Home » Dan at The Movies » HOW TO TRAIN YOUR DRAGON: THE HIDDEN WORLD (2019)

HOW TO TRAIN YOUR DRAGON: THE HIDDEN WORLD (2019)

HOW TO TRAIN YOUR DRAGON: THE HIDDEN WORLD: AN EMOTIONAL SEND-OFF TO THE SERIES

Sutradara: Dean DeBlois

Produksi: DreamWorks Animation, Universal Pictures, 2019

Image: impawards.com

Walau tak punya merchandising sebesar animasi-animasi Disney, ataupun animasi DreamWorks lain seperti Shrek atau Kung Fu Panda sebagai saudara-saudaranya, tak bisa dipungkiri bahwa How to Train Your Dragon merupakan salah satu franchise animasi Hollywood paling sukses – baik dari BO maupun resepsi kritikus. Keunggulan utama adaptasi buku anak-anak berjudul sama karya Cresida Cowell walau bukan buku per buku dan lebih ke adaptasi lepas ini ada pada visual animasinya, yang sejak film pertamanya banyak dianggap mendobrak standar genre-nya. Selain itu, sebagai animasi segala umur, plotnya juga bermain lebih berani di tantangan penceritaan yang membawa banyak urgensi lebih dewasa, dari amputasi ke kematian, di balik kisah permusuhan spesies namun punya orientasi keluarga yang kuat.

Dari kiprahnya di Disney; Mulan (head of story) dan Lilo and Stitch (co-director), kesuksesan How to Train Your Dragon memang ada di tangan kreatornya, Dean DeBlois (bersama Chris Sanders di film pertama). Kini, kisah persahabatan anak viking Hiccup dan naga alfa bernama Toothless ini pun berlanjut ke instalmen ke-3, dan agaknya DreamWorks memang hendak menutup franchise-nya sebagai trilogi, entahlah kalau nanti berlanjut lagi. Yang jelas, pencapaiannya memang layak untuk tak berhenti di instalmen ke-2 yang masih mendulang sukses besar di perolehan BO sekaligus memenangkan Golden Globe 2014 sebagai film animasi terbaik.

Sepeninggal Stoick (disuarakan Gerald Butler) di film kedua, Hiccup (Jay Baruchel) kini menjadi kepala suku viking Berk yang berhasil membangun dunia di mana manusia dan naga bisa hidup bersama. Melanjutkan misi itu, bersama Astrid (America Ferrera) sang kekasih, ibunya yang kembali; Valka (Cate Blanchett) dan gang Dragon Riders; Snotlout (Jonah Hill), Tuffnut – Ruffnut (Justin RuppleKristen Wiig), Fishlegs (Christopher Mintz-Plasse) plus Eret (Kit Harrington), mereka membebaskan naga-naga dari para pemburu, hingga akhirnya mereka harus berhadapan dengan pemburu naga sadis bernama Grimmel (F. Murray Abraham). Tanpa disangka, Grimmel bukanlah tandingan mereka yang biasa. Menempatkan suku Berk dalam bahaya besar di balik mitos keberadaan dunia tersembunyi yang dihuni para naga, Hiccup harus bertarung sambil memikirkan kembali takdir persahabatan manusia dengan naga termasuk Toothless yang kini menemukan pasangannya; Night Fury betina putih yang dikenal sebagai Light Fury.

Skrip yang tetap digawangi DeBlois memang terlihat tak lagi punya amunisi dengan level tantangan sama untuk melanjutkan petualangan Hiccup dan Toothless dengan urgensi-urgensi serba edgy dan dewasa yang ada di film pertama dan kedua. Ketimbang jatuh ke belokan-belokan repetitif atau menambah lagi karakter tambahan yang sudah cukup penuh sesak, itu juga mungkin yang membuatnya dan DreamWorks memilih peralihan ke elemen-elemen finale untuk mengakhiri franchise-nya; paling tidak sebagai trilogi awal How to Train Your Dragon kalaupun nanti mereka punya inovasi lain untuk melanjutkannya.

Bagusnya, DeBlois dan timnya masih terus berpijak di keunggulan utama franchise-nya yang seharusnya sudah mereka sadari sejak awal. Menggempur lagi elemen visual animasinya, The Hidden World tampil dengan segala sisi keindahan visual bak Avatar versi animasi dalam bangunan semesta ekspansinya, sementara konflik-konflik aksinya masih ditahan untuk tak tampil kekanak-kanakan bersama sematan love tale Toothless dengan Light Fury yang dikemas begitu menarik. Hampir semua talenta pengisi suara yang kembali; dalam kecenderungan DreamWorks menggunakan aktor-aktor terkenal juga masih diberi keleluasaan meski mungkin hanya Kristen Wiig sebagai Ruffnut yang kini tampil lebih menonjol dibanding karakter-karakter lainnya. Sementara scoring John Powell tetap mengisi bagian-bagian penting dengan komposisi aslinya terutama di bagian-bagian klimaks.

Namun bagian terbaiknya tentulah ada di montase finale yang menutup franchise ini dengan emosional. Walau tak seberani elemen amputasi dan kematian di instalmen-instalmen sebelumnya, belokan plot yang cukup kompleks soal letting go bisa dikemas DeBlois dan timnya dengan konsistensi motivasi dan proses-proses pendewasaan karakter. The Hidden World tetap tak melepas penceritaannya di ranah yang terasa lebih dewasa dari film-film animasi sejenis, tapi tetap bisa dinikmati pemirsa segala umur dengan mudah termasuk ke sematan emosinya. Lagi-lagi, dalam konteks franchise a la Hollywood yang kerap melanggar janji, apapun bisa terjadi nanti. For a while, this means goodbye, dan The Hidden World sudah menyuguhkan sebuah instalmen pamungkas yang berarti buat franchise-nya. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)