Home » Dan at The Movies » THE KID WHO WOULD BE KING (2019)

THE KID WHO WOULD BE KING (2019)

THE KID WHO WOULD BE KING: A CROWD-PLEASING FAMILY TREAT WITH AN UPDATE MESSAGE OF ENEMIES AND ALLIES

Sutradara: Joe Cornish

Produksi: 20th Century Fox, Working Title Films, Big Talk Productions, 2019

Image: impawards.com

Selain genre romcom, film fantasi anak/keluarga agaknya juga menjadi genre yang sudah kian tergerus sekarang. Bukan tak ada, namun tergantikan dengan blockbuster superhero serta animasi yang semakin besar pangsanya di sasaran audiens yang makin luas, sementara genre adventure fantasy untuk anak dan keluarga yang marak di era 80-90an juga hanya menyisakan blockbuster-blockbuster berbujet raksasa seperti Harry Potter dan sejenisnya.

Datang dari Joe Cornish, sutradara asal Inggris dari Attack the Block yang memang muncul dengan signature nostalgik ke gaya old fashion di karya debut itu – juga menorehkan minat besarnya ke genre ini lewat skrip The Adventures of Tintin dan Ant-Man, The Kid Who Would Be King membuka jalan kembali ke genrenya. Merupakan produksi Inggris-Amerika dari Working Title dan Fox, dengan gaya Inggris yang sangat terasa, pendekatannya lebih mengarah ke film-film fantasi petualangan 80-90an tadi, termasuk satu produksi Disney tahun 1995 yang paling mendekati; A Kid in King Arthur’s Court.

Hidup Alex Elliot (Louis Ashbourne Serkis) seketika berubah ketika ia menemukan  pedang yang tertancap di dalam batu saat melarikan diri dari sepasang bully sekolahnya; Lance (Tom Taylor) dan Kaye (Rhianna Doris) yang kerap mengganggu sahabatnya, Bedders (Dean Chaumoo). Mencabut pedang yang ternyata adalah Excalibur milik King Arthur, Alex ternyata ditakdirkan menjadi pengganti Arthur zaman ini di balik rencana penyihir Morgana (Rebecca Ferguson) yang bersiap bangkit kembali untuk menguasai dunia dengan kekuatan jahatnya. Dengan bantuan Merlin (Angus Imrie/Patrick Stewart), Alex pun mengumpulkan ksatria meja bundar versinya untuk menghadapi Morgana dan bala tentara underworld-nya.

Digagas jauh lebih sederhana dari blockbuster anak/keluarga yang belakangan ini merajai pasar, apalagi bernuansa Inggris yang serba tak bombastis, The Kid Who Would Be King memang sangat terasa old-fashioned. Ini mirip seperti film-film fantasi petualangan keluarga era 80-90an yang dulu kerap diproduksi Touchstone, Amblin atau Universal, sebut seperti The Witches (1990), The Pagemaster (1994) dan banyak lagi, atau dalam pendekatan halus ala Inggrisnya, seperti atmosfer yang kita rasakan kala menyaksikan Paddington meski subgenre-nya berbeda. Begitupun, skrip yang ditulis sendiri oleh Joe Cornish tak lantas membuatnya kekurangan darah serta potensi dengan bidikan-bidikan yang lebih kekinian dalam bangunan karakternya.

Di atas trope genrenya dari soal sekolahan dan bully, juga anak yang merindukan sosok ayah, legenda King Arthur ia hidupkan kembali dengan cerdas ke arah pesan yang selama ini mungkin luput dari perhatian para penggagas di sejumlah adaptasinya, dan ini sudah dimunculkan lewat prolog animasi di kredit pembuka. Bukan lagi semata soal Excalibur dan sosoknya sendiri, Cornish meletakkan penekanan lebih ke strategi Arthur menjadikan lawan menjadi kawan. Di sana, di tengah ansambel yang lebih mengusung diversitas etnis – meski tak setebal apa yang dilakukannya di Attack the Block, ia menyemat pesan berharga yang sama, bahwa lawan tak selamanya harus dilawan.

Di deretan cast-nya yang rata-rata wajah baru kecuali dua pemain senior, Patrick Stewart dan Rebecca Ferguson dalam porsi tak terlalu banyak, pemeran cilik Louis Ashbourne Serkis tampil sangat menonjol sebagai karakter bernama sangat catchy. Meski masih mewarisi bakat ayahnya, Andy Serkis – yang dikenal lewat performa mocap (motion capture) Gollum (The Lord of the Rings), Cesar (Planet of the Apes) ataupun King Kong, yang di sini juga dijadikan referensi dialog oleh Cornish, Louis kabarnya mendapatkan peran Alex lewat audisi. Pendampingnya, aktor-aktor belia dari Dean Chaumoo, Rhianna Doris sampai Tom Taylor dan Angus Imrie yang lebih punya nama juga bermain bagus dengan eskalasi chemistry yang menarik.

Walau digagas serba sederhana dan old fashioned, bukan berarti visual dan penempatan efek dan CGI-nya jadi sembarangan. Pendekatan sangat imajinatif dan kecermatannya mentransformasi legenda King Arthur dan Excalibur ke set modern dengan isu-isu yang relevan membuat The Kid Who Would Be King sama sekali tak berada di kelas produk-produk tontonan anak/keluarga berkelas cable TV atau homevideo yang sampai sekarang masih terus diproduksi. Sekali lagi, Cornish membuktikan signature-nya mengusung nostalgia dan approach baru di genre fantasi petualangan untuk keluarga yang benar-benar jauh dari kata basi. (dan)