Home » Dan at The Movies » JOHNNY ENGLISH STRIKES AGAIN (2018)

JOHNNY ENGLISH STRIKES AGAIN (2018)

JOHNNY ENGLISH STRIKES AGAIN: A NONSTOP LAUGH-FEST OVER A TRADITIONAL MR. BEAN JOKES

Sutradara: David Kerr

Produksi: StudioCanal, Working Title Films, Perfect World Pictures, Universal Pictures, 2018

Image: impawards.com

Tak seperti di Eropa termasuk Inggris sebagai negara asalnya, dan Asia termasuk Indonesia, karakter Mr. Bean yang dipopulerkan Rowan Atkinson memang tak seakrab itu untuk penonton Amerika. Karena itu, ia juga masih butuh jalan untuk menaklukkan Hollywood. Versi layar lebar Bean the Movie/The Ultimate Disaster Movie yang merupakan joint venture Inggris-Amerika di tahun 1997 memang berhasil mencetak BO 250 juta dolar AS tapi di domestik Amerika, tak juga terlalu tinggi. Sempat bermain dalam ansambel komedi Rat Race, sekuelnya, Mr. Bean’s Holiday di tahun 2007 juga kurang lebih sama.

Mencoba formula baru dalam spy spoof ala James Bond, Johnny English yang dilepas tahun 2003, berlanjut ke sekuel Johnny English Reborn di 2011 – BO totalnya tetap lebih mengandalkan worldwide ketimbang domestik AS – padahal sebenarnya pendekatan komedinya sudah jauh lebih menyesuaikan diri, melangkah meninggalkan lawakan tradisional Atkinson aslinya ke arah yang lebih serba Amerika. Mungkin tradisi komedi Amerika dengan Eropa memang jarang sekali menemukan titik tengahnya, tapi paling tidak, nama Rowan Atkinson dan Mr. Bean jelas sudah jauh lebih dikenal di sana.

So, dengan BO worldwide Johnny English Reborn yang masih cukup tinggi, tentu tak ada alasan untuk tak melanjutkannya lagi. Walau butuh lagi-lagi waktu relatif cukup lama, dari 2011 ke 2018, instalmen ketiga ini tampaknya sudah tak lagi memikirkan proses-proses penyesuaian itu. Tetap dipegang oleh duo produser yang sama – Tim Bevan dan Eric Fellner dari Working Title Films plus Chris Clark dari film keduanya, dan penulis William Davies yang sudah ikut di keseluruhan franchise-nya, Johnny English Strikes Again mengikuti banyak trend back to basic dengan selipan-selipan homage yang tengah marak sekarang. Johnny English di sini tak ubahnya seperti Mr. Bean yang kita kenal dengan lawakan tradisionalnya, dan rasanya, itu memang pilihan bagus untuk memicu urat tawa penontonnya.

Seperti pakem film spy biasanya, Johnny English Strikes Again dimulai dengan serangan cyber misterius yang mengekspos semua identitas agen rahasia MI7. Satu-satunya pilihan yang tersisa untuk mengungkap kasus ini adalah Johnny English (Rowan Atkinson) yang kini sudah pensiun dan beralih profesi menjadi seorang guru walau masih terobsesi dengan kerjaannya terdahulu, itu pun setelah tanpa sengaja ia melumpuhkan tiga agen pensiunan lain (diperankan oleh 3 aktor Inggris kawakan sebagai gimmick guest appearance menarik; Edward Fox, Charles Dance dan Michael Gambon). Kembali bermitra dengan partnernya, Angus Bough (Ben Miller), English pun menuju hint di atas sebuah yacht bernama Dot Calm. Sempat berseteru dengan Ophelia (Olga Kurylenko) yang belakangan diketahui adalah mata-mata Rusia, sasaran akhir mereka menuju ke seorang milyuner Silicon Valley, Jason Volta (Jake Lacy) yang justru tengah merancang pertemuan G12 dengan perdana menteri Inggris (Emma Thompson) di Skotlandia.

Sebagai bagian dari franchise-nya, tentulah tak ada yang sangat spesial dari skrip Davies. Namun penyutradaraan yang kali ini berpindah ke tangan David Kerr yang biasa menggarap serial-serial TV Inggris, tak seperti Peter Howitt dan Oliver Parker yang sudah lebih punya nama di instalmen-instalmen sebelumnya, justru bisa membawa gaya komedinya jadi terasa sangat fresh dengan kembali ke lawakan tradisional Mr. Bean yang tak perlu banyak omong. Bersama Davies, mereka terlihat cukup cermat merancang setup-setup jenaka dan penuh homage selain ke genre, juga ke gaya Atkinson sendiri.

Dari adegan penyusupan yacht Dot Calm yang dipenuhi kekacauan, dance scene lucu berikut golden scene soal VR (Virtual Reality) yang luar biasa jenaka dan digarap dengan ketepatan comedy timing, Kerr dan Atkinson memang berhasil memberondong penontonnya dengan kelucuan yang hadir nyaris tanpa henti. Pendekatan tradisional dalam banyak sisi berbeda dengan instalmen-instalmen sebelumnya yang bisa jadi terasa lebih wah dalam sisi produksi, justru tampil menyuntikkan kesegaran baru di franchise-nya, sementara Olga Kurylenko juga mengisi perannya sebagai female sidekick Atkinson dengan baik.

Kembali lagi, sebenarnya apa sih yang dicari dalam film-film seperti ini? Jawabannya kembali pada penontonnya sendiri, dan rasanya tak terlalu perlu mengulik rating dan review ini-itu dalam genre-genre sejenis. Sudah jelas, jualan utama – dan mungkin satu-satunya, adalah Rowan Atkinson – yang di sini muncul dengan komedi tradisional Mr. Bean ke depan layar. Selama konten komedinya memang bisa mengundang tawa riuh penonton di bioskop, artinya ia sudah berhasil membidik sasarannya. Bukan lagi soal selera, kalau sudah tahu kurang cocok dengan lawakan ala Mr. Bean tapi masih memaksakan diri untuk nonton dan akhirnya tak bisa menikmati, mungkin itu artinya Anda yang salah. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)