Home » Dan at The Movies » BOHEMIAN RHAPSODY (2018)

BOHEMIAN RHAPSODY (2018)

BOHEMIAN RHAPSODY: REAL LIFE OR FANTASY, AN EXTRAVAGANT LOOK INSIDE QUEEN’S MASTERPIECES

Sutradara: Bryan Singer

Produksi: 20th Century Fox, New Regency, GK Films, Queen Films, 2018

Image: impawards.com

Siapa tak kenal band Queen dan vokalisnya, Freddie Mercury? Kalaupun bukan fans atau betul-betul mengenal mereka, paling tidak ada satu atau dua lagu yang secara abadi melintas generasi hingga sekarang – dan Bohemian Rhapsody agaknya selalu menjadi salah satunya. Proyek biopic yang sejak awal memang diarahkan untuk berfokus ke Freddie dalam template frontman band legendaris di atas keterlibatan langsung Brian May – sang gitaris dan personil lainnya ini sempat terkendala dengan pergantian pemain hingga hengkangnya sutradara Bryan Singer, sampai akhirnya Dexter Fletcher masuk untuk menyelesaikannya.

Bohemian Rhapsody pun dimulai dari awal sepak terjang gitaris Brian May (Gwilym Lee) dan drummer Roger Taylor (Ben Hardy) membentuk band dan merekrut vokalis berdarah Parsi Farrokh Bulsara – belakangan mengganti namanya menjadi Freddie Mercury (Rami Malek) hingga terbentuknya Queen setelah masuknya bassist John Deacon (Joseph Mazello). Dari beberapa lagu hit, di tengah ketidakyakinan produser Ray Foster (diperankan Mike Myers) terhadap visi mereka, lagu Bohemian Rhapsody membawa Queen ke puncak ketenaran mereka mengarungi dunia lewat tur band-nya. Sayang kemudian popularitas Freddie terdistraksi oleh kehidupan seksual dan kecanduannya terhadap obat-obatan. Saat pilihan solo karir Freddie menghancurkan hubungan mereka, titik balik rekonsiliasi ke karir yang lebih meroket lagi ditandai dengan performa Queen di Live Aid, proyek konser kemanusiaan yang digagas Bob Geldof (Dermot Murphy) dan digelar serentak tahun 1985 di stadion Wembley, London. Tentunya, kisah ini tak bisa terpisah dari AIDS yang merenggut nyawa Freddie beberapa tahun dan album setelahnya.

Pemilihan cast yang jelas menjadi faktor terpenting dalam biopic band dan musisi legendaris, sayangnya tak tergelar sempurna di tangan Rami Malek yang walau masih bisa masuk ke etnisnya dan dibentuk dengan kemiripan fisik namun entah mengapa harus ditambah prostetik gigi berlebihan selain mata asli Malek yang membuat sosoknya lebih menyerupai gambar karikatur Freddie. Namun begitu, Lee sebagai May, Hardy sebagai Taylor dan Mazello (bocah kecil di Jurassic Park) – yang tampil dengan gestur nyaris sempurna sebagai Deacon tertata dengan baik, dan tak bisa dipungkiri, usaha keras Malek meniru detil gestur Freddie dengan kumis ikoniknya di konser Live Aid muncul secara fantastis di 15 menit terakhir Bohemian Rhapsody.

Begitu pula, meski mungkin bermain di ranah-ranah narasi klise biopic biasanya, karakter-karakter sampingan, nyata atau fiktif, yang dimasukkan ke dalam skrip itu cukup bekerja dalam penekanan titik-titik penting pengisahannya. Ada Aidan Gillen dan Tom Hollander sebagai manajer Queen, juga karakter-karakter penting di seputar kehidupan cinta Freddie – diperankan oleh Allen Leech, Aaron McCusker dan Lucy Boynton sebagai Mary Austin yang jadi inspirasinya di ballad legendaris Love of My Life. Sementara Mike Myers yang tampil sulit dikenali sebagai eksekutif EMI yang mungkin difiktifkan oleh skripnya hanya untuk menekankan keraguan EMI (kenyataannya EMI masih terus dan tak pernah putus menjadi label band-nya) terhadap lagu itu sebagai singel dari album A Night at the Opera pada awalnya. Mungkin sulit ditolak, ada beberapa hal yang harus dimanipulasi demi mengemas biopic puluhan tahun termasuk soal album solo pertama Freddie yang sebenarnya sangat berhasil termasuk menelurkan beberapa singel yang sampai sekarang masih berstatus klasik dan tak pernah membuat mereka – Freddie dan personil lainnya, ribut soal ini. Dan yang lebih parah adalah memanipulasi Live Aid sebagai momen reuni karena keributan itu. The truth is, kalaupun ada keributan, jarak tur terakhir album rilisan 1984 Queen, The Works, hanya berjarak beberapa minggu dari performa mereka di Live Aid.

Dan pilihan mereka mengarahkan fokus terbesarnya ke kehidupan Freddie sebagai frontman-nya, agaknya bukan merupakan sesuatu yang perlu dikritik karena menyampingkan May, Taylor dan Deacon, melainkan justru perlu mendapat pujian. Bahwa semua personil itu terlibat langsung di balik pembuatannya, terutama May sebagai second frontman dalam level hubungan dan kontrol yang nyaris seperti Lennon dan McCartney di The Beatles, memang dengan rela sekali lagi menepis ego mereka demi sebuah penghormatan besar ke sosok Freddie Mercury. Toh masing-masing mereka tetap tampil dengan porsi penting dengan highlight ikon masing-masing – termasuk porsi suara Roger Taylor di lagu yang dijadikan judulnya, yang mungkin belum banyak diketahui orang.

Selain tata teknis yang bagus dari DoP kolaborator Singer, Newton Thomas Sigel, hal terbaik dari guliran skrip yang ditulis oleh Anthony McCarten (kontender Oscar dari The Theory Of Everything dan The Darkest Hour) adalah detil-detil proses penciptaan sejumlah masterpiece mereka yang sangat dikenal, dari Love of My Life ke Another One Bites the Dust dengan Bohemian Rhapsody dan We Will Rock You di tengah-tengahnya – bahkan memuat rekonstruksi klip I Want to Break Free yang sedikit banyak menunjukkan dukungan personil Queen terhadap preferensi seksual Freddie Mercury, aslinya atas prakarsa Brian May. Semua sisi ini memang muncul dengan sangat baik menuju momen Live Aid sebagi titik balik penting bagi Queen. Ini, tanpa bisa ditampik, memang berhasil membuat kita sebagai pemirsanya – fans atau bukan, apalagi yang pernah melihat event aslinya, bisa merinding bagai tengah menyaksikan sosok legendaris itu kembali hidup di tengah-tengah kita dalam sebuah konser nyata. Sending shiver down your spine.

So, omong kosong memang kalau mengatakan ada alasan lain sebuah biopic band legendaris diangkat ke layar lebar selain bidikan bagi para fans sejati dan persepsi-persepsi popularitas buat mereka. Dari segmen inilah pemirsa yang sekadar tahu atau kenal, maupun yang sama sekali tak pernah mendengar, akhirnya bisa benar-benar mengenal dan masuk untuk mencintai subjeknya. Skrip McCarten, dalam hal ini, paling tidak bisa membagi tiap fokusnya dengan seimbang bersama proses penciptaan lagu-lagu klasik yang masih melekat sampai sekarang. Yang jelas, dirancang bak sebuah film konser untuk membuat pemirsanya bernyanyi bersama – thanks to 20th Century Fox Indonesia untuk menyemat teks di setiap lagu agar semua penonton yang kenal lagu-lagu Queen bisa bernyanyi bersama, klimaks performa Queen di Live Aid memang luar biasa kuat, megah dan membuat kita sebagai penontonnya bisa larut dalam nostalgia sebuah rekonstruksi sempurna perjalanan mereka. (dan)