Home » Dan at The Movies » CRAZY RICH ASIANS (2018)

CRAZY RICH ASIANS (2018)

CRAZY RICH ASIANS: NOT JUST ANOTHER CINDERELLA STORY – A FLASHY, DAZZLING MODERN LOVE FAIRY TALE

Sutradara: Jon M. Chu

Produksi: SK Global Entertainment, Starlight Culture Entertainment, Color Force, Ivanhoe Pictures, Electric Somewhere, Warner Bros., 2018

Image: impawards.com

Ada pertanyaan yang tak bisa terjawab, mungkin – mengapa genre romcom ditinggalkan Hollywood masa kini. Menyisakan hanya segelintir yang biasanya langsung tergerus rating dan angka BO jelek, Crazy Rich Asians ternyata bisa mengubah semua sejak awal dengan ekspektasi tinggi dari hampir semua pihak. Salah satu pemicunya tentulah popularitas source material-nya, novel berjudul sama karya Kevin Kwan, yang hadir dengan elemen subkultural keluarga Asia berlatar Singapura ke pasar Amerika – kemudian dunia, yang tengah getol-getolnya dengan representasi diversitas.

Memenuhi ajakan sang kekasih – Nick Young (Henry Golding), menemaninya pulang ke Singapura untuk menghadiri pernikahan sahabat Nick – Colin Khoo (Chris Pang) dan Araminta Lee (Sonoya Mizuno), seorang profesor ekonomi Amerika berdarah Cina Rachel Chu (Constance Wu) tak menyangka bahwa Nick yang selama ini dikenalnya sebagai pria sederhana ternyata merupakan pewaris mahkota salah satu keluarga terkaya di kampung halamannya. Proses pengenalannya ke segenap keluarga Nick, khususnya sang ibu, Eleanor Sung-Young (Michelle Yeoh) berjalan alot karena Eleanor ternyata tak menerimanya seperti yang diharapkan. Sempat bertahan dan kemudian mulai putus asa, Rachel akhirnya menolak untuk kalah telak dan memilih memainkan strategi perangnya menghadapi Eleanor atas nama cinta.

Diangkat ke layar lebar oleh sutradara Jon M. Chu (Step Up 2 & 3 – lupakan G.I. Joe: Retaliation) lewat skrip Peter Chiarelli yang sudah berkolaborasi dengan Chu di Now You See Me 2 bersama Adele Lim, tentulah ini tak sedetil novelnya, melainkan dipindahkan secara sangat sinematis dalam durasi 2 jam. Nanti dulu soal representasi yang walau bagi sebagian boleh jadi dianggap mewakili etnis Cina dan ragam-ragam yang dibahas dalam novelnya dari ABC (American Born Chinese) ke Cina peranakan Singapura-Malaysia, namun tak seperti The Joy Luck Club (1993) karya Wayne Wang sebagai perbandingan terdekatnya, Crazy Rich Asians sebenarnya kebanyakan dikemas secara sangat komikal bahkan sering terpeleset ke ranah mocking di bangunan karakter dalam pengejawantahan eksistensinya sebagai sebuah romcom serba meriah. Premisnya pun bukan lagi sesuatu yang baru dan sudah berulang kali diangkat dalam pakem-pakem Cinderella Story berbeda latar.

Begitupun, Chu dan timnya tak main-main dalam sematan-sematan filsuf kulturnya, yang dimuat Kwan dalam novel itu. Chiarelli dan Lim, dalam hal ini, bekerja dengan sangat cermat menuangkan sisi ini. Di permukaan teratasnya, yang bisa jadi sangat terlihat adalah soal cinta putri miskin dan pangeran kaya terhalang tradisi keluarga dengan segala adat dan kepercayaan yang membenturkan budaya Cina tradisional dengan Cina modern di bawah pengaruh kultur barat.

Tapi lihat apa yang mereka lakukan lewat penggunaan simbolisasi seperti pisang – kuning di luar, putih di dalam dan pemilihan lagu-lagu yang terentang dari klasik pop Cina Teresa Teng, Material Girl-nya Madonna versi Sally Yeh ke hit Coldplay, Yellow – yang dinyanyikan Katherine Ho dalam versi bahasa Cina. Lantas juga tradisi perayaan bunga mekar, makanan-makanan khas Cina Singapura guna menjelaskan tradisi hingga adegan terkuat soal Mahyong yang intensitasnya sudah menyamai final battle di film-film di luar genre romcom. Di dasar terdalamnya, selain bicara soal kekukuhan tradisi konvensional etnisnya – mereka juga sebenarnya tengah membahas esensi soal strata kalangan atas etnisnya ke sebuah pepatah Cina kuno yang sangat dikenal – Tian Shang You Tian (天上有天) yang artinya di atas langit masih ada langit.

Untungnya pula, dalam segala sisi penggarapannya, Chu dan timnya benar-benar mengikuti konteks persembahan visual yang esensial dan sejalan dengan kata ‘kaya’ di judul tersebut. Desain produksinya, dari garapan set, artistik ke kostum dan tata rias, dikemas dengan detil-detil nyaris seperti sebuah fairy tale, membuat dongeng Cinderella itu tergelar luar biasa mewah, cantik dan penuh kilau lewat sinematografi Vanja Cernjul dan komposisi scoring Brian Tyler dalam level sebanding dengan apa yang dilakukan James Newton Howard dalam modern romcom klasik Pretty Woman (1990) dulu.

Sama-sama menjual mimpi banyak orang di atas ingredients serupa, namun kekuatan terbesarnya ada di kepiawaian cara masak berbeda dengan banyak film-film sejenis – membuat sajian akhirnya terhidang bak sebuah keajaiban sinematis dalam pitch level yang tak sedikitpun lari, menghantam emosi dan kekuatan rasa yang diharapkan audiensnya. Di sini juga, Crazy Rich Asians menemukan senjata ampuhnya lewat pemilihan cast yang brilian tanpa harus menjual terlalu banyak aktor yang punya nama, tapi bekerja seperti bahan-bahan masakan yang saling berinteraksi menyajikan kelezatan di keseluruhan kemasannya.

Sebagai Nick dan Rachel, Henry Golding dan Constance Wu bermain luar biasa memukau dengan persona dan chemistry mereka masing-masing. Golding yang merupakan aktor dan model berdarah Inggris-Malaysia dan dikenal sebagai presenter acara BBC The Travel Show menokohkan Nick dengan segala gestur dan sparks yang tepat, sementara Wu, aktris Amerika berdarah Taiwan tampil sebagai Rachel dengan sensitivitas akting tak main-main untuk menerjemahkan rentang tipis tangguh dan rapuhnya secara benar-benar gemilang.

Masih ada dukungan bagus dari Gemma Chan sebagai Astrid Leong, sepupu Nick yang bisa membawa subplot karakternya sebagai distraksi terkuat membuat kita begitu peduli dengan Astrid, aktris senior legendaris Lisa Lu serta komedian berdarah Asia – Awkwafina dan Ken Jeong di porsi komikal yang selalu hadir di tengah ketepatan timing. Namun satu lagi faktor terbaik yang dimiliki deretan cast Crazy Rich Asians ini tentulah Michelle Yeoh. Berkali-kali, bersama Constance Wu sebagai contender sebandingnya, keduanya bermain dengan kekuatan akting lewat sorot dan tatapan mata, memicu emosi penonton buat benar-benar masuk ke tengah perseteruan karakter calon istri dan calon mertua ini.

Lagi, Crazy Rich Asians memang tak berdiri di atas elemen-elemen baru kecuali soal eksplorasi kultural yang bukan juga kelewat representatif dalam artian sebenar-benarnya. Tetap menerjemahkan elemennya lewat pameran rumah, mobil, kostum mewah, ia bahkan terang-terang menepis wilayah Indonesia lewat salah satu adegan yang menjelaskan batas etnis kaya tujuh turunan ini hanya sampai Singapura/Malaysia. Namun Chu dan timnya, yang tampak sangat menyadari itu dan tak pernah terlalu mencoba untuk keluar dari segala pakem dan tropes genre-nya memang punya amunisi jauh lebih ampuh untuk membuat persembahan mereka bekerja luar biasa baik bahkan bukan tak mungkin membawa trend genre romcom bangkit kembali di Hollywood.

Instead, mereka membidik ketepatan momentum dalam tiap sisi cara pengolahan dan racikannya, termasuk mengalihkan segala detil-detil simbolisasi di klimaks permainan mahyong soal timur dan barat untuk penonton yang mungkin tak sepenuhnya paham, ke sebuah arena perang simbolik penuh hati yang tak bisa tidak akan membuat mata kita tetap basah berkaca-kaca untuk berlanjut ke scene di atas pesawat yang dikemas dengan pengaturan timing sangat taktis. Tak peduli scene penutupnya tak lagi semegah salah satu adegan terindahnya, wedding scene di atas set gereja bak ladang padi terendam air yang hadir sebelumnya atau karakter-karakter berbaikan saling berpelukan, kita tahu bahwa sebuah kemenangan hati memang butuh konsekuensi. Flashy, lavishdazzling dan tak pernah sekalipun kehilangan hati, Crazy Rich Asians benar-benar menyajikan rasa yang sama seperti kala kita menyaksikan Pretty Woman buat pertama kali dahulu. Ini keajaiban, dan tak selamanya bisa terulang. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter