Home » Dan at The Movies » ARUNA & LIDAHNYA (2018)

ARUNA & LIDAHNYA (2018)

ARUNA & LIDAHNYA:  A ROMANCE AND FRIENDSHIP STORY FOR ADULTS THAT COOKED OVER A BIT TOO MANY INGREDIENTS

Sutradara: Edwin

Produksi: Palari Films, 2018

Lama mengisi ranah subkultur film Indonesia lewat karya-karyanya yang diawali beberapa film pendek sebelum beranjak ke feature film di Babi Buta yang Ingin Terbang (2008) dan Kebun Binatang (2012) yang keduanya bukan rilisan bioskop, tahun lalu, ia mencoba beralih ke jalur mainstream lewat Posesif yang meski kontroversial tapi mendapat sambutan cukup baik di perolehan BO sekaligus memberikannya Piala Citra untuk Sutradara Terbaik.

Walau tak lantas meninggalkan segmentasi arthouse dari karya-karya berikutnya termasuk sebuah segmen omnibus yang akan ditayangkan di Tokyo International Film Festival tahun ini, Edwin dengan Palari Films-nya, yang ikut digawangi oleh Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy kembali merambah layar lebar dengan Aruna & Lidahnya yang merupakan adaptasi novel karya Laksmi Pamuntjak.

Ansambelnya pun tak kalah menarik. Mempertemukan kembali Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra, juga ada Hannah Al Rashid. Konsep kisah romansa dan persahabatan dengan 4 karakter dalam ansambelnya memang bukan lagi sesuatu yang baru di atas elemen-elemen karakterisasi mendasar yang mirip-mirip. Baru saja minggu sebelumnya ada Belok Kanan Barcelona, konsep dasar penokohan itu juga berulang lagi di sini. Bahwa ada dua karakter sebagai main couple yang terombang-ambing dalam sebuah hambatan pernyataan cinta dan berada statis sebagai bingkai dalam artian tak beranjak jauh dari titik awalnya, dua karakter lagi, side couple – ini juga kurang lebih digunakan dalam banyak film dari Hollywood misalnya When Harry Met Sally , Bollywood, Asia bahkan lokal – adalah yang berfungsi menggerakkan poros sentral konflik sama yang tak jauh dari soal halangan-halangan pernyataan cinta tadi juga, untuk bergerak jauh lebih dinamis.

Hanya saja, memang dibentuk berdasar source-nya walau kata banyak pembacanya lebih tepat disebut adaptasi lepas, Aruna & Lidahnya punya jauh lebih banyak distraksi untuk mengiringi pengisahannya. Dua elemen terbesar yang menutupi konflik sejatinya sebagai kisah romansa dan persahabatan di pangsa lebih dewasa itu adalah soal kuliner nusantara – lazim disebut foodporn, dan latar belakang yang sebenarnya sangat tak nyambung, soal investigasi kasus flu burung dari dua departemen – Dirjen bagian dari kementrian dan NGO yang memang difiksikan dari novelnya di atas isu global nyata soal flu burung tadi.

Di sinilah sebenarnya, Aruna & Lidahnya dari skrip adaptasi Titien Wattimena – lagi-lagi mengulang banyak kesalahan klasik film kita; kurangnya riset dalam hal-hal yang menyangkut soal keahlian. Lagi-lagi di sini, soal medis. Benar bahwa ia memang menyentil masalah potensi korupsi dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam isu-isu pengadaan prasarana kesehatan, itu berulang kali kita lihat di kehidupan sehari-hari, tapi entah dari sumber aslinya atau tidak yang mestinya bisa diperbaiki dalam konteks skrip adaptasi, penggambaran sistemnya sama sekali jauh dari benar.

Dalam premis yang berkisah soal Aruna (Dian Sastrowardoyo), seorang ahli wabah (epidemiolog; profesi penting yang jarang diangkat dalam film kita dan kenyataannya memang sering berada di bawah radar sebagai bagian dari sistem profesi tenaga kesehatan) yang ditugaskan melakukan investigasi kasus flu burung ke sejumlah daerah oleh NGO One World tempatnya bekerja, dari Surabaya, Pamekasan, Singkawang sampai Pontianak, memanfaatkan perjalanannya untuk bertualang menikmati kuliner. Bergabunglah Bono (Nicholas Saputra), sahabat Aruna sekaligus seorang koki yang tengah ingin mencari inspirasi masakan baru, yang kemudian mengajak Nadezdha/Nad (Hannah Al-Rashid), wanita free-spirited yang sebenarnya sudah lama jadi objek rasa terpendamnya. Di tengah jalan, muncul pula Farish (Oka Antara), mantan rekan kerja Aruna di One World yang sudah lama ditaksirnya namun kini ditugaskan mendampinginya mewakili Dirjen kesehatan P2P tempatnya bekerja sekarang. Perjalanan itu pun terpecah antara makanan, investigasi flu burung dan di ujungnya, tetap – cinta yang terhalang ungkapan perasaan.

Permasalahan utama dalam elemen investigasi soal flu burung yang paling mengganggu datang dari bentukan karakternya sendiri. Seolah Titien, sebagai penulisnya, dan Edwin yang kemudian bertugas menerjemahkannya secara visual –tak benar-benar paham apa dan bagaimana ranah kerja seorang epidemiolog dan darimana seharusnya latar mereka yang harus didasari pendidikan kesehatan akademis bersertifikasi. Ketimbang ahli wabah yang muncul jelas dari salah satu dialog atasan Aruna yang diperankan Deddy Mahendra Desta – Aruna sama sekali tak kelihatan sebagai tenaga medis atau paling tidak sarjana kesehatan masyarakat, malah mengaku kurang tahu soal flu burung lagi-lagi dari dialognya dan lebih terlihat bak seorang freelance NGO biasa yang jelas bukan ranah kerja seorang epidemiologis di lembaga kesehatan resmi. Karakter Farish pun sama, dikisahkan mewakili Dirjen yang walau namanya difiktifkan, seharusnya masih punya tingkatan Dinas Kesehatan untuk tugas-tugas lapangan. Mungkin sebaiknya penyakitnya pun disamarkan. Flu kampret, misalnya, biar sepenuhnya bisa berlindung bahwa ini sepenuhnya fictionalized.

Penggambaran tatanan sistem yang salah kaprah hanya untuk menuju sebuah konflik korupsi di ujungnya, masih diperparah lagi dengan persepsi-persepsi pikir yang seperti pemikiran banyak SJW sekarang bahwa kasus-kasus wabah – yang dikenal dengan istilah KLB (Kejadian Luar Biasa; ada alasan mengapa ia disebut Luar Biasa di bawah perundangan jelas) – terlebih flu burung yang merupakan kasus global, entah memang dari sumber aslinya, seakan menganggap detil-detil soal keahlian ini berupa hal abstrak untuk menempatkan tuduhan bahwa berbagai kejadian merebaknya wabah penyakit adalah semuanya teori-teori konspirasi penuh rekayasa pihak luar untuk mengacaukan tatanan sosial ekonomi negara lain. Toh di sini saya tidak bicara soal flu burung dan jenis strain virus H mana N berapa atau biologi molekuler soal kecenderungan mutasi virus yang akhirnya bisa menyerang manusia, tidak lagi hanya unggas seperti awal penemuannya, untuk tak lagi bisa dibantah.

Tapi dari sisi ini – Aruna & Lidahnya memang benar-benar tampil berantakan kalaupun ada di balik alasan pemuatan distraksi dan subplot, atau bahkan jalan buat Edwin agar lebih leluasa memuat berbagai bentuk simbol, belokan surealis ala arthouse, semiotika atau apalah, dari serangkaian adegan investigasi yang membuat penonton yang paham soal sistem dan berada dalam lingkup kompetensi keahliannya, sampai bisa mengerinyitkan kening dan pusing tujuh keliling soal siapa mereka, data seperti apa yang mereka perlukan dari peternak unggas hingga pasien bagaimana, sampai-sampai berkali-kali ditunjukkan adanya armored field officers. Duh.

Begitupun, kalau kita – atau penonton-penonton yang tak paham betul soal ini, mau mengambil jalan pintas saja, yang entah pada akhirnya punya atau tidak benang merah keterkaitan untuk memicu motivasi akhir para karakternya soal cinta dan makanan yang lebih lezat bila dinikmati bersama orang-orang terdekat, Edwin dan krunya, terutama penata kamera Amalia TS yang sudah berpengalaman di genre foodporn dari Tabula Rasa, memang mampu menghadirkan sejumlah sisi lain yang jauh lebih menarik dan tak dikotori pasal akurasi-akurasi aktual yang malah jatuhnya tak akurat.

Makanan yang menjadi jualan utama Aruna & Lidahnya sekaligus menyemat, lagi subplot soal organ perasa terdasar karakternya yang mulai tak sensitif itu, seperti juga titik pacu promosinya, memang muncul lewat visual foodporn yang bisa memicu indera penglihatan kita mengirimkan sinyal lapar lewat impuls-impuls persyarafan yang ada – dari mata, ke otak kemudian turun ke perut. Dan Edwin memang terlihat tahu apa yang mau ia jual dari masing-masing set daerah tempat persinggahan roadtrip para karakter ini; membuat kita mungkin ingin menjajal petualangan kuliner yang sama dalam sebuah napak tilas. Itu benar adanya.

Dalam pengungkapan interaksi empat karakter utamanya di konflik mendasar soal romansa dan persahabatan pun, meski mungkin intonasi-intonasi dialog yang cenderung serba datar itu bisa mewakili segmentasi society tertentu disertai beberapa inkonsistensi antara adegan, paling tidak, Dian – Nico – Oka dan Hannah muncul dengan gestur yang tak bisa berbohong, memang punya chemistry kuat. Eskalasinya sejak awal hingga satu-persatu bertemu dan berinteraksi sangat terasa di balik pilihan tepat karakter Aruna yang berkomunikasi langsung ke penonton dengan konsep breaking the fourth wall, dan ini membuat kekurangan-kekurangan tadi bisa tertutupi dengan kenyamanan kita mengikuti interaksi para karakternya yang tetap mengalir dengan renyah. Ia boleh ngalor-ngidul penuh simbol dari soal pembalut, tes kesetiaan hingga adu jarak BAK, tapi jelas bisa membuat kita betah sepanjang durasinya.

Apalagi, Edwin – seperti yang dilakukannya dengan Dan-nya Sheila on 7 di Posesif, mengisi lebih banyak lagi Aruna & Lidahnya dengan lagu-lagu dengan rentang dinamis dan pas buat mengiringi adegan di samping scoring Ken Jenie dan Mar Galo yang cukup baik. Ada lagu lawas 80an January Christy, Aku Ini Punya Siapa? yang sudah membuka adegannya dengan menarik dan muncul lagi menutup filmnya, rendisi ulang Tentang Aku-nya Jingga dari sang vokalis – Fe, sejumlah lagu baru termasuk Takkan Apa dari Yura Yunita dan Lebuh Rasa dan Lamun Ombak dari Mondo Gascaro, hingga yang paling melekat – daur ulang hit Rida Sita Dewi, Antara Kita dari Monita Tahalea.

Di departemen akting, Dian Sastrowardoyo tampil memikat sebagai Aruna dan membentuk chemistry bagus bersama Oka Antara, sementara Nicholas Saputra tampil santai serta lepas sebagai Bono dengan gestur chef yang pas di beberapa adegannya. Tapi yang paling terlihat penuh sparks dan semangat sesuai karakternya adalah Hannah Al Rashid. Seperti anak-anak yang baru saja mendapatkan mainan baru yang disukainya, Hannah membawa karakter Nad ke pusat perhatian terbesar hubungan empat karakternya walaupun tak sampai menutupi juga porsi Dian sebagai sentralnya. Masih ada juga penampilan Ayu Azhari yang walau tak spesial tapi jadi keikutsertaannya di film layar lebar paling layak sejak beberapa tahun belakangan.

So, sebagai kisah romansa dan persahabatan di kelas pangsa lebih dewasa yang masih jarang kita dapatkan di film-film Indonesia sekarang, walau kita perlu lebih banyak lagi produk subgenre-nya, ia sayangnya sering kelewat terdistraksi oleh banyak bumbu masak yang tak sepenuhnya relevan. Padahal terkadang menikmati kuliner dengan bumbu sederhana yang tak ke mana-mana seperti nasi goreng gerobak pinggir jalan atau resep si mbok di rumah, bisa jauh lebih terasa lezat, serta akrab pula di lidah. Aruna & Lidahnya lagi-lagi kembali kepada apa yang sebenarnya diharapkan dari produk akhirnya. Reuni Dian dan Nico-kah? Pembaca/fans novelnya-kah? Penikmat film-film kulinerkah? Edwin bagi para penyuka fanatiknya-kah, walau jelas – ia sebenarnya cukup punya potensi menghadirkan keseimbangan cara tutur di antara batas kultur dan subkultur film kita, atau sekadar kisah romansa dan persahabatan di balik region-trotting roadtrip yang mengalir cukup renyah serta menghibur? Masing-masing mungkin akan punya resepsi berbeda, tapi saya yakin akan satu hal – tak akan ada orang yang menyaksikan Aruna & Lidahnya karena soal korupsi lembaga kesehatan atau flu burung. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)