cukup cermat merangkai plot vigilante/revenge thriller dan pendekatan superhero yang membumi tadi untuk berjalan konsisten hingga akhir. Setup yang sudah dibuka dengan baik sekali sejak awal dan kian terasa menarik ketika skrip serta penyutradaraan Morel mulai melakukan pendekatan elemen-elemen superhero secara simbolik seperti yang sudah kita lihat di The Equalizer 2 atau The Punisher ditambah banyak aspek dari ketimpangan hukum, korps korup hingga pengaruh medsos, mulai menurun menuju pertiga akhir yang lantas tak membawa elemen-elemen bagus itu lebih jauh selain hanya sebatas menyentuh permukaan.

Tempo cepat diiringi level kesadisan cukup tinggi ala Morel itu juga terasa sangat terdistraksi dengan keputusan St.John mengalihkan bagian klimaksnya secara berlawanan dengan bangunan-bangunan karakternya di duapertiga film. Membalik Riley ke gambaran yang seakan ingin terlihat lebih realis dan meracik twist-twist kurang relevan dan sebenarnya tak juga diperlukan termasuk ke karakter-karakter sampingan yang sebenarnya diperankan dengan baik oleh John Gallagher, Jr. dan John Ortiz, Peppermint akhirnya terjebak di bagian pengujung yang mengecewakan.

Tak ada sebenarnya masalah bagi tipe-tipe film aksi dalam konteks hiburan tanpa kedalaman, apalagi Peppermint punya Garner dan Morel sebagai bumper jualan terdepannya. Ia bahkan masih punya potensi buat berlanjut menjadi franchise aksi baru. Hanya saja, secara keseluruhan, Peppermint tak bisa tampil lebih dari sekadar hiburan. Sayang sekali. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter