Home » Dan at The Movies » MORTAL ENGINES (2018)

MORTAL ENGINES (2018)

MORTAL ENGINES: THE BIG ENGINE THAT COULDN’T

Sutradara: Christian Rivers

Produksi: Universal Pictures, Media Rights Capital, WingNut Films, 2018

Image: impawards.com

Dari franchise Lord of the Rings dan lanjutannya The Hobbit, berikut beberapa filmnya yang lain, nama Peter Jackson agaknya sudah menjadi jaminan untuk sebuah blockbuster. Apalagi, materi sumbernya juga bukan sembarangan. Namun terkadang, sebuah anomali memang biasa terjadi di Hollywood. Diangkat dari serial novel berjudul sama karya Phillip Reeve yang sudah berjumlah 4 buku, Mortal Engines yang diproduseri Jackson ini sejak awal seakan tak mampu menarik perhatian banyak orang padahal ada di genre fantasi petualangan adaptasi novel YA (Young Adult) yang masih terus jadi konten populer.

Sebuah perang nuklir antara AS dengan China yang mengantarkan bumi ke sebuah situs post-apocalyptic penuh kekacauan. Tak lagi bisa dihuni, kota-kota besar di dunia kini menjadi sebuah kendaraan bermesin raksasa yang bertualang memangsa kota-kota kecil. Melawan London dengan Thaddeus Valentine (Hugo Weaving) di tengah perebutan kekuasaan, gadis muda Hester Shaw (Hera Hilmar) yang punya agenda tersendiri atas dendamnya pada Thaddeus kemudian terlibat dalam sebuah petualangan bersama Tom Natsworthy (Robert Sheehan), ahli sejarah London anak buah Thaddeus. Berdua, mereka kemudian bergabung dengan pasukan pemberontak yang dikepalai Anna Fang (Jihae). Sementara putri Thaddeus, Katherine Valentine (Leila George) pun bergerak sendiri setelah menyadarai kejahatan ayahnya. Perang yang berkecamuk ini pelan-pelan mulai membuka tabir masa lalu Shaw termasuk keberadaan makhluk bak Frankenstein dari masa lalu Shaw, Shrike (Stephen Lang) yang terus mengejar mereka.

Selagi plotnya memang terdengar sangat ambisius serta inventif – memindahkan dunia ke kendaraan post-apocalyptic, keunggulan utama Mortal Engines memang hampir sepenuhnya ada di desain produksi Rivers dan timnya. Seperti percampuran The Golden Compass, Mad Max dan animasi Ghibli Howl’s Moving Castle, presentasi visualnya menerjemahkan fantasi Reeve di novel aslinya memang tak main-main. Ansambelnya pun tak biasa; dengan nama senior macam Hugo Weaving dan Stephen Lang untuk mendampingi aktor-aktor muda seperti Hilmar, Sheehan dan George, di antaranya. Ada pula penyanyi senior asal Korea, Jihae yang ikut mengisi soundtrack-nya.

Sayangnya, memperkenalkan semesta keseluruhan Mortal Engines yang memang ada dan terasa di tingkatan sangat sulit hanya dari sepenggal prolog awal mau tak mau membuat pemirsa di luar pembaca novelnya perlu usaha ekstra untuk menyerap semua dalam durasi 2 jam lebih sedikit. Bukan saja masalah introduksi yang akhirnya berdampak pada bangunan karakter ansambel yang jadi terkesan sangat lemah; tak cukup cepat membuat kita, penontonnya, peduli dengan karakter-karakter yang ada, visual dan set pieces penuh inovasi itu tak bisa diimbangi urgensi dan adegan aksi yang seharusnya bisa lebih menggelegar.

Begitupun, Hilmar harus diakui berhasil menokohkan Shaw dengan baik, juga Sheehan dan Jihae. Bahwa sebagai aktor yang bukan kelewat dikenal di antara dua nama besar Weaving dan Lang di balik balutan CGI set hingga karakter mereka – yang jelas , performa cast itu masih mampu menahan kita menelusuri semestanya. Selebihnya, memang presentasi visual dari Mortal Engines-lah yang menjadi amunisi utamanya yang layak buat disimak. Tetap pada akhirnya, hasil perolehan BO-nya yang menentukan franchise ini akan bisa berlanjut atau tidak. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)