Home » Dan at The Movies » GLASS (2019)

GLASS (2019)

GLASS: A FINALE WITH DISAPPOINTING ENDS

Sutradara: M. Night Shyamalan

Produksi: Blinding Edge Pictures, Blumhouse Productions, Buena Vista Int, 2019

Image: impawards.com

Begitu fenomenalnya The Sixth Sense (1999) dulu sehingga melambungkan nama M. Night Shyamalan sebagai salah satu sineas paling visioner di Hollywood. Sebelum jatuh lewat serangkaian karyanya setelah The Village (2004) dan bangkit lagi lewat The Visit (2015), Unbreakable (2000) merupakan kelanjutan suksesnya setelah The Sixth Sense yang cukup melekat di kalangan penikmat film. Kiprah Shyamalan mengangkat sebuah film superhero yang berbeda itu akhirnya berlanjut secara mengejutkan di tahun 2016 lewat Split, benar-benar mengangkat lagi namanya dalam penempatan twist.

Tak heran kalau Glass kini hadir sebagai pelengkap trilogi yang dinamakannya The Eastrail 177 Trilogy; di mana ia menggabungkan 3 karakter utama dari masing-masing instalmennya yang diperankan oleh Bruce Willis, James McAvoy dan kini mengambil judul karakter yang diperankan Samuel L. Jackson di Unbreakable. Konsep unik soal manusia berkekuatan super dan arch-nemesis-nya itu kini membawa David Dunn (Willis) – yang masih melanjutkan aksinya memerangi kejahatan bersama putranya Joseph (Spencer Treat Clark), psikopat dengan 23 kepribadian Kevin Wendell Crumb (McAvoy) dan Elijah Price (Jackson) ke sebuah fasilitas riset psikologi di bawah arahan Dr. Ellie Staple (Sarah Paulson). Di sana, eksistensi mereka sebagai manusia-manusia unik dipertentangkan dengan persuasi Staple soal kelainan mental hingga sebuah rahasia menyeruak di pengujungnya.

Niat merencanakan Unbreakable sebagai trilogi sejak awal memang baru berlanjut lagi lewat Split tanpa disangka. Harus diakui memang, Unbreakable merupakan sebuah karya groundbreaking di genre-nya yang seakan menyamarkan diri sebagai sebuah thriller, begitu pula Split yang cenderung ke horor psikologis. Itu pula yang lantas membuat mereka serta penonton lain begitu menunggu Glass sebagai pamungkas yang memuat konklusi triloginya, selain tentunya star-factor yang dibawa nama ketiga pentolan utamanya.

Namun seakan membawa beban berat yang dulu anjlok dengan ekspektasi berlebih di balik signature-nya sebagai master of twists, Glass yang sudah dimulai dengan menarik sayangnya tak dihantar ke ranah yang baru oleh Shyamalan. Meski filosofi seputar superhero dan komiknya tetap menarik, jalan menuju konklusinya sudah keduluan oleh konsep-konsep serupa yang ditawarkan di franchise X-Men. Sudah begitu, kemasannya yang tergolong low-budget tak memberi ruang buat Shyamalan untuk bisa menghadirkan adegan-adegan aksi yang seru sebagai instalmen pamungkas yang sudah ditunggu-tunggu.

Paruh awal yang digagas dengan taktis oleh Shyamalan untuk mempertemukan karakter-karakter dalam trilogi ini terasa agak terseret dengan set nyaris satu lokasi dipenuhi pengenalan berulang dalam sebuah hospital drama/thriller, walaupun karakter Casey (diperankan Anya Taylor-Joy) dari Split tetap dimunculkan kembali secara efektif bersama putra karakter Willis yang diperankan Spencer Treat Clark, begitu pula Sarah Paulson sebagai Dr. Staple yang masuk ke tengah-tengah mereka.

Sayangnya, eskalasi yang sempat menanjak menuju paruh kedua tak bisa terbayar dengan baik oleh action staging yang memadai.Begitu buruknya bagian klimaks ini dengan hanya menyisakan sedikit saja adegan aksi yang harusnya bisa tampil lebih menggelegar kala karakter-karakter ini dipersatukan, Shyamalan mungkin tetap hendak menahan atmosfernya sebagai sebuah genre pseudo-superhero yang dibuat sepenuhnya bersama nafas swaproduksi, mungkin yang terasa paling hemat dari semua garapan teknis di filmografi Shyamalan. Tak sepenuhnya salah memang, tapi dengan gempuran blockbuster yang sudah biasa dilihat, Glass jadi terasa terlalu kecil dan tak lagi terlihat menarik, bahkan dengan selipan potensi sekuel yang digelarnyadi ujung. Apa boleh buat. (dan)