Home » Dan at The Movies » AQUAMAN (2018)

AQUAMAN (2018)

AQUAMAN: DC’S GAME CHANGING SPECTACLE – A DAZZLING, BACK TO BASIC CROWD PLEASER AND MORE

Sutradara: James Wan

Produksi: Warner Bros. Pictures, DC Films, The Safran Company, Cruel and Unusual Films, Mad Ghost Productions,  2018

Image: impawards.com

Bertahun-tahun mencari formula terperangkap dalam kegelapan The Dark Knight dari visi Christopher Nolan me-realistis-kan genrenya, fondasi DCEU – sebutan tak resmi yang dibantah studionya untuk semesta superhero mereka, ternyata sama, tak bisa ke luar ke titik cahaya buat memenangkan hati baik kritikus dan penonton. Kegagalan demi kegagalan itu baru menampakkan perubahan dalam Wonder Woman karya Patty Jenkins meski masih lagi menyisakan film assemble-nya, Justice League dari Zack Snyder dengan segala spekulasi di balik kegagalannya.

Rombakan bentuk karakter Aquaman yang semula agak mengkhawatirkan – entah sengaja atau tidak membidik karakter Thor di semesta saingannya, Marvel, untungnya punya nama James Wan sebagai helmer proyek solonya. Ini menyiratkan pendekatan berbeda dari kotak biasanya. Bukan hanya karena kiprah Wan di serangkaian horor legendaris modernnya, tentu – tapi juga bagaimana visinya bergerak ke genre populer lain macam Furious 7. Paling tidak, kita tahu bahwa ia cukup menjanjikan untuk dijajal ke ranah superhero. Apalagi, tampilan awal Aquaman Jason Momoa di Justice League juga tak segahar fisiknya. Terbukti atau tidak, janji itu mulai mengundang ekspektasi membuncah kala tahap demi tahap teaser ke trailer tak biasa yang berdurasi 4 menitan itu hadir ke publik.

Menarik kembali plotnya ke kisah origin sang superhero, Aquaman dimulai bak dongengan The Little Mermaid soal Putri Atlantis Atlanna (Nicole Kidman) yang terdampar di pantai dan diselamatkan petugas mercusuar Thomas Curry (Temuera Morisson). Atlanna yang ternyata melarikan diri dari pernikahan paksa di kerajaan bawah airnya jatuh cinta dengan Thomas, melahirkan seorang anak dengan genetik campuran bernama Arthur (dewasanya diperankan Momoa) hingga satu saat Atlanna terpaksa kembali ke Atlantis demi keselamatan Thomas dan Arthur. Tumbuh besar tanpa ibu, setahun setelah serangan Steppenwolf, Arthur yang menjadi penjaga samudera kembali menggagalkan sekelompok pembajak kapal selam. Meninggalkan dendam pada David Kane (Yahya Abdul-Mateen II) yang kehilangan ayahnya dalam perlawanan itu, Arthur tak menyadari bahwa David direkrut oleh saudara tirinya, Raja Orm (Patrick Wilson) yang merencanakan penghancuran terhadap umat manusia sambil mengejar tahtanya di Atlantis. Adalah Mera (Amber Heard), calon permaisuri Orm sekaligus putri Nereus (Dolph Lundgren) dari kerajaan Xebel yang kemudian mendatangi Arthur untuk menggagalkan rencana jahat Orm. Dibantu Vulko (Willem Dafoe), penasehat Atlantis yang dulu sempat dititipkan Atlanna untuk melatih Arthur, Arthur pun harus menghadapi takdirnya sebagai putra mahkota Atlantis, sang penguasa lautan yang dikenal manusia dengan nama Aquaman.

Cukup mengejutkan bagaimana penulis skrip David Leslie Johnson-McGoldrick (Red Riding Hood, Wrath of the Titans dan The Conjuring 2) bersama Will Beall (Gangster Squad) berdasarkan ide cerita dari Wan, Beall dan tentunya Geoff Johns – nama penting di DC Entertainment dan produk-produknya terutama serial TV yang diharapkan bisa menyelamatkan DC belakangan, bisa bersinergi bersama James Wan membawa pengisahan Aquaman melawan pakem film-film DC – Warner Bros. yang biasanya serba gelap, kembali ke pakem-pakem klasik kisah asal-usul superhero dengan visi hiburan sebagai elemen terdepan.

Terasa sekali, Aquaman tak mencoba masuk ke usaha-usaha kompleksitas dalam menyatukan latar dua dunia kisahnya melainkan lebih berdiri di atas referensi ke film-film fantasi petualangan klasik yang bertabur dari Atlantis: the Lost Continent, Indiana Jones, Superman klasik, Flash Gordon, Hercules, The Karate Kid, Island of the Fishmen hingga action kapal selam macam North Sea Hijack bahkan hint-hint ke animasi Disney seperti Atlantis, The Little Mermaid hingga Pinocchio.

Meramu fairy tale dan legenda Atlantis ke superhero origin soal perjalanan takdir seorang putra mahkota dalam perjuangan menyelamatkan umat manusia, elemen-elemen itu menyatu tanpa lagi perlu menyemat studi-studi karakter kelewat mendalam ataupun plotwise ini-itu, tapi cukup berdiri di atas sebuah quest untuk menemukan jatidiri dengan pesan kuat soal kepemimpinan lawan kepahlawanan, juga cinta dan keluarga, sementara titik beratnya ada pada pencapaian visual tak main-main memuat segala adegan aksi combat fight, parkour hingga peperangan akbar di bawah samudera. Dengan sinematografi peraih award Don Burgess dari film-film fantasi seperti Spider-Man, The Polar Express, Enchanted yang juga ditarik Wan ke The Conjuring, berikut balutan CGI dan efek visual keroyokan dari ILM, Weta dan Digital Domain, berikut signature James Wan yang sangat terasa dalam dinamika action seperti salah satu adegan jagoannya melintasi lanskap Sisilia, Italia, hasilnya memang adalah sebuah spektakel yang dipenuhi sekuens-sekuens yang belum pernah kita saksikan sebelumnya di layar lebar.

Kalaupun ada satu hal yang dipertahankan dari semesta DCEU, adalah gaya kompilasi dalam muatan soundtrack-nya. Selagi scoring dari Rupert Gregson-Williams menyambung hint ke theme-nya di Justice League dengan signature raungan gitar rock di setiap kemunculan Aquaman, kompilasi rock klasik dan pop-elektronik modern hadir membaurkan lagu-lagu dari Roy Orbison, Depeche Mode ke Sigur Ros, sample Africa-nya Toto oleh Pitbull dan end credit song Everything I Need dari Skylar Grey yang khusus ditulis untuk filmnya.

Semakin menyatu ke perannya sebagai Arthur Curry/Aquaman, walau dalam sebagian besar gesturnya tampak menyamai Chris Hemsworth sebagai Thor, Jason Momoa bermain dengan lead persona yang jauh lebih besar dari kiprahnya di Conan, sementara Amber Heard bermain menarik sebagai Mera, sidekick yang mengisi kepentingan female lead di trend yang ada sekarang. Eskalasi chemistry-nya tertata dengan baik meskipun terlihat canggung di bagian-bagian awal, sementara dukungan para senior dari Dolph Lundgren, Willem Dafoe dan Nicole Kidman jelas menjadi daya tarik lebih, pun dengan duo porsi villain-nya yang terbagi dengan seimbang; Patrick Wilson dan Yahya Abdul-Mateen II. Masih ada motion capture act dan voice cast yang diisi sejumlah nama terkenal seperti Djimon Hounsou dan Julie Andrews sebagai Karathen, monster laut yang menyimpan kunci kekuatan Aquaman.

Namun memang, di atas semua digdaya visual dan pameran aksi masa kini berfondasi pakem klasik film-film di genre-nya, hal yang paling perlu dicatat dari Aquaman adalah usaha DC dan Warner Bros. membelokkan tampilan semestanya secara keseluruhan. Wonder Woman mungkin hadir sebagai pembuka jalan yang sangat berhasil mengubah lapangan main mereka selama ini dari visi seorang Patty Jenkins, namun James Wan dengan Aquaman ini lah yang menyempurnakan semua belokan-belokannya. Bergerak dari serba gelap dan gloomy menjadi terang-benderang penuh warna dan back to basic semata untuk menguatkan sisi daya tarik hiburan yang jauh lebih universal, walau kita tahu ini bukan hal gampang, DC mungkin sadar bahwa dengan source karakter yang sudah melegenda lebih dulu, mereka tak perlu terlalu insecure terhadap saingannya yang sekarang melesat hampir tak lagi terlampaui. Jalan ke sana, mencari keseimbangan-keseimbangan formula dari instalmen-instalmen mendatang untuk menyamai Marvel mungkin masih cukup jauh, tapi ini jelas sesuatu yang perlu dirayakan lebih untuk kelangsungan genre dan semestanya. So welcome home DC, and game on! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)