Home » Dan at The Movies » GREEN BOOK (2018)

GREEN BOOK (2018)

GREEN BOOK: FRIENDSHIP, RACE AND JAZZ – A MOVING HUMAN STORY WITH PERFECTLY CALIBRATED CHEMISTRY

Sutradara: Peter Farrelly

Produksi: Participant Media, DreamWorks, Innisfree Pictures, Cinetic Media, 2018

Image: impawards.com

Sudah cukup banyak mungkin film yang membahas soal persahabatan di balik isu rasisme kulit putih terhadap hitam dengan pola-pola berbeda. Sebagai buddy movie dalam konteks pop, ada. Yang jauh lebih gelap dan dramatik, ada. Berdasar kisah nyata? Apalagi. Yang menggelarnya ke sebuah kisah roadtrip supir dan majikan – yang ini justru menjadi pemenang Best Picture Oscar 1990; Driving Miss Daisy, bila Anda masih mengingatnya.

Green Book, film yang baru saja memenangkan Best Picture – Musical or Comedy di Golden Globe serta juga salah satu kandidat terkuat Oscar tahun ini, kurang lebih ada di pola itu. Hanya saja, ia diangkat dari kisah sejati persahabatan pianis Don Shirley dan Tony Vallelonga, bodyguard bar yang menjadi supir Shirley selama turnya mengarungi daerah Deep South AS di era ‘60an, saat rasisme tengah bergejolak.

Didorong masalah keuangan saat bar tempatnya bekerja direnovasi, Tony Vallelonga (Viggo Mortensen) terpaksa menerima tawaran pianis Don Shirley (Mahershala Ali) yang dijuluki ‘Dokter’ untuk menjadi supir sekaligus bodyguard-nya dalam tur 8 minggu menjelang Natal ke wilayah Selatan Amerika yang penuh gejolak rasisme. Berpanduan buku bernama Green Book untuk pejalan kulit hitam buat memilih hotel, restoran dan fasilitas lainnya, jelas banyak masalah yang terjadi di antara Tony yang kasar, rasis dan Shirley yang flamboyan serta angkuh – tak seperti orang-orang berkulit hitam lainnya. Namun perlahan, hubungan keduanya mencair di balik serangkaian tekanan yang mendatangi mereka di tengah perjalanan itu. Pelan-pelan, mereka terbentuk menjadi lebih dari sekadar supir dan majikannya.

Selagi premisnya mungkin tak lagi spesial kecuali menyemat informasi soal sejarah rasisme dan keberadaan Green Book yang bukan juga terlalu menyita fokus penceritaannya, skrip Peter Farrelly, Brian Hayes Currie dan putra asli Tony, Nick Vallelonga-lah yang benar-benar bersinar membangun lapis demi lapis prosesnya sambil bicara banyak hal dari konflik ras, kultur etnis, pertentangan batin di tengah situasi itu hingga preferensi seksual yang masih sangat kontroversial di eranya. Di dasarnya, tetap ada pesan berharga soal persahabatan dan keluarga yang bergerak secara manusiawi menjadi human story yang begitu universal.

Bersama dialog-dialog yang tak hanya kaya namun juga informatif menyemat aspek-aspek perjalanan historis berikut bentukan karakter-karakter sampingan di seputar dua fokusnya, eskalasi emosi dan chemistry-nya terkalibrasi dengan sempurna lewat akting Ali dan Mortensen. Seringkali diselipi komedi halus tapi juga romantisasi subplot yang menyentuh (lihat bagaimana Nick Vallelonga menyempalkan soal surat cinta ayah dan ibunya menjadi titik balik proses yang luar biasa menarik), penggarapan teknisnya juga hadir mumpuni lewat sinematografi Sean Porter dan alunan scoring dari pianis/komposer jazz Kris Bowers, sementara aktris Linda Cardellini juga tampil cukup menonjol sebagai istri Tony.

Sekaligus menunjukkan pendewasaan sensitivitas pengarahan Peter Farrelly dari komedi-komedi nyeleneh yang digarapnya bersama Bobby Farrelly, saudaranya, seperti There’s Something About Mary atau Dumb and Dumber, ini semua merupakan kekuatan solid yang mengarungi atmosfer positif dalam Green Book. Tanpa jadi kelewat cerewet, tak pula buru-buru membalik revelasinya, guliran pengisahannya bisa membuat kita percaya akan prosesnya, juga berhasil menyampaikan pesan-pesan ekualitas, keragaman, penerimaan dan sugesti-sugesti untuk meredam ambisi juga emosi dengan luar biasa efektif.

Namun di atas semua, ia benar-benar layak menjadi pemenang atas pilihan pendekatannya yang tak perlu digantungkan di atas pretensi-pretensi untuk merambah isu sensitif secara gelap dan serba berat. Bahwa cukup lama setelah Driving Miss Daisy, ia kembali bisa mengingatkan kita kalau tema seperti ini bisa disampaikan dengan penuh hati, lighthearted ambience serta berbalur harapan-harapan baik. Tenang, tak pernah meledak-ledak, tapi luar biasa hangat serta menghanyutkan. Bagus sekali. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)