Home » Dan at The Movies » DILAN 1991 (2019)

DILAN 1991 (2019)

DILAN 1991: MORE THAN A DECENT EXPANSION OF THE GENRE’S SIGNATURE

Sutradara: Fajar Bustomi & Pidi Baiq

Produksi: Max Pictures, 2019

Genre percintaan remaja adalah genre yang tak pernah mati di film kita. Namun yang benar-benar mencatat pencapaian fenomenal tak banyak. Setelah Gita Cinta dari SMA (1979) dan Ada Apa dengan Cinta? (2002), ada Dilan 1990 (2018) yang langsung mencetak rekor BO sepanjang masa kedua di film kita. Sama seperti dua pendahulunya itu, Dilan 1990 juga menelurkan sekuel yang diadaptasi dari bagian kedua serial novel karya Pidi Baiq, Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991.

Tetap menonjolkan nilai jual terkuat selain brand novel best seller-nya; pasangan Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla yang menjadi persyaratan utama kesuksesan genre ini, skrip yang ditulis oleh Titien Wattimena dan Pidi Baiq sendiri kini mengantarkan Dilan (Iqbaal) dan Milea (Vanesha) ke masa pacaran mereka dengan konflik yang masih berputar di masalah keberadaan Dilan sebagai panglima tempur geng motor Bandung yang kali ini bukan saja mengancam pendidikannya, tapi juga hubungannya dengan Milea yang mulai melarang Dilan berhenti dari geng motor, di balik beberapa karakter baru yang mewarnai pahit manis hubungan mereka.

Adalah keputusan tepat memang untuk membangun adaptasi novel ke film layar lebar dengan kekuatan quotes dan romantic lines – baris demi baris dialog baper yang membidik remaja sebagai pangsa terbesarnya. Dibawakan dengan baik di atas chemistry yang terjalin begitu erat di antara Iqbaal dan Vanesha dalam penampilan debutnya, walau nyaris tak punya konflik solid dalam bangunan plot-nya, tak heran kalau Dilan 1990 mencatat sukses sebesar itu.

Sekuel ini tetap mempertahankan faktor suksesnya dengan peningkatan yang sedikit banyak menegaskan film pertamanya sebagai pengenalan awal. Tak berlama-lama setelah introduksi awal, skrip Titien dan Pidi mulai meletakkan konflik-konflik lebih serius yang melibatkan deretan karakter pendukungnya ke luar dari fokus sempit Dilan dan Milea di film pertama secara cukup baik. Bagi generasi penonton sekarang, scene tahun 90an bisa jadi memberikan sesuatu yang baru di balik penanganan yang tetap terasa kekinian, sementara bagi penonton di atas usianya, Dilan 1991 juga mungkin punya sejumlah faktor nostalgia selain kedekatan regional set-nya dengan elemen-elemen yang mungkin terhubung secara berbeda ke tiap pemirsanya.

Namun paling tidak, dibanding film pertama, plot Dilan 1991 tersusun lebih rapi ketimbang hanya seolah sketsa percintaan remaja berkonflik sangat tipis tadi. Benar bahwa ia jadi sedikit terasa terlalu panjang di durasi melewati 2 jam dengan turun naik, manis pahit hubungan Dilan dan Milea di tengah banyaknya karakter sampingan yang bergantian muncul tanpa seluruhnya tereksplorasi, sementara tetap ada selipan yang tak dimunculkan pun tak mengapa. Namun ikatan interaksi Iqbaal dan Vanesha yang sama kuatnya seperti film pertama memang sulit untuk ditampik. Berdua, mereka benar-benar bisa menguasai layar, menunjukkan koneksi kuat yang membuat karakter-karakter dan langkah-langkah pengisahannya layak buat diikuti, dengan tampilan romansa serba halus dan faktor charm yang tepat pula tanpa harus tergelincir ke resiko rating lebih dewasa bahkan di saat konfliknya bergerak ke arah-arah lebih sensitif.

Dukungan sebagian aktor-aktor mudanya – di antaranya Roy Sungkono, Jerome Kurnia, Zulfa Maharani, Yoriko Angeline, Gracia JKT 48 sementara beberapa pemeran yang kembali seperti Refal Hady, Giulio Parengkuan, Omara Esteghlal dan Zara JKT 48 cukup mewarnai ansambelnya dengan baik bersama aktor-aktor senior seperti Ira Wibowo, Bucek, Happy Salma, Farhan, Maudy Koesnaedi dan Ence Bagus. Keputusan Fajar Bustomi memasang Andovi da Lopez menjadi karakter cukup penting mungkin terasa sedikit aneh, tapi tak sampai mengganggu alurnya secara keseluruhan.

Selebihnya, tetaplah atmosfer 90an yang mendasari fondasi penceritaannya dengan proporsional tanpa menggerus rasa kekinian bagi generasi penonton sekarang. Selain score Andhika Triyadi dan lagu-lagu soundtrack-nya, ada teknis cukup baik di departemen artistik Angela Halim, sementara tata kamera Dimas Imam Subono dan penyuntingan Ryan Purwoko tetap menghadirkan ambience romansa kuat di antara kekuatan barisan dialog sebagai signature adaptasinya.

Ditambah promosi tak main-main yang digelar di Bandung, 24 Februari kemarin sebagai Hari Dilan dan peletakan landmark Sudut Dilan di Taman Saparua, Dilan 1991 memang dibalut menjadi sebuah movie event lebih dari sekadar bagian franchise percintaan remaja biasa. Penjualan advance ticket-nya yang rata-rata hampir sold out di tengah jumlah layar masif yang mengarah ke gebrakan pemecah rekor opening day juga BO Indonesia sepanjang masa juga menunjukkan hal yang sama. Bahwa seperti Milea ke Dilan dan sebaliknya, tak peduli juga bagaimana kisah kasih tak sampai itu menuju titik akhirnya, penonton kita memang merindukan kelanjutan instalmennya. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)