Home » Dan at The Movies » AVENGERS: ENDGAME (2019)

AVENGERS: ENDGAME (2019)

AVENGERS: ENDGAME: PERFECTLY CULMINATED THE LONG-SPAN MCU, A GLORIOUS SEND-OFF TO THE WHOLE PHASE

Sutradara: Anthony & Joe Russo

Produksi: Marvel Studios, Walt Disney Studios Motion Pictures, 2019

Image: impawards.com

Everything has led to this. Rentang panjang MCU, semesta franchise sinema superhero Marvel Studios yang dimulai dari Iron Man (2008) kini sampai pada titik kulminasinya. Meninggalkan kita terhenyak lewat Infinity War dengan open ending tragis yang meski kita tahu hanyalah sebuah proses menuju pertarungan akhir habis-habisan seolah sebuah shock therapy yang rasanya tak mungkin datang darinya, lebih dari sekadar sebuah antusiasme, 11 tahun, 21 film dengan kesuksesan hampir tak pernah meleset baik dari BO dan resepsi kritikus sudah membuat kita sebagai pemirsanya memiliki cinta dan kedekatan ke tiap-tiap karakter yang mereka hadirkan. Menjadi bukti dari kekuatan konsep yang diusung produser sekaligus pentolan Marvel Studios, Kevin Feige, tak ada franchise superhero sekuat dan sekonsisten mereka.

Endgame pun bergerak menyambung apa yang terjadi sebagai ekses dari Infinity Gauntlet yang diaktivasi oleh Thanos (Josh Brolin) di balik idealismenya melenyapkan separuh populasi umat manusia termasuk sebagian besar The Avengers. Kini, superhero yang tersisa – Natasha Romanoff (Scarlett Johansson), Steve Rogers (Chris Evans), Bruce Banner (Mark Ruffalo), Thor (Chris Hemsworth), Rocket Raccoon (disuarakan Bradley Cooper) dan James Rhodes (Don Cheadle) pun bergabung dengan Tony Stark (Robert Downey, Jr.), Nebula (Karen Gillan) plus Carol Danvers (Brie Larson) untuk memperbaiki keadaan lewat celah yang datang dari Scott Lang (Paul Rudd), menempuh misi untuk menemukan 1 dari 14 juta kemungkinan menaklukkan Thanos melalui visi Doctor Strange (Benedict Cumberbatch), apapun resikonya.

Tetap ditulis oleh Christopher Markus dan Stephen McFeely, duo penulis dari tiga instalmen Captain America, Thor: The Dark World dan Infinity War, skrip itu tergaris rapi dalam tiap penelusuran dan penempatan karakternya. Terasa bergerak sangat hati-hati menyusun ujung-ujung benang merah yang bertaburan di keseluruhan instalmennya sambil memuat tribute, fan service dan kejutan-kejutan bahkan ke genre di luar semestanya, juga dengan rapi membagi porsi karakter berjumlah masif namun tak terasa penuh sesak, sentuhan terbaiknya adalah bagaimana Markus dan McFeely – dengan pengarahan solid dari duo Anthony dan Joe Russo meracik rupa-rupa rasa dalam keseluruhan wadahnya.

Melangkah bahkan lebih jauh dengan percampuran tone yang ada di Infinity War, menjaga belokan-belokan gelapnya menjadi motivasi kekuatan super para karakter-karakternya yang juga tak sekalipun meninggalkan sisi manusiawi mereka berikut juga spirit kuat soal keluarga, di satu titik kita bisa terbawa petualangan dan adegan-adegan aksi seru, gregetan, trenyuh, tapi juga tertawa terbahak-bahak dengan sempalan komedi dengan timing dan penempatan yang luar biasa tepat. Seperti menaklukkan gravitasi dan segala ekses tersulit dari plot yang mereka pilih, Endgame memanfaatkan durasi 181 menitnya dengan detil-detil tak terduga menuju pertiga akhir yang meledak sedemikian dahsyat di atas definisi sebenar-benar genrenya, pamungkas yang benar-benar pamungkas, juga mungkin salah satu klimaks terbaik, paling pecah dalam sejarah sinema blockbuster.

Titik pertemuan keseluruhan ansambel franchise-nya juga dimanfaatkan dengan tepat. Seolah mereka semua memang dilahirkan untuk karakter-karakter superhero Marvel ini, deretan supporting raksasa dari Marisa Tomei, Rene Russo, Gwyneth Paltrow, William Hurt, Michael Douglas, Michelle Pfeiffer, hingga Robert Redford disemat dengan pas untuk mengiringi ansambel utama para frontliners ini. Bahwa tak seperti biasanya di film-film bergenre superhero, mereka terlihat benar-benar berakting terutama Robert Downey, Jr. – keajaiban yang lahir dari Iron Man sebagai fondasi kuat semestanya, Chris Evans, bahkan Hemsworth, Ruffalo, Johannson dan Jeremy Renner yang tak pernah tertinggal di belakang mereka, sementara Paul Rudd juga tampil menonjol sebagai Scott Lang/Ant-Man.

Di sisi teknis pula, Endgame tak sekalipun pernah main-main. Sinematografi Trent Opaloch, editing Jeffrey Ford dan Matthew Schmidt sampai pameran efek dan CGI-nya, semua top notch. Scoring dari Alan Silvestri juga muncul se-epik keberadaannya sebagai sebuah instalmen pamungkas menyemat theme song masing-masing instalmen hingga Captain America yang paling melodius bersama assemble theme Avengers. Lebih lagi, Silvestri juga memuat beberapa scoring vintage jazz standar yang masuk ke pergerakan set-nya.

Jadi memang sulit rasanya tak mengakui kedigdayaan Endgame sebagai titik pengujung bangunan MCU yang sudah digagas dengan konsep begitu solid selama 11 tahun. Sebuah kulminasi yang bahkan mungkin lebih dari kata sempurna menyemat setiap racikan rasa yang ada begitu padu, menyiratkan harapan dan menguatkan se-mendasar alasan mengapa genre ini tak pernah lekang ditelan zaman walau punya era naik turunnya, sekaligus sebuah send-off, pelepas perpisahan yang tampil dengan kemegahan luar biasa. Superhero movie of all superhero movies. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)