Home » Dan at The Movies » CREED II (2018)

CREED II (2018)

CREED II: A KNOCKOUT SPIN-OFF CELEBRATING THE ROCKY LEGACY WITH SYMMETRIES AND FULL RESPECT

Sutradara: Steven Caple, Jr.

Produksi: MGM, New Line Cinema, Warner Bros., 2018

Masih tetap menjadi franchise sports drama paling populer lintas generasi sejak film pertamanya di tahun 1976 – langsung memenangkan Best Picture Oscar dan mengangkat nama Sylvester Stallone, mungkin belum saatnya bagi Rocky untuk berakhir. Walau sudah menggantungkan sarung tinjunya di instalmen ke-6; Rocky Balboa (2006), Creed (2015) membuka lagi peluang ekspansinya ke sebuah spin-off dari penerus lawan tanding yang kemudian menjadi sahabatnya; Apollo Creed (diperankan Carl Weathers).

Sayangnya, meski meraih segudang nominasi dan memenangkan cukup banyak award sekaligus resepsi bagus dari kritikus yang rata-rata mengatakan film karya sutradara Ryan Coogler (Black Panther) itu dengan setia membawa legacy franchise induknya, bagi real-fans Rocky, agaknya tidak begitu. Bukan saja terlihat kelewat menahan diri mengikuti formula yang membuat Rocky begitu melegenda, menempatkan karakter klasiknya ke latar klise soal penyakit, Creed tetap hanya sebuah spin-off yang harus diakui tak mampu membuat karakter barunya menjadi ikon; selain juga secara teknis sangat terasa tak jauh beda dari effort indie cinema Coogler di Fruitvale Station sebelum ia beralih ke blockbuster lewat Black Panther. Tapi tak mengapa, toh tetap berada di tangan Stallone dan produser aslinya, Robert Chartoff dan Irwin Winkler, potensinya sudah terbentuk. Bukan Hollywood namanya kalau melewatkan kesempatan.

Maka Creed II pun kini bergeser ke formula yang membawa franchise induknya tadi bergulir melalui dekade demi dekade. Saat relevansinya memang sudah terlihat, Stallone dan timnya; termasuk Coogler yang masih dikredit sebagai produser eksekutif dan sudah jadi sutradara blockbuster, mereka memilih meletakkan simetrinya di atas plot Rocky IV; instalmen Rocky yang walau sangat formulaik tapi ikonik di era sinema perang dingin AS-Rusia medio ‘80an. Selagi nama sutradara Steven Caple, Jr. terdengar seperti sebuah pertaruhan; untungnya semua cast-nya bersedia tampil lagi sampai Dolph Lundgren yang kembali memerankan Ivan Drago.

Creed II pun bertolak dari sepak terjang Adonis Creed (Michael B. Jordan) mendaki jalannya setelah dikalahkan lawannya di film pertama hingga menjadi pemenang kejuaraan kelas berat WBC. Ketenarannya pun memancing Ivan Drago (Lundgren) menantang Adonis lewat putranya, Viktor Drago (Florian Munteanu). Rocky (Sylvester Stallone) yang diminta Adonis kembali melatihnya awalnya menolak karena tak melihat adanya motivasi baik selain menghadirkan kembali trauma lama ke keluarga Adonis sekaligus dirinya, apalagi Adonis baru melamar Bianca Taylor (Tessa Thompson) menjadi istrinya. Kecewa, Adonis lantas meminta Tony Evers (Wood Harris), anak mantan pelatih ayahnya untuk menghadapi tantangan Drago yang akhirnya berujung buruk. Mengetahui Adonis tengah menanti putri pertamanya bersama Bianca berikut permintaan ibunya – istri Apollo, Mary Anne (Phylicia Rashad), Rocky akhirnya bersedia melatih Adonis kembali. Bersama mereka, Rocky pun kembali ke Moskow, berhadapan lagi dengan Ivan Drago namun sekali ini untuk pertandingan ulang Adonis vs. Viktor.

Penonton film yang tak benar-benar merasakan proses dari masa ke masa mengapa Rocky se-melegenda ini boleh saja menganggap instalmen setelah Rocky 1976 hanyalah action vehicle komersil buat Stallone, tapi mungkin mereka tak melihat selalu ada sisi humanisme yang diangkat dalam bangunan karakternya. Bahwa Rocky tak pernah sekadar jadi sports movie soal menang atau kalah seperti banyak film tinju lainnya, bahkan di Rocky V yang dulu urung jadi penutup franchise-nya. Selagi film pertama dengan award quality-nya memang legendaris, namun tanpa instalmen-instalmen serba pop dan komersil setelahnya sebelum Rocky Balboa, Rocky tak akan jadi sebesar ini.

Creed II, dengan cerdas tak keberatan mengakui itu. Membawa ekspansinya ke ranah blockbuster dengan pengembangan cerita dari Sascha Penn dan penulis TV Cheo Hodari Coker lewat skrip yang langsung ditulis Stallone bersama Juel Taylor, ia tak sekalipun menahan diri untuk mendeklarasikan statusnya. Jelas sebagai titik tolak ia tak bisa menghindari pengulangan Rocky IV sebagai sumbernya, tapi tak sekadar mengulang formula, Stallone meletakkan simetri tanpa lupa menghadirkan kilasan-kilasan ke instalmen lamanya. Walau mungkin ada lagi-lagi selipan soal penyakit/elemen medis yang tak ada pun tak mengapa – namun mungkin punya relevansi ke sisi humanisme yang tak pernah tanggal di instalmen-instalmen Rocky soal bagaimana kekurangan fisik tak harus menahan orang buat berjuang, hasilnya adalah sebuah sports/boxing movie yang seru, menghentak sekaligus bergerak di atas rollercoaster emosi dengan hantaman sama kuat.

Sinematografi Kramer Morgenthau dari Thor: The Dark World dan Terminator: Genysis juga sangat mengesankan perpindahannya dari gaya indie Maryse Alberti di film pertama, dengan editing Dana E. Glauberman, kolaborator Ivan – Jason Reitman plus Saira Haider dan Paul Harb yang bekerja sangat baik di adegan tarungnya. Statusnya sebagai spin-off Rocky yang diwarnai musik RnB – bukan lagi AOR melodic ala Survivor, juga tetap dipertahankan.

Namun memang, bersama chemistry Stallone dan B. Jordan yang meningkat sangat erat, begitu pula Jordan dan Thompson, berikut karakter-karakter lama yang kembali dengan elegansi serta rasa nostalgia begitu kuat; Lundgren, Rashad dan dua kejutan di tengah dan pengujungnya, scoring dari Ludwig Göransson kini tak lagi menahan-nahan kehadiran komposisi asli Bill Conti yang bergulir dengan megah sepanjang pertarungan klimaks ke finale-nya. Penggalan main theme Gonna Fly Now dan score kemenangan Rocky yang dulu selalu muncul setiap Rocky meneriakkan nama Adrian dari atas ring, adalah bagian-bagian terbaik mengiringi intensitas pertandingan tinju yang bahkan dibangun di atas dialog detil soal teknis yang nostalgik, mengingatkan momentum final antara Rocky dan Ivan Drago di Rocky IV dulu.

Dengan Stallone yang jelas sangat terasa punya keterlibatan jauh lebih besar di sini, mungkin inilah yang membuat mengapa Creed II akan jauh lebih bekerja bagi fans ketimbang Creed sementara permainan formula tetap membuat critics tak bisa memungkiri sinergi kuat di antara elemen-elemennya. Pada akhirnya, yang membedakan Creed dengan Creed II adalah bagaimana preferensi dan rasa hormat pembuatnya bisa benar-benar menangkap esensi sejati yang diusung franchise-nya secara menyeluruh, seperti apa yang dilakukan Steven Caple, Jr. dengan pilihan penyuntingan paralel di scene penutupnya. Bahwa lebih dari sekadar pertandingan menang atau kalah di balik sarung tinju, di atas semua bangunan motivasi karakter-karakternya, Rocky adalah sebenar-benarnya sebuah kisah manusiawi soal keluarga. Creed II melakukan semuanya dengan sangat baik sebagai sebuah selebrasi terhadap legacy-nya. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)