Home » Interview » WAWANCARA DENGAN EDWIN DAN CAST VARIABLE NO. 3 DI TOKYO INTERNATIONAL FILM FESTIVAL KE-31

WAWANCARA DENGAN EDWIN DAN CAST VARIABLE NO. 3 DI TOKYO INTERNATIONAL FILM FESTIVAL KE-31

Menjadi sutradara Indonesia pertama dari proyek omnibus lintas Asia Tokyo International Film Festival (TIFF) bersama The Japan Foundation Asia Center, Asian Three-Fold Mirror Project, Edwin hadir di TIFF ke-31 membawa segmen ketiga dalam Asian Three-Fold Mirror 2018: Journey yang diberinya judul Variable No. 3. Bersama sutradara Degena Yun dari China yang membesut segmen pertama – The Sea, dan Daishi Matsunaga dari Jepang di segmen kedua – Hekishu, di hari kedua TIFF, mereka, beserta seluruh cast-nya, tampil dalam konferensi pers dan stage appearance di penayangan dunia pertama film omnibus ini.

Tiga cast Variable No. 3Nicholas Saputra, Agni Pratistha dan Oka Antara turut mendampingi Edwin termasuk dalam sesi wawancara bersama sejumlah media dari Indonesia. Sebagai bagian dari Asian Three-Fold Mirror 2018: Journey yang membahas tentang perjalanan menembus ruang dan waktu dari karakter-karakter Asia di dalamnya, Variable No. 3 mengisahkan pasangan suami istri Edi (diperankan Oka) dan Sekar (Agni) yang melakukan perjalanan ke Tokyo untuk memperbaiki hubungan pernikahan mereka. Di sana, mereka bertemu dengan host tempat mereka menginap, seorang pemuda Indonesia keturunan Jepang Kenji (Nicholas) di balik sebuah sesi terapi tak terduga yang membuka pelan-pelan rahasia masa lalu hubungan ini. Berikut adalah kutipan wawancaranya:

©2018 The Japan Foundation

Bagaimana Anda (Edwin) bisa terpilih untuk ikut dalam proyek kedua Asian Three-Fold Mirror ini?

(Edwin) Kalau detil soal pemilihan sutradara-sutradara dalam segmen omnibus Journey ini mungkin bisa ditanyakan pada pihak Japan Foundation Asia Center selaku penggagasnya bersama TIFF, tapi memang saya tahu kerjasama mereka dalam Asian Three-Fold Mirror: Reflections 2 tahun yang lalu (2016) karena saat itu kebetulan saya ada di sini juga dan menyaksikannya. Yang jelas saya senang sekali ketika mendapat kabar dari produser saya, Meiske Taurisia, bahwa ada kemungkinan saya adalah salah satu filmmaker yang diundang untuk membuat segmen pendek dalam keseluruhan omnibusnya. Kemudian saya diberitahu bahwa kita akan bikin sebuah omnibus yang diikat oleh tema ‘Journey’. Masing-masing kami (bersama Degena Yun dari China dan Daishi Matsunaga dari Jepang) diminta untuk mengusulkan cerita apa yang ingin kami angkat. Saya dan pihak-pihak terkait termasuk sutradara lainnya kemudian berdiskusi soal ide masing-masing terhadap konsep ‘Journey’ tadi. Dari obrolan-obrolan itu muncullah ide atau sketsa yang lalu dipertajam bersama tim kami.

Jadi konsep yang diusung ‘Journey’ dalam mengetengahkan sebuah perjalanan menembus ruang dan waktu ini sebenarnya datang dari pihak Japan Foundation?

(Edwin) Iya. Ide tentang perjalanan/journey ini datang dari Japan Foundation. Tim dari merekalah yang pertama melemparkan usulan ide soal konsep omnibus ini ke kami. Selanjutnya, kami yang menginterpretasikan ide masing-masing segmennya.

Oke, bisa cerita sedikit soal ide segmen Anda, Variable No. 3?

(Edwin) Begini. Bersama Prima Rusdi, penulisnya, bagi saya – konsep dari sebuah perjalanan itu adalah sesuatu yang sedang bergerak. Saya lebih tertarik untuk ngomong soal tahapan ketimbang ‘perjalanan’ secara fisik dari satu tempat ke tempat yang lain, tapi lebih pada sebuah kondisi di mana kita berada di satu titik dan bergerak menuju satu titik lainnya, dan untuk menjalankannya kita perlu mempertimbangkan apa yang terjadi di masa lalu. Variable No. 3 bagi saya adalah sebuah perjalanan waktu dan sifatnya lebih ke suatu perjalanan internal buat karakter-karakternya. Dari situ baru muncul konsep karakter sepasang suami istri (diperankan Oka dan Agni) yang tengah berada dalam sebuah bahtera pernikahan yang macet dan mencari jalan keluar untuk meneruskan kehidupan pernikahan mereka lewat sebuah perjalanan liburan ke Tokyo. Dalam liburan itu mereka bertemu dengan satu karakter lagi, Kenji (diperankan Nico), yang akhirnya menjadi metafora dari masa lalu yang harus mereka hadapi demi kelangsungan pernikahan mereka.

Dalam menyatukan kesinambungan tiga segmen berdasarkan interpretasi berbeda itu apakah kalian bertemu langsung dengan Degena dan Daishi serta cast yang lain sebelum pembuatannya?

(Edwin) Secara fisik tidak, tapi lewat videocall dan skype, kami berdiskusi untuk menyatukan ide-ide tadi, termasuk dengan produser dari Jepang juga. Kami saling memberikan input untuk membentuk kesinambungan atas ide-ide tadi. Kami juga saling mengirimkan skrip satu sama lain dan dari situ kita bisa membaca segmen yang lain seperti apa untuk lantas menentukan titik kontribusi masing-masing. Respon, masukan, dan ide-ide lain, pendeknya membicarakan agar tiga segmen tadi bekerja sebagai satu rangkaian yang utuh punya titik sambung satu dengan yang lain.

Ide soal karakter Kenji yang seolah menjadi metafora yang muncul di ketiga segmennya, apakah datang dari Anda, atau bertiga bersama Degena dan Daishi?

(Edwin) Begini. Kemunculan karakter Kenji yang diperankan Nico ini di ketiga segmennya juga datang dari obrolan selama proses penyatuan ide tadi. Bahwa karakter Kenji memang memungkinkan untuk memperkuat ketiganya untuk dirangkai, atau paling tidak dilihat sebagai satu paket, satu kesatuan. Yang jelas, konsep karakternya memang dibuat berganti sesuai dengan karakter lain yang ia temui, dan saya rasa ini justru yang sangat menarik, ketika tiga proyek dari tiga filmmaker dengan background berbeda kemudian bisa secara organik hadir menciptakan satu karakter yang kebetulan diperankan oleh Nico.

Proses syuting dan pengambilan gambar untuk karakter Nico sendiri seperti apa? Apakah berarti Anda (Edwin) ikut melakukan syuting dalam ketiga segmennya?

(Edwin) Oh nggak. Pengambilan gambar untuk karakter Nico di dua segmen yang lain dilakukan masing-masing oleh Degena dan Daishi. Nico yang datang ke lokasi syuting masing-masing untuk pengambilan gambarnya.

(Nicholas) Iya saya ke Beijing dan Myanmar untuk dua segmen itu. Pertama kali saya syuting The Sea dulu di Beijing, di dalam studio, pada saat musim panas. Setelah itu dua hari kemudian saya syuting dengan Edwin di Tokyo dan ada sedikit masalah cuaca yang sangat dingin sementara cukup banyak adegan outdoor, dan terakhir, dua bulan kemudian saya ke Myanmar untuk segmen Hekishu. Myanmar adalah pengalaman menarik buat saya karena selain baru pertama kali syuting di sana, ini membawa saya bagaikan masuk dalam lorong waktu ke Indonesia tahun ‘70an, syutingnya banyak di stasiun kereta, di pasar dengan debu yang luar biasa dan suhu 40 derajat. Kontras sekali, namun ini yang spesial karena demi mencapai mood yang kita inginkan kita harus bisa keluar dari zona-zona nyaman.

Apakah ada rencana untuk menayangkannya di Indonesia?

(Edwin) Sejauh ini belum ada rencana yang saya dengar dari Japan Foundation sendiri.

Kalau dari cast-nya, seperti apa tantangannya memerankan karakter-karakter dalam Variable No. 3? Adegan apa yang dirasakan paling sulit?

(Oka) Di sini saya berperan sebagai Edi, suami dari Sekar yang melakukan sebuah perjalanan ke Tokyo, namun lebih berupa perjalanan batin ketimbang fisik. Bagaimana mereka berdua sedang berada di titik tertentu untuk memperbaiki rumahtangga mereka. Kesalahannya ada di mana mereka belum tahu dan berharap perjalanan ke Tokyo ini bisa memperbaiki hubungan mereka. Tantangan terbesarnya adalah membangun chemistry dengan Agni, apa saja yang bisa dikomunikasikan apalagi ini adalah film pendek, bukan film panjang. Otomatis kita juga punya waktu terbatas untuk menyampaikan komunikasi kita kepada penonton.

Dengan jumlah frame yang sedikit bagaimana kita bisa menunjukkan pasangan lama yang bermasalah untuk bisa dipercaya oleh penonton; termasuk kontak fisik yang memang harus dilakukan. Untungnya Edwin memang lebih mengedepankan rasa dan seni tanpa ada batasan-batasan tertentu. Prosesnya tentu saja menyenangkan karena ini juga pertama kali saya main bareng sama Nicholas dan Agni. Kita berkali-kali melakukan round table discussions untuk mencapai proses yang kita inginkan dan bisa dinikmati.

Kalau dalam soal adegan, sebenarnya semua tingkat kesulitannya sama, tapi mungkin terutama adegan yang melibatkan kita bertiga, juga dalam penekanan adanya kekakuan komunikasi suami istri yang perlahan cair dengan adanya satu orang asing yang masuk ke dalam kehidupan mereka, dan di sini Edwin melakukan sebuah metafora atau perumpamaan terhadap masa lalu keduanya.

(Nicholas) Bagi saya perbedaan karakterisasi Kenji di tiga segmennya tentunya sangat bergantung pada skripnya. Tapi ini sebenarnya bukan interpretasi yang terlalu rumit, tentang satu karakter yang bisa muncul di mana saja, di ketiga segmennya. Saya cukup menikmati semua proses syutingnya yang juga nggak terlalu lama.

Setelah Posesif dan Aruna dan Lidahnya yang mengarah ke tontonan lebih komersil, Anda kembali ke lapangan bermain biasanya termasuk dalam isu-isu yang dibahas. Mengapa memilih isu soal suami istri, apakah memang Anda merasa ini merupakan hal yang harus dibicarakan dalam konsepnya?

(Edwin) Selain ide tentang perjalanan, saya, Prima dan Meiske memang merindukan kembali membuat film pendek setelah beberapa waktu membuat film panjang yang lebih mainstream. Di sini kami memang ingin mengeksplorasi keintiman dalam sinema. Film saya yang lain juga banyak berbicara soal intimacy antar manusia di atas konsep relasi dan dinamika sebenarnya merindukan sesuatu yang intens dalam sebuah hubungan. Di Variable No. 3, intimacy adalah salah satu yang paling kami perhatikan; terutama dalam chemistry, bahwa ini bukan sekadar chemistry tapi jauh lebih intens seperti hubungan-hubungan manusia yang nyata.

Berbicara soal intimacy, Variable No.3 memang tampil cukup berani sebagai segmen finale dari keseluruhan omnibus. Apakah ada tantangan lebih buat Anda dalam mendiskusikan adegannya pada Oka, Agni dan Nico selama proses syutingnya? Begitu juga buat Oka, Agni dan Nico untuk benar-benar bisa masuk ke adegannya?

(Edwin) Sebelum mengajak teman-teman buat bergabung, ada beberapa proses casting sebenarnya sesuai kebutuhan peran, saya memang sudah ngobrol ke mereka untuk sama-sama membuat sebuah karya yang disepakati bersama. Bagi saya pribadi ini adalah sebuah proyek ideal, apalagi di sini pertama kali saya bekerjasama dengan tim Jepang. Dari kita yang datang hanya tim produser, penulis dan kami berempat. Selebihnya krunya semua dari Jepang, dan mereka profesional sekali. Ada tantangan sedikit dalam soal bahasa tapi ini dengan mudah bisa teratasi.

(Oka) Bagi saya, rasanya sama sekali tidak ada halangan untuk scene terakhir itu, karena ini memang adalah scene penentuan yang relevan dengan skripnya, bagaimana Edi dan Sekar akhirnya bisa menyelesaikan masalah mereka. Kalau scene itu tidak di-treat sebagaimana adanya, akan jadi sebuah antiklimaks. Dari awal saya menerima tawaran Edwin saya sudah siap untuk semua tantangannya, dan karena itu juga saya selalu berdiskusi dengan Agni dan Nico dalam perspektif-perspektifnya, bukan sekadar kenyamanan melakukan adegannya.

(Agni) Kalau saya, dari awal saya terima peran ini karena saya merasa ceritanya lebih dalam dari sekadar adegan penutup itu. Saya banyak dibimbing oleh Prima (penulis), Edwin, Oka dan Nico, dan meski mungkin awalnya deg-degan mereka bisa membuat saya tenang ketika kita syuting. Kita latihan cukup, pengambilannya cukup teknis, dan saya cukup senang dengan hasilnya.

(Nico) Nggak, nggak ada masalah.

Saya tertarik dengan penyangga leher yang dipakai oleh karakter Edi (Oka) di Variable No. 3. Apakah ada simbol yang ingin Anda gambarkan lewat ini terkait soal problem dalam hubungan Edi dan Sekar, mungkin?

(Edwin) Dari skripnya, penyangga itu memang ada. Secara simpel, itu sebenarnya merupakan metafora dari adanya ganjalan dalam hubungan mereka. Saya cerita sedikit, tadinya seharusnya karakter Sekar yang menggunakannya karena sebenarnya simbolisasi masalah masa lalu itu ada pada karakter Sekar. Se-literal itu. Tapi pada waktu latihan, banyak ide-ide yang muncul termasuk dari Oka, sehingga akhirnya kita memindahkan penyangganya ke leher Oka (tertawa). Toh arti sebenarnya tetap sama tanpa mengubah cerita, bahwa mau datang dari siapapun ganjalannya, yang terpengaruh adalah pernikahan mereka.

Bagaimana dengan ide menggunakan judul Variable No. 3? Boleh tahu idenya datang dari siapa?

(Edwin) Silahkan ditanya ke Prima (Rusdi).

(Prima) Oh begini. Selama pembuatannya, memang kita banyak berdiskusi panjang lebar. Saya sangat menikmati pembuatan film ini karena kita banyak melewatkan waktu untuk mengeksplorasi, dan saya sudah lama tidak merasakan ini. Judul Variable No. 3, meski term-nya ada di dalam skrip, baru kita dapatkan menjelang akhir. Awalnya masih banyak usulan judul lainnya, tapi mungkin didorong oleh apa yang kita pelajari dalam statistik ilmu sosial, yang selalu masuknya bicara soal variabel, bahwa hubungan antar variabel itu paling penting ada di antara keduanya dan dinamika antara dua variabel ini bisa terganggu dengan masuknya variabel ketiga. Pada akhirnya kita sepakat memakai judul ini karena judul memang seharusnya intriguing, memancing rasa ingin tahu orang yang mendengarnya. Yang jelas prosesnya memang cukup lama, sesuai proses keseluruhan filmnya sekitar 1 tahun totalnya, judul Variable No. 3 baru datang ke pemikiran kita menjelang final.

Saya ingin menambahkan satu hal bahwa tantangan terbesar di Variable No. 3 adalah ketika syuting, kita berhadapan dengan cuaca terburuk dalam 5 tahun terakhir di Tokyo. Berhadapan dengan suhu minus tentunya tidak mudah, ada makeup artist (turut hadir saat interview) yang harus standby terus di set demi menjaga kontinuitas antar adegan. Saya sendiri selain penulis skrip juga berperan sebagai script continuity/supervisor yang ikut dalam keseluruhan proses syutingnya, sesuai profesi awal saya di film. Saya menawarkan diri untuk ikut karena saya memang sangat tertarik merasakan pengalaman kerja dengan kru Jepang, dan mereka sangat profesional. Kami datang dan semuanya sudah disiapkan, dan koordinasinya sangat baik. DoP kami adalah DoP wanita – Akiko Ashizawa yang sangat senior, berusia 67 tahun (Akiko adalah DoP award nominee di Japan Academy Awards dan dikenal lewat film-film seperti Tokyo Sonata – 2008, Chronicle of My Mother – 2011 dan Before We Vanish – 2017).

Ada kebiasaan yang saya perhatikan dari Edwin tentang kegemarannya menggunakan lagu-lagu vintage dalam beberapa film terakhir. Dan-nya Sheila on 7 di Posesif, kemudian banyak lagu seperti Aku ini Punya Siapa-nya January Christy di Aruna dan Lidahnya. Di Variable No. 3 ada lagu duet Reza dan Masaki Ueda – Biar Menjadi Kenangan dalam sebuah adegan di karaoke. Apa ini akan menjadi semacam signature di film-film berikutnya atau bagaimana?

Tim saya mungkin memang tidak mengikuti perkembangan lagu sekarang (tertawa). Nggak sih. Tentang lagu Biar Menjadi Kenangan, kebetulan saja yang saya ingat memang lagu itu adalah lagu Indonesia yang dinyanyikan bersama penyanyi senior Jepang, jadi saya rasa cocok saja dipakai di film ini dan memang sangat easy listening, gampang nempelnya.

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)