Home » Dan at The Movies » PREMAN PENSIUN (2019)

PREMAN PENSIUN (2019)

PREMAN PENSIUN: A FILM ADAPTATION OF THE SERIES THAT STAY STRONG IN REPRESENTATION

Sutradara: Aris Nugraha

Produksi: MNC Pictures, 2019

Image: ©2019 MNC Pictures

Kisah-kisah mafia yang mengayomi anggota-anggotanya sebagai keluarga memang bukan hanya milik Hollywood walaupun The Godfather dengan latar mafia Italianya adalah pionir dalam konteks kultur pop-nya. Perfilman Asia terutama Hong Kong adalah yang paling sering mengeksplor genrenya, disesuaikan dengan kultur mereka. India menyusul belakangan, dan dua sinema ini memang yang terdekat dengan budaya kita. Dari situlah kemudian muncul tema dengan skup yang lebih mendekati representasi kultur kita, mafia-mafia kampung yang juga kerap disebut preman.

Meski populer di budaya luar, film kita sayangnya tak terlalu banyak mengeksplor tema ini kecuali hanya sebagai elemen dalam skup besarnya. Sesekali masih muncul dengan kualitas beragam dari 9 Naga ke Gangster, tapi yang benar-benar menjadikannya bagian dari kultur pop dengan fan base besar – paling tidak dalam dekade terakhir, adalah Preman Pensiun. Digagas sebagai konsumsi layar kaca atau sinetron, Preman Pensiun bertahan hingga 3 musim – 120 eps dari 2015 ke 2016. Tapi bukan semata jumlahnya, lagi-lagi, fanbase besar dan pengenalan luasnyalah yang kemudian menjadi alasan mengapa adaptasinya ke layar lebar terasa sangat layak di tengah kembalinya trend film kita yang sudah membawa sukses berturut-turut dari Si Doel the Movie ke Rompis – juga produksi MNC Pictures.

Preman Pensiun kini bertolak tiga tahun setelah ending sinetronnya, di mana Kang Mus (Epy Kusnandar), suksesor Kang Bahar (diperankan alm Didi Petet di sinetronnya) membubarkan diri untuk kehidupan yang lebih baik. Bertahan dengan bisnis kecimpring yang kian menurun, juga putrinya Safira (Safira Maharani) yang mulai menjalin hubungan asmara, Mus ternyata belum benar-benar bisa meninggalkan gaya hidup sebagai sosok yang dianggap anak buahnya sebagai Godfather termasuk oleh putri Kang Bahar, Kinanti (Tya Arifin). Masalah bergerak meruncing ketika mantan anggotanya, Gobang (Dedi Moch. Jamasari) kembali untuk menuntaskan sebuah kasus pengeroyokan yang dpicu oleh salah satu rekan mereka sendiri.

Meski masih berupa kontinuitas produk aslinya, Preman Pensiun tidak kehilangan koneksi dalam penceritaannya termasuk ke penonton yang tak mengikuti sinetronnya lewat prolog flashback yang disemat Aris Nugraha dengan efektif. Selain tampilan yang menekankan beda batasan sinematis lewat tata kamera Gunung Nusa Pelita, karakter-karakter yang sudah terbentuk dengan kuat di sinetronnya dengan mudah bisa menyita perhatian penonton dengan performa komedik dan persona tampilan masing-masing, seperti duet Murad (Deny Firdaus) dan Pipit (Ica Naga), Ujang (M. Fajar Hidayatullah) yang terus serba salah plus tentunya Mang Uu (Mang Uu) dengan dialog Inggris nyeleneh yang semua berasal dari latar belakang profesi yang diangkat, sementara Dedi tampil kuat sebagai Gobang.

Di tengah potensi kedekatan representasi yang saban hari kita lihat di tatanan budaya masyarakat kita termasuk alunan nuansa musik tradisional Sunda dari Dany Supit – terutama buat pemirsa etnisnya, Epy Kusnandar bermain kuat melanjutkan peran Kang Mus walaupun terkadang eksploitasi fisik agak absurd Aris terhadapnya sering mengarah ke toilet jokes yang membuat jengah namun memang membumi. Tambahan-tambahan sentuhan nostalgik buat fans serialnya dan penampilan singkat Fuad Idris bergulir bersama konflik-konflik merakyat yang terasa dekat seperti seorang ayah preman yang menurunkan anak buahnya mengawasi kencan putrinya. Semua tergelar dengan unsur kedekatan yang akrab bersama sematan kultur sangat kuat.

Tapi jagoannya tetap adalah gaya pengarahan Aris lewat penyuntingan match cut yang bukan hanya menguatkan sisi komediknya, tapi juga mengefektifkan kontinuitas storytelling mereka. Ini dilakukan Aris bersama editor Ichwan JW dan Syarif Hidayat dengan berani, saat sineas lain melakukannya hanya sebagian seperti di film-film komedi luar dan dalam termasuk Warkop, mereka melakukannya hampir di keseluruhan film.

Preman Pensiun versi film ini bahkan lebih berani lagi melangkah ke ekspansi yang jarang-jarang dilakukan produk sejenis di film kita dengan tonal shift yang sebenarnya sudah di-set up sejak adegan pembukanya. Membelokkan tone-nya ke konflik lebih gelap dengan sematan adegan aksi yang digarap cukup serius untuk film sejenis di balik resiko terhadap salah satu karakter yang sudah dikenal, Aris dkk pun tak segan meninggalkan pemirsanya dengan pengujung yang sebelumnya sudah dilakukan MNC lewat film adaptasi FTV Me Vs Mami tempo hari meski tak selepas itu.

Lagi-lagi, walau menggelar potensi keleluasaan pengembangannya ke sebuah sekuel, ini sedikit beresiko buat penonton di luar pemirsa sinetronnya tapi tak mengapa, karena paling tidak – Aris sudah memberi penekanan kuat bahwa sebuah adaptasi film dari sinetron dalam kelas trend yang tengah marak sekarang, memang tak selamanya harus bermain aman sekadar sebuah fans service belaka.  Dalam tiap sisinya, dalam resiko resepsi lebih atau kurang, Preman Pensiun sudah berdiri kuat di atas inovasi dan yang terpenting – dalam kekurangan banyak film kita mengeksplorasi aspek-aspek tematis lewat sematan kearifan lokal, sebuah kekuatan representasi yang sangat relevan. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)