Home » Dan at The Movies » US (2019)

US (2019)

US: THRILLS, AMERICAN HOMAGE AND CULTURAL SUBTEXTS

Sutradara: Jordan Peele

Produksi: Blumhouse Productions, MonkeyPaw Productions, QC Entertainment, Universal Pictures, 2019

Image: impawards.com

Bagi penonton melek referensi, tak ada mungkin yang terlalu spesial dengan Get Out, debut penyutradaraan Jordan Peele – sebelumnya dikenal sebagai aktor/komedian, di tahun 2017. Tapi memang datang di waktu dan momentum yang tepat dengan sosiopolitik AS, horor berbau satir soal rasisme ini memang tak bisa ditolak, menjadi buah bibir yang mengundang hasil Box Office gede di negaranya (meski di sini flop), resepsi bagus bahkan memenangkan Skrip Asli Terbaik dari 4 nominasi Oscar termasuk Film Terbaik.

Us, karya terbarunya, sejak peluncuran trailer-nya pun sudah menarik antusiasme penonton. Tetap bergenre horor dari Blumhouse yang jelas meneruskan kerjasama mereka, trailer yang menunjukkan tema home invasion dari karakter-karakter doppelganger itu memang muncul begitu mencekam, begitu pula dengan posternya.

Sebuah keluarga yang tengah berlibur ke villa pribadi tak jauh dari tepi pantai Santa Cruz, California, seketika terjebak di sebuah teror mengerikan sejak mendapat kunjungan tak diundang dari 4 sosok misterius berpakaian merah dan membawa gunting. Tapi bukan hanya itu, keempatnya ternyata punya bentuk serupa dengan pasutri Gabe (Winston Duke) – Adelaide Wilson (Lupita Nyong’o) serta sepasang putra-putri mereka Zora (Shahadi Wright Joseph) dan Jason (Evan Alex). Dalam semalam, Gabe dan keluarganya harus bertahan hidup melawan para kembaran ganas ini sekaligus mengungkap apa yang sebenarnya tengah terjadi di balik sebuah rahasia masa lalu yang selama ini tersimpan rapat.

Harus diakui memang, Peele adalah seorang sineas visioner dengan relevansi ide dan subteks mendalam ketimbang hanya pembesut film horor biasa. Sama seperti Get Out yang nyaris berupa sebuah satir penuh protes, Us juga dilandasi referensi yang tak hanya menyangkut ranah sinema namun juga sosiopolitik, budaya dan sejarah rasisme di Amerika, yang kali ini melangkah lebih jauh ke pengejawantahan sisi baik dan jahat manusia yang terasa sangat personal dalam gambaran-gambaran dan pemahaman doppelganger atau fusi multidimensional. Ia pun bukan pula ada buat membangkitkan sinema horror blaxploitation ’70an yang eksploitatif. Peele tetap terlihat seperti bermain-main, tapi seriusnya juga bukan main.

Selagi penyuka genrenya memang didorong untuk menikmati sebuah gelaran teror dengan intensitas ketegangan menggedor yang cenderung agak sakit di atas konsep performance art dan staging adegan lebih bernuansa panggung ketimbang filmis dipenuhi adegan-adegan sadis, masing-masing dengan transformasi karakter yang kuat terutama akting menyeramkan Lupita Nyong’o yang bermain total, juga ada suatu kekuatan representasi dan protes rasisme di baliknya. Para pendukungnya, dari Duke (M’baku dari Black Panther), dua pemain cilik hingga Tim Heidecker dan Elizabeth Moss, juga bermain tak kalah menarik.

Tapi ini juga bukan lantas tak punya resiko karena penelusuran homage terhadap budaya dan sejarah AS yang mungkin merupakan perwujudan keresahan Peele sendiri, sampai membawa-bawa filosofi mitos spiritual 11:11 dari Alkitab dan gerakan penggalangan dana Hands Across America di masa pemerintahan Ronald Reagan 1986, bisa jadi akan berjarak untuk penonton luar AS.

Begitu pula, homage-homage ke kultur keluarga (yang sangat) Amerika termasuk kawasan pantai Kalifornia hingga referensi dari film-film thriller Alfred Hitchcock ke The Lost Boys, serta sejumlah simbol menarik yang diusung Peele – dari boat, villa pantai, topeng, gunting hingga baju merah. Ada dua sisi koin di sini, di antara menariknya membahas satu persatu permainan simbolik yang membuat Us menjadi begitu kaya, mendalam sekaligus punya multi-makna terhadap judulnya, namun tentu tak akan dipedulikan kebanyakan audiens publik yang datang sekadar menikmati teror penuh ketegangan itu.

Pada akhirnya, kita, sebagai penonton, dalam lapis-lapis pemahaman berbeda, boleh saja menelaah, apalagi yang sedikit lebih mengenali kultur AS dalam sejarahnya atau psikologi-psikologi dominasi antara sisi baik dan jahat dalam diri manusia – sebagai satu translasi yang sangat terbaca menuju ending yang bisa jadi cukup mengejutkan bagi sebagian orang. Us bisa terasa sangat dahsyat terlebih bagi audiens yang menggemari tontonan-tontonan pemicu pemikiran namun tetap punya keseimbangan sebagai hiburan penuh ketegangan. Tapi kebenaran interkoneksinya ada sampai sejauh mana, ini tentu hanya Peele yang tahu. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter