Home » Dan at The Movies » BUMBLEBEE (2018)

BUMBLEBEE (2018)

BUMBLEBEE: REPLACING CLANGS WITH ULTIMATE 80S COMPILATION AND BANGS WITH HEARTBEATS

Sutradara: Travis Knight

Produksi: Di Bonaventura Pictures, Allspark Pictures, Tencent Pictures, Paramount Pictures, 2018

Meski dianggap banyak kritikus dan penonton kelewat serius sebagai dosa besar dan penistaan sinema oleh Michael Bay di balik gaya bombastisnya, toh tak ada yang bisa mencegah Transformers sebagai franchise sukses yang selalu dibanjiri penonton. Tanpa pula bisa menampik bagaimana Hasbro sebagai produsen aslinya terus mengeruk pundi-pundi dengan penjualan merchandise yang seakan tak ada habisnya. Namun mungkin, bersama Bay, nama-nama para industrial moguls di franchise-nya, dari Lorenzo di Bonaventura hingga Steven Spielberg menginginkan sebuah penyegaran.

Sementara masih banyak cibiran dari publisitas rencana awal melanjutkan instalmennya ke sebuah spinoff, prekuel, origin story atau apapun pilihan sebutannya, dengan Bay yang mundur ke kursi produser, tanpa disangka rangkaian promo-nya dari trailer mulai membalik opini itu. Bumblebee, walau tetap digagas nama-nama yang sama dan kini berpindah ke tangan sutradara Travis Knight dari animasi berstatus acclaimed Kubo and the Two Strings, ternyata bermain di ranah sedikit berbeda dari pendahulunya. Di atas tone yang terlihat lebih serba low key, ekspektasi ini terus mendaki hingga preview awalnya dibanjiri segudang pujian sebagai instalmen terbaik yang sudah lama ditunggu-tunggu dan banyak lagi puja-puji lainnya. Entah apa yang mereka lakukan, di minggu-minggu inilah kita mendapat jawabannya.

Membawa perseteruan para Autobots dan Decepticons di Planet Cybertron kembali ke masa-masa awalnya, Bumblebee mengisahkan bagaimana Transformers bisa mendarat di bumi sebagai tempat yang ditunjuk Optimus Prime untuk membangun kekuatan Autobots demi menyelamatkan Cybertron. Kewalahan menghadapi amukan Decepticons, Optimus Prime (disuarakan Peter Cullen) mengirim kamerad mudanya, Autobots kuning bernama B-127 (Dylan O’Brien) untuk duluan mengamankan bumi di tahun 1987. Jejaknya tercium oleh Blitzwing (David Sobolov), Decepticons yang langsung menyusul ke bumi sebelum belakangan diikuti oleh Shatter (Angela Bassett) dan Dropkick (Justin Theroux). Kedatangan Transformers memicu agen rahasia Jack Burns (John Cena) dari satuan rahasia pemerintah Sector 7 untuk bertindak namun ilmuwan Dr. Powell (John Ortiz) mendorong pemerintah menuruti Decepticons mendompleng satelit karena mengharapkan teknologi mutakhir mereka. Sementara B-127 mendarat di sebuah garasi sebelum dibawa pulang oleh gadis remaja Charlie Watson (Hailee Steinfeld) dengan bentuk VW Beetle penyamarannya. Charlie yang punya masalah dengan keluarga sepeninggal ayahnya lambat laun mulai bersahabat dengan B-127 yang lantas dinamakannya Bumblebee. Namun tak lama bersembunyi, mereka terpaksa menghadapi amukan Shatter dan Dropkick yang langsung menyatroni Charlie dan Bumblebee.

Mengejutkan bagaimana penulis skrip wanita, Christina Hodson, yang walau punya 3 karya di Black List Hollywood namun selama ini menghasilkan karya di bawah rata-rata seperti thriller Shut In dan Unforgettable – keduanya sangat forgettable, bisa membuat Bumblebee menempuh perjalanannya menjadi sebuah instalmen Transformers yang berbeda. Bersama Knight, mereka membidik template dan trope film-film fantasi keluarga a la Spielberg era 80-90an, membenturkan dua kisah coming of age lengkap dengan bangunan atmosfer bak sebuah album kompilasi eranya yang tak hanya memuat lagu-lagu dari band 80an populer – dari Tears for Fears, The Smiths, Rick Astley, A-ha hingga Bon Jovi dan Duran Duran, bahkan theme song film animasi layar lebarnya; The Touch oleh Stan Bush sebagai tribute, tapi juga desain produksi yang sangat atmosferis.

Mengganti bising-bising bunyi clang di pertarungan para makhluk Cybertron dengan kompilasi 80an penuh referensi yang tengah menjadi siklus trend industri blockbuster mereka sekarang – termasuk ke gegap gempita The Breakfast Club dan theme song Don’t You (Forget About Me) dari Simple Minds buat merepresentasikan genre teen movie John Hughes yang begitu populer di zamannya, dan gelegar boom-bang dengan denyutan jantung yang terasa sangat berjiwa, kisah origin ini mengalir bak film-film legendaris seperti E.T., Flight of the Navigator , D.A.R.Y.L. bahkan Herbie. Pace-nya berjalan perlahan, tak buru-buru di atas nafas character-driven yang sangat terasa di skrip Hodson dan pengarahan Knight, tapi tak sekalipun jadi membosankan.

Seperti sebuah antitesis terhadap pakem Transformers Michael Bay biasanya, walau tetap dipenuhi pertarungan dan ledak-ledakan khas franchise-nya, semua hadir dengan pengaturan balance yang luar biasa, termasuk sinematografi Enrique Chedak (nominee award bersama Anthony Dod Mantle di 127 Hours) yang memberi batasan beda dengan gaya Bay biasanya. Begitu pula alunan komposisi score Dario Marianelli yang jauh lebih halus dan simfonik.

Juga menggantikan fokus gender Transformers yang biasanya meletakkan karakter pria sebagai sentralnya, Bumblebee kini bergerak ke karakter remaja wanita yang diperankan dengan dinamis oleh Hailee Steinfeld. Steinfeld juga sekalian mengisi theme song cantik sesuai talenta bermusiknya berjudul Back to Life. Ini sekaligus menepis tuduhan-tuduhan seksis yang di instalmen-instalmen awal yang menempatkan cewek seksi sebagai salah satu ikonnya, walaupun punya resiko di penempatan karakter Memo (Jorge Lendeborg, Jr.) yang terkesan terlalu canggung hanya dengan alasan mempertebal dominasi female lead-nya. Sementara di patron karakter hunky-nya, John Cena kini tetap ditahan se-level dengan Josh Duhamel tanpa mendominasi porsi lead seperti Mark Wahlberg di dua instalmen terakhir.

Bermain-main di bongkar pasang elemen-elemen biasa yang mampu dihadirkan menjadi bentuk bangun berbeda inilah yang menjadi sisi paling menarik dalam Bumblebee, bahwa mereka boleh saja menurunkan level-nya bak sebuah instalmen low key, namun secara konsep tetap punya high pitch yang bahkan bisa membalik opini para pembenci Transformers tanpa mengorbankan fans termasuk serial animasinya. Tak terlalu bijak mungkin langsung mengatakan bahwa ia lantas mengalahkan instalmen pertama yang begitu inventif dalam tiap kalkulasi teknikal buat menghidupkan proses transforming robot-robot Cybertron yang menjadi mimpi fans-nya sejak lama, tapi ini jelas sebuah penyegaran mengagumkan yang membawa hati sebegitu besar ke dalam franchise-nya. Paling tidak kita tahu, di saat montase-montase pengujungnya perlahan membawa kita kembali ke Bumblebee yang selama ini kita kenal, yang satu ini juga tak kalah menggelegar. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter