Home » Dan at The Movies » LAGI-LAGI ATENG (2019)

LAGI-LAGI ATENG (2019)

LAGI-LAGI ATENG: A DECENT TRIBUTE SURPRISINGLY WRAPPED WITH HEARTS

Sutradara: Monty Tiwa

Produksi: 13 Entertainment, Dirgahayu Productions, Ideosource Entertainment, 2019

Di zaman IP menjadi begitu penting untuk roda industri film kita, di mana investor akan punya ketertarikan lebih terhadap baik baru maupun daur ulang yang punya potensinya, produk-produk reboot, reborn, tribute atau apapun yang kita anggap lebih tepat dalam kotak istilahnya juga punya pembelajaran penting. Ini sama sebenarnya dengan film-film luar di tengah trend yang sama, namun berbeda dalam bidikannya, tingkatan potensi IP-nya lah yang kemudian harus sangat diperhitungkan.

Dalam konteks komedi, saat film-film seperti The Three Stooges atau Stan & Ollie tak sebesar itu gaungnya di negara luar AS karena faktor pengenalan, di dalam negeri sendiri – ada peringkat potensi yang berbeda dari produk dengan sumber-sumber sejenis. Warkop DKI berhasil jelas karena kontinuitas pengenalannya masih berjalan dengan baik melintasi generasi ke penonton sekarang, salah satunya karena film-filmnya masih kerap diputar ulang di TV.

Di sini, setelah kesuksesan Warkop DKI dan kegagalan Benyamin yang sebenarnya punya potensi cukup besar, bersama beberapa film sejenis yang akan dirilis seperti PSP ataupun Srimulat-nya MNC, Lagi-Lagi Ateng agaknya menanggung beban cukup berat untuk dihidupkan kembali. Walau termasuk sosok duo komedian legendaris Ateng-Iskak dari perkembangan grup Kwartet Jaya (bersama Bing Slamet dan Eddy Sud sebelum Sol Saleh masuk menggantikan Bing sepeninggalnya) yang sama legendarisnya, film-film mereka harus disadari sudah kehilangan kontinuitas pengenalan tadi ke generasi sekarang. Jarang bahkan mungkin tak pernah dalam 1-2 dekade akhir ini, kecuali di channel TV cable berbayar, film mereka ditayangkan ulang oleh TV kita, sementara produk-produk home video-nya pun lebih gampang didapat di negara tetangga ketimbang di Indonesia.

Begitupun, bukan berarti usaha menghidupkan kembali mereka di film baru untuk generasi sekarang tak layak buat dicoba. Paling tidak, dari ramainya grup komedian yang lahir dan besar di era ’70-‘80an, Ateng-Iskak jelas ada di deretan atas. Sisanya tinggal menanti helmer dan cast yang tepat. Sejak awal woro-woronya, kita tahu bahwa nama Soleh Solihun mungkin akan pas buat memerankan Iskak, namun nama presenter Augie Fantinus yang baru akan memulai debutnya masih sulit terbayang hingga poster dan trailer-nya kemudian dirilis. Sementara kursi penyutradaraan ada di tangan Monty Tiwa, sineas yang memang sudah cukup teruji di genre komedi.

Masih ada pertanyaan-pertanyaan lain dari proses keseluruhan soal peran sampingan yang dulu seakan wajib hadir di film-film mereka, antara lain Vivi Sumanti di porsi pendamping utama wanita, yang biasanya selalu jadi sasaran interest Ateng-Iskak, sementara ada sedikit homage ke Wolly Sutinah yang lebih dikenal dengan Mak Wok (Ateng Bikin Pusing, 1977) yang sebenarnya lebih rutin bermain di film-film Benyamin S.. Vivi sebenarnya sosok yang melekatnya sudah seperti Eva Arnaz atau Lydia Kandou (walau tak bermain di semua filmnya) di Warkop atau Ida Royani atau Yatni Ardi bagi Benyamin S., tapi lagi-lagi pertanyaannya; seberapa banyak sih penonton sekarang yang kenal dengan nama-nama itu? Sementara selebihnya adalah proses promosi untuk memperkenalkan kembali yang memang tak berjalan seperti seharusnya. Mungkin akan lebih baik kalau 13 Entertainment di balik Flik TV yang merestorasi produk-produk IP Ateng-Iskak menayangkan film lamanya kembali secara terbatas di bioskop ataupun di saluran-saluran TV nasional. Sayangnya, tak begitu.

Lagi-Lagi Ateng pun dimulai dengan pengenalan karakternya. Sebagaimana Ateng di film-filmnya, komedian yang punya signature seperti bocah karena posturnya, Ateng (diperankan Augie Fantinus) di sini juga sama; anak berusia 26 tahun yang dimanjakan oleh ayahnya, Budiman (Surya Saputra) di balik trah bangsawan di Salatiga. Kerjanya hanya bermain sepanjang hari bersama Iskak (Soleh Solihun), sahabat Ateng sejak kecil yang bertindak sebagai penjaga setianya, lantas Bik Sutinah (RohanaSrimulat), asisten rumah tangga mereka – juga Susi, sapi peliharaan Ateng yang setiap hari diperah susunya. Di ulang tahunnya, Budiman terpaksa mengiyakan permintaan Ateng untuk berlibur ke Jakarta asalkan ditemani Iskak. Mereka pun bertolak ke Jakarta tanpa menyangka di sana mereka akan bertemu dengan Agung (juga diperankan Augie Fantinus), motivator terkenal bersama asistennya – Cemplon (Julie Estelle) yang ternyata menyimpan rahasia terhadap sejarah keluarganya di balik keberadaan sang Ibu yang tak pernah disadari Ateng, Ratna (Unique Priscilla). Agung yang awalnya berpikir licik bisa mendapatkan warisan kelas bangsawan akhirnya bersepakat bekerjasama dengan Ateng-Iskak menyatukan kembali Budiman dan Ratna dengan cara berlibur ke Bali, tentu saja di tengah serangkaian kekacauan yang terjadi.

Terdengar seperti plot The Parent Trap, film produksi 1998-nya Disney yang melambungkan nama Lindsay Lohan berperan ganda sebagai anak kembar terpisah yang hendak menyatukan kembali orang tua mereka? Oh jangan salah dulu. Selain The Parent Trap sejatinya adalah remake dari film produksi 1961 berjudul sama dari Disney, plot ini sudah lebih dulu muncul di film Jerman tahun 1950 – Two Times Lotte. Seiring perkembangan sinema, plot macam ini sudah menjadi sebuah template di film-film bertema keluarga baik yang berpijak di lead kembar atau tidak – dari film Hong Kong ke Bollywood, termasuk Hollywood sendiri, salah satunya di film liburan natal All I Want for Christmas (1991).

Bersamanya, ada pula elemen-elemen serupa soal si kembar bertukar nasib dari The Prince and The Pauper-nya Mark Twain – juga menjadi inspirasi lain di The Parent Trap, yang sejak pertama kali diterbitkan tahun 1881 sudah berkali-kali diangkat ke film. Tercatat, selain animasi Disney, yang masih cukup dikenal adalah produksi Alexander Salkind tahun 1977 hingga mengilhami Trading Places-nya John Landis (1983) yang dibintangi Eddie Murphy dan Dan Aykroyd. Jadi lagi-lagi, buat yang menuduhnya menjiplak plot, baik The Parent Trap ataupun The Prince and the Pauper bukanlah sebuah karya dengan status one of a kind di genre-nya, tapi sudah menjadi template yang kerap dipakai di banyak film lain.

Untungnya, menggunakan template itu ke Lagi-Lagi Ateng, Monty yang juga sekalian menulis skripnya, tampak cukup rajin mengerjakan PR-nya menggali sumber-sumber asli film Ateng-Iskak dan tak seperti latar utama kegagalan Benyamin Biang Kerok, ia mentransformasikan plot ini ke sebuah drama komedi keluarga yang sangat membumi. Untuk penonton yang lebih mengenal source aslinya, kita bisa melihat bagaimana babakan awalnya sibuk mengadopsi homage ke film-film Ateng-Iskak aslinya dengan cukup detil. Latar kehidupan Ateng hingga Agung (nama Agung datang dari nama anaknya almarhum) yang sedikit mengambil homage dari film Ateng Kaya Mendadak, adegan kue ultah, sapi peliharaan, meja makan, memencet-mencet tombol dalam lift dan banyak lagi di balik gaya komedi signature mereka yang dipertahankan dengan setia. Sebagian penonton bisa saja tak akrab dengan ini, tapi begitulah adanya.

Bersama penguasaan Monty terhadap sumber dan penceritaan yang mengalir ini, tanpa disangka-sangka, Augie-lah yang memanfaatkan kesempatan debut-nya dengan luar biasa baik. Tak hanya bertransformasi sebagai Ateng dalam setiap gestur, ekspresi serta intonasi di balik balutan riasan Darwyn Tse yang sangat nostalgik dan mengesankan postur yang aslinya sama sekali tak seperti Ateng jadi terlihat serupa di antara aktor-aktor pendampingnya dengan pengaturan padu-padan serta angle, ia juga men-tackle tugas beratnya berperan ganda dan bertukar satu sama lain dengan sangat mengagumkan. Kita, sebagai penontonnya bisa dengan mudah mengenali kapan ia menjadi Ateng atau Agung di tengah kisah pertukaran yang menempatkan mereka bergonta-ganti kostum satu sama lain. Sementara Soleh Solihun, walaupun di beberapa scene berhasil mengimitasi cekikikan gaya Iskak, sayangnya masih sedikit kurang sempurna memainkan transformasinya. Untungnya, chemistry-nya dengan Augie cukup mengalir ketika mereka melakukan tektokan ala Ateng-Iskak di sebagian besar adegannya.

Mendampingi mereka, Julie Estelle pun bermain cukup berbeda sebagai Cemplon, sekretaris kikuk yang menjadi sasaran lawakan Iskak sebagai love interest-nya, selagi Rohana yang tampil cukup singkat bisa mencuri adegan-adegannya untuk menghantarkan pergeseran komedik ke dramatik yang dihadirkan Monty dengan rapi serta taktis yang tanpa disangka mengalihkan komedinya menjadi drama keluarga – kisah cinta terbentur tradisi yang sangat emosional dan mengharukan. Tetap tak melupakan percikan-percikan komedi, di sinilah, Surya Saputra dan Unique Priscilla menjadi dua unsur terunggul setelah Augie dalam Lagi-Lagi Ateng. Performa affecting Surya sebagai Budiman benar-benar menjadi penampilan terbaik – bahkan mungkin selama karir aktingnya, apalagi chemistry-nya dengan Unique, yang membuat kita sadar sosok wanita ini semestinya lebih sering tampil di film kita. Bersama duo Augie, mereka sukses membentuk family circle begitu kuat yang menempatkan kita di tengah tawa dan air mata buat peduli dengan putaran nasib mereka, bahkan tak segan berkonyol-ria ketika salah satu tribute ke boyband ‘90an Surya (dengan Ari Sihasale & Teuku Ryan) – Cool Colors, dengan lagu Tataplah, muncul sebagai adegan paling juara (yang katanya tak ada di skrip) ke depan layar.

Lagi-lagi, katanya, komedi terbaik adalah komedi yang bisa membuat kita tertawa sambil terharu dengan mata basah, dan Lagi-Lagi Ateng menemukan pencapaian terbaiknya di situ. Apalagi lewat adegan pamungkas yang kemudian menyimpulkannya sebagai sebuah penghargaan penuh respek, yang membuat kita menyadari sebuah konsep duet sangat loyal yang membuat tokoh-tokohnya jadi begitu besar. Bahwa walau nama Iskak tak pernah disemat seperti Ateng di semua bandrol film-film mereka, di mana ada Ateng, di situ harus ada Iskak. Sayang memang rendisi barunya tak bisa diterima sebaik Warkop; tapi mudah-mudah seiring waktu akan lebih banyak lagi yang menyadari bahwa ini sama sekali bukan usaha yang sekadar main-main. Yang penting, kita bisa yakin alm. Ateng dan Iskak pasti tersenyum bangga dari atas sana melihat warisan mereka ada di tangan talenta-talenta yang benar. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter