Home » Dan at The Movies » OVERLORD (2018)

OVERLORD (2018)

OVERLORD: A UNIQUE BLEND OF PARATROOPER WAR ACTION, SCI-FI HORROR… AND ALMOST A BUDDY MOVIE

Sutradara: Julius Avery

Produksi: Paramount Pictures, Bad Robot Productions, 2018

Image: impawards.com

Film perang berlatar PD2 yang digabungkan dengan horor memang bukan lagi hal baru. Dua di antaranya yang menonjol adalah Deathwatch (2003) dan tentunya teror Nazi zombie Dead Snow (2009). Kali ini datang dari ide J.J. Abrams yang duduk di kursi produser bersama penulis Billy Ray (Captain Phillips, The Hunger Games) yang sekaligus menulis skripnya, konsep yang diusung Overlord melangkah lebih jauh lagi dalam fusi lintas genre-nya. Dan jelas dengan nama Abrams yang sangat gemar bermain genre dan referensi di belakangnya, ini mungkin punya profil lebih besar dibandingkan film-film horor perang sebelumnya.

Bergerak dari sejarah D-Day, pasukan infanteri penerjun payung yang dipimpin oleh Sersan Elson (Bokeem Woodbine) diturunkan ke Jerman untuk sebuah misi peledakan menara radio di sebuah gereja. Namun pesawat mereka diserang sebelum titik terjun, meninggalkan hanya prajurit Boyce (Jovan Adepo) dan ahli ledak Kopral Ford (Wyatt Russell; putra Kurt Russell-Goldie Hawn) bersama 3 penyintas lain yang mereka temukan; Tibbet (John Magaro), Chase (Iain De Caestecker) dan Dawson (Jacob Anderson). Terpaksa menghadapi kejaran Dr. Wafner (Pilou Asbæk) yang memimpin sekumpulan tentara Nazi, Boyce yang juga tergerak menyelamatkan wanita sipil Prancis Chloe (Mathilde Ollivier) bersama adik kecilnya Paul (Gianny Taufer) akhirnya menemukan kenyataan mengerikan di gereja tujuannya di balik sebuah eksperimen rahasia Nazi yang sewaktu-waktu bisa berbalik menempatkan mereka dalam pertaruhan hidup dan mati.

Sempat diisukan sebagai instalmen ke-4 Cloverfield, Overlord memang sepenuhnya dibangun dengan signature Abrams walau disutradarai Julius Avery, sineas Australia dari film aksi independen Son of a Gun. Konsepnya hampir menyerupai sebuah adaptasi video game di atas penggabungan genre tadi, selagi ada referensi historis soal D-Day dan sedikit impresi terhadap kekejaman eksperimen Nazi dari kasus-kasus ala Dr. Josef Mengele yang sudah pernah diangkat ke film lewat The Boys from Brazil (dibintangi Gregory Peck), juga atmosfer vintage yang dibawa mereka sejak tampilan awal kreditnya.

Mengandalkan aktor-aktor baru yang belum punya nama kecuali Asbæk, Overlord memang terasa fresh memainkan racikannya. Lebih dari separuh awal film bergerak bak film perang klasik dengan tema misi bunuh diri bercampur tone buddy movie dari interaksi Adepo dan Russell sebelum elemen sci-fi horror/zombie thriller-nya kemudian merangsek perlahan buat diledakkan di pertiga akhir. Semua dilakukan Abrams, Ray dan Avery secara sangat taktis dan penuh perhitungan, terutama dalam eskalasi bangunan suspense dan pameran kesadisannya yang semakin brutal. Tetap ada pula kedalaman lebih soal psikologi perang dari bangunan karakter-karakternya.

Departemen teknisnya juga tergarap dengan baik menaikkan konsep yang terdengar seperti film-film B-movie yang berseliweran di festival-festival fantastik ke kelas high profile blockbusters dengan nama Abrams di tengahnya. Di balik make-up, VFX dan CGI yang mutlak diperlukan di sini, namun tak lantas jadi effort genre terang-terangan dan serba berlebih seperti Dead Snow, ada sinematografi Laurie Rose dan Fabian Wagner, juga editing Matt Evans dan scoring Jed Kurzel.

Walau lagi-lagi bukan merupakan pionir yang pertama kali melakukan inovasi fusi lintas genre itu, Overlord harus diakui layak menjadi yang terbaik di kelasnya dengan semua perhitungan dan eksekusi taktis tadi. Tak seperti kebanyakan film sejenis yang dari awal sibuk menggeber amunisi di sepanjang lapangan mainnya ataupun bergerak kelewat pelan menyimpan titik ledaknya, kekuatan terbesar Overlord adalah eskalasi tensi yang sangat terjaga tanpa pernah membiarkan pemirsanya lepas dari ketegangan. (dan)