Home » Dan at The Movies » DUMBO (2019)

DUMBO (2019)

DUMBO: WEIRDLY EXPANDING THE SOURCE MATERIAL LIKE A MIXED BAG OF TOO MANY THINGS, BUT ALSO WITH UNDENIABLE CHARM

Sutradara: Tim Burton

Produksi: Walt Disney Pictures, Tim Burton Productions, 2019

Image: impawards.com

Usaha Disney me-live action-kan semua animasi klasiknya mungkin tampak simpel bahkan terkesan aji mumpung; tapi jelas tak begitu. Berbeda dengan line up animasi klasik mereka pasca The Little Mermaid ataupun yang berbandrol Disney Princess, memindahkan fabel dengan gaya penceritaan klasik era ’40-50an tentu tak semudah yang terlihat. Dumbo, bagaimanapun, merupakan putusan kreatif yang cukup berani untuk dipindahkan ke live action seperti yang hadir di trailer yang memuat semesta gaya Tim Burton itu.

Dan benar pula, Burton – yang menyerahkan penulisan skripnya pada Ehren Kruger, penulis tiga dari lima seri Transformers – suka atau tidak, memang tidak lantas menerjemahkan versi live action Dumbo secara frame by frame seperti yang lain, tapi melakukan penyesuaian di sana-sini untuk merombak penceritaan yang bisa masuk ke wadah non animasi sekaligus gaya Burton yang selain absurd, gothic, juga seringkali bernada agak sinis. Ini bukan lagi kisah persahabatan gajah dan tikus sirkus seperti versi orisinal tahun 1941 yang kita kenal selama ini, tapi juga bukan berarti sama sekali berbeda.

Setengah remake, setengah berupa ekspansi yang sangat berani, skrip Kruger menyemat lebih banyak karakter-karakter manusia ke sirkus milik Max Medici (Danny DeVito) yang tengah bertahan di masa pasca PDI. Milly (Nico Parker) dan Joe (Finley Hobbins), putra-putri Holt Farrier (Colin Farrell), mantan bintang sirkus yang kini pulang sebagai veteran perang kehilangan satu lengan setelah ibu mereka juga meninggal akibat wabah penyakit, ditugaskan menjaga bayi gajah berkuping panjang yang awalnya ditolak Max bahkan setelah induknya dipisahkan darinya. Di tangan Milly dan Joe, gajah kecil yang kemudian diberi nama Dumbo dari Jumbo itu ternyata punya kemampuan terbang dengan bantuan bulu unggas dengan mengepakkan telinga besarnya. Dumbo lantas menarik perhatian pengusaha taman hiburan V.A. Vandevere (Michael Keaton) yang langsung menarik Max dan seluruh anggota sirkusnya demi menjual Dumbo di sirkus barunya bersama artis trapeze Collette Marchant (Eva Green). Sampai suatu ketika Dumbo menemukan ibunya ternyata juga ikut dieksploitasi Vandevere, Holt, Milly dan Joe pun terpaksa merancang sebuah pelarian bersama Collette yang perlahan mulai bersimpati pada mereka.

Jangan salah, Burton tetap menyemat banyak homage ke adegan-adegan di animasi aslinya dari memunculkan si tikus Timothy walau sekilas-sekilas saja, bulu unggas pemicu Dumbo untuk terbang hingga satu yang paling ikonik, rendisi adegan halusinasi pink elephants ke pertunjukan balon gelembung di sirkus. Ada juga lagu asli Baby Mine yang muncul di film selain kredit akhir yang dibawakan Arcade Fire, sementara versi trailer yang dinyanyikan Aurora tak ada di filmnya.

Namun bercampur antara gaya khasnya serta inspirasi-inspirasi yang sangat terasa dari The Greatest Showman di deretan karakter sirkus pendukungnya (diperankan Sharon Rooney, DeObia Oparei dan Roshan Seth – di antaranya_, namun sayang tak dikembangkan ke potensi musikal kecuali rendisi muram Baby Mine yang dibawakan Rooney, Tomorrowland, homage Batman Returns ke reuni Keaton dan DeVito yang tampil komikal plus penampilan singkat aktor veteran Alan Arkin, Burton sayangnya lupa menyemat hati lebih ke interaksi karakter Holt dan kedua anaknya yang jadi sentral. Juga, pengembangan karakter Collette terhadap mereka semua yang cenderung terasa tanggung-tanggung.

Begitupun, jangan tanya soal teknis dan visualnya. Dumbo, sebagaimana yang diharapkan dari effort live action karya-karya klasik Disney, memang sepenuhnya muncul dengan digdaya visual luar biasa cantik di balik sentuhan dongeng gothic modern ala Burton. Dari tampilan Dumbo CGI yang begitu menggemaskan, Dreamland dengan beragam wahananya sampai efisiensi penggunaan gimmick 3D dengan kedalaman mengagumkan, tanpa lupa menyebutkan sinematografi Ben Davis (Guardians of the Galaxy, Doctor Strange, Captain Marvel) dan scoring dari kolaborator abadi Burton, Danny Elfman, semua tampil memukau serta memanjakan mata.

Lebih terasa serba canggung ketimbang emosional sebagaimana mestinya dengan keunggulan-keunggulan teknis itu, untunglah Burton masih mempertebal satu hal penting yang menjadi konklusi penting sumber aslinya lewat bagian seru-seruan penyelamatan Mrs. Jumbo dan sematan pesan yang tak muncul maksimal di versi asli itu. Bahwa satu yang mereka lupakan di animasi aslinya, di mana Dumbo sebenarnya bukan hanya sekadar simbol karakter difabel dalam satu lingkungan yang lantas bisa berdiri dengan kelebihan spesialnya, soal dorongan motivasi kasih sayang ibu dan anak ini, paling tidak, tetap menggarisbawahi dengan teramat sangat tebal digdaya Disney yang tak pernah lupa akan kelebihannya. Ia boleh dipandang sebagai raksasa penguasa industri yang memakan saingan-saingan kecilnya satu demi satu, tapi tetap tak lupa menyebarkan motivasi dan pesan baik ke generasi-generasi baru penontonnya sebagai sebuah standar tontonan segala umur yang layak diperkenalkan sedini mungkin buat semua anak-anak. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)