Home » Dan at The Movies » VENOM (2018)

VENOM (2018)

VENOM: LIKE TWO SYMBIOTES FAILED TO FORM A SYMBIOSIS, A BIZARRE YET TATER TOTS FUN BUDDY ACTION COMEDY

Sutradara: Ruben Fleischer

Produksi: Columbia Pictures, Marvel Entertainment, Tencent Pictures, Sony Pictures Releasing, 2018

 

Image: impawards.com

Fans Spider-Man tentu sudah tak asing lagi dengan karakter anti-hero bernama Venom ini. Tampil pertama kali sebagai cameo di serial komik Web of Spider-Man #18, 1986, sebelum kemunculan penuhnya di The Amazing Spider-Man #300, 1988, karakter rekaan David Michelinie dan Todd McFarlane ini lantas bertransformasi dari musuh Spider-Man menjadi karakter anti-hero yang punya serial komik sendiri. Di film, setelah proyek adaptasi karakternya gagal dibuat di tahun 1997, ia muncul pertama kali lewat Spider-Man 3 (2007) diperankan oleh Topher Grace. Rencana spin-off-nya sebenarnya sudah dimulai dari tahun yang sama namun berulang kali gagal hingga akhirnya dengan suksesnya bentukan Spidey baru di MCU, Sony merencanakannya sebagai proyek inisial dari Sony’s Marvel Universe; bukan lagi berupa spin-off dari mana pun.

Menggamit kreator ZombielandRuben Fleischer sebagai sutradara, skripnya kini dipegang oleh Jeff Pinkner (The Amazing Spider-Man 2), Scott Rosenberg yang merupakan kolaborator Jerry Bruckheimer di film-film sukses 90an-nya (Con Air, Armageddon & Gone in 60 Seconds) namun kemudian bekerja dengan Pinkner di Jumanji: Welcome to the Jungle, dan Kelly Marcel dari Fifty Shades of Grey. Pemilihan Fleischer bukannya tak berdasar; karena dari tone komiknya yang dark (come on, karakter ini memangsa kepala orang dan memakan otak), arah Sony kabarnya ingin meletakkannya di tengah-tengah dengan rating remaja agar tak terlalu jauh dari Spider-Man MCU dalam potensi kemungkinan crossover-nya nanti. Zombieland, paling tidak sudah memenuhi syarat itu sebagai entry genre-nya yang cukup pop serta ringan bagi pemirsa remaja.

Tetap berada tak jauh dari jejak source aslinya walau tak persis sama, kisah origin Venom pun memperkenalkan Eddie Brock (Tom Hardy), seorang jurnalis investigasi yang tergoda menyelidiki sepak terjang korporat jenius Carlton Drake (Riz Ahmed) dari Life Foundation yang disinyalir melakukan usaha keji untuk ambisnya, tanpa menyadari ulahnya membuat Brock kehilangan pekerjaan sekaligus kekasihnya; jaksa distrik Anne Weying (Michelle Williams) yang merasa dimanfaatkan. Belakangan Brock mengetahui dari Dr. Dora Skirth (Jenny Slate) – ilmuwan yang bekerja untuk Drake, bahwa Drake ternyata membawa organisme luar bumi yang mereka sebut symbiote dan mengorbankan banyak jiwa demi tujuannya meregenerasi peradaban manusia. Namun semuanya berujung kekacauan kala sebuah symbiote berhasil menguasai dirinya sebagai host dengan kekuatan super di balik sosok baru monster hitam raksasa dengan alter-ego bernama Venom (tetap disuarakan dengan tone suara berbeda oleh Hardy). Tentu, Drake yang gusar karena kehilangan symbiote-nya juga tak begitu saja tinggal diam.

Tak salah mungkin bila sebagai sebuah kisah asal-usul pemula universe pendamping, Venom mengambil durasi cukup panjang untuk pengenalannya. Pinkner, Rosenberg dan Marcel pun mengambil template yang sudah bukan pertama kali lagi kita saksikan di film-film sci-fi creature soal symbiote/parasit luar bumi dengan banyak referensi dari horor sci-fi klasik Invasion of Body Snatchers ke yang terakhir kita lihat – Life (2017) plus sentuhan body horror a la David Cronenberg/John Carpenter. Meski sedikit terlalu panjang, deretan cast sekelas Hardy, Williams dan Ahmed jelas bisa menahannya lewat kualitas akting mereka.

Namun menjelang paruh kedua di mana sosok Venom mulai di-reveal secara perlahan menuju titik breakdown aksi yang mengawali paruh kedua itu, entah ini ulah studio sejak di lapangan atau adanya intervensi editing dari Maryann Brandon (Star Wars: The Force Awakens, co-editor) dan Alan Baumgarten (American Hustle) di saat-saat akhir, Venom seolah mengubah dirinya sendiri menjadi chapter yang terasa sangat berbeda. Ia beralih secara tak rapi ke sebuah buddy movie dua karakter satu badan dengan elemen utama aksi dan komedi, Secara konseptual, ia mungkin tetap ada di atas konsep klasik film-film body swap dan simbiosis dua jiwa model Dr. Jekyll and Mr. Hyde, tapi tone-nya menjadi luar biasa nyeleneh dengan sisipan dialog-dialog Venom dan Brock yang walau terasa ngaco, tapi kocaknya luar biasa.

Dari sini ke pengujungnya, walau kita dibuat begitu tergelitik lewat interaksinya – oh ya, ini sampai menyenggol ranah-ranah romantically gonzo sampai ke level film ala Me & Him (1988) yang punya premis kemaluan yang bisa bicara dan berinteraksi dengan pemiliknya hingga ke soal food chain dan makan-memakan yang tak penting, bahkan Hardy yang tetap tak bisa meninggalkan gestur dinginnya serta Williams – benar-benar terlihat kebingungan dan berakting bagai orang serba salah di atas inkonsistensi dan distraksi serba tak koheren yang muncul bak sebuah lelucon besar untuk sebuah kemasan superhero. Ini bukan Deadpool yang jelas mau melucu, namun mungkin muatan unintentionally funny buat memancing tawa itu ada di dosis yang sama.

Kadang terasa begitu tolol dengan belokan-belokan no-brainer hingga mencapai level mirip serial kemasan ulang film sci-fi-sci-fi jadul dengan komentator di Mystery Science Theater 3000 atau film yang di-dub ulang oleh fans untuk jadi sesuatu yang benar-benar berbeda, membuat kita tak percaya apa iya maunya seperti itu. Namun anehnya, pengarahan Fleischer tetap bisa membuat pengalamannya terasa begitu menyenangkan. A bizarre mess by all means, tapi memang secara taktis sebenarnya membuat atmosfer dark/gory dari source asli yang seharusnya tampil bisa diredam untuk sajian yang cocok buat rating remaja bahkan mudah dinikmati anak-anak.

Ada beberapa adegan aksi yang seru terutama di awal Venom memasuki paruh ke-2-nya, namun tak ada yang sisi teknikal yang terlalu spesial buat klimaks pertarungan Venom dan symbiote superior-nya, Riot, yang terus terang terkesan hadir dengan pace agak sembrono. Bukan tampilan CGI dalam visualisasi proses ikatan simbiosisnya tak bagus, namun toh tak berbeda jauh dari apa yang kita saksikan di Spider-Man 3 dulu meski mungkin punya beberapa detil lebih. Begitupun, sinematografi Matthew Libatique (Iron Man 1-2, Mother!) cukup kuat di bagian-bagian awal tak berpengaruh banyak dengan keseluruhan tampilan yang memang seakan berada di modest budget untuk genre-nya.

So, ini memang aneh tapi nyata. Kemasan paruh pertama dan kedua yang tampak seperti dua organisme yang tak bisa membentuk ikatan kuat dalam definisi klasifikasi simbiosis yang manapun, ternyata tetap bisa memberikan sentuhan-sentuhan fun luar biasa yang membuat kita terus betah tergelak dengan komedi nyeleneh ala buddy movie-nya. Yes it’s a mess, chaotic one, tapi jelas ia masih jauh dari sekelas nuclear waste untuk genre superhero seperti Catwoman dan Fantastic 4 Josh Trank yang dibanding-bandingkan sebagian orang.

Paling tidak, Fleischer berhasil mematok batasan berbeda dengan apa yang biasa kita lihat di MCU ataupun universe Marvel di studio lainnya, apalagi dengan dua after credits yang menjanjikan – satu ke potensi kelanjutannya dengan karakter tak kalah terkenal yang disiapkan di sekuel dan punya hint ke karir Fleischer sendiri, serta lagi sebuah instalmen animasi pendamping yang akan hadir dalam waktu dekat. A bizarre, tater tots fun buddy action comedy. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)