Home » Dan at The Movies » PARASITE (GISAENGCHUNG) (2019)

PARASITE (GISAENGCHUNG) (2019)

PARASITE: THE ANGRIEST JOON-HO’S IN HIS DISTINCT SIGNATURE ON SOCIAL STUDY AND COMMENTARIES

Sutradara: Bong Joon-ho

Produksi: CJ Entertainment, 2019

Ada alasan mengapa seorang Bong Joon-ho merupakan salah satu sineas Korea paling terpandang di mata penikmat film dunia lewat film-filmnya, di antaranya Memories of Murder (2003), The Host (2006), Snowpiercer (2013) dan Okja (2017). Dengan Parasite yang baru saja memenangkan Palme d’Or di Cannes tahun ini, Joon-ho melengkapi lagi daftar karya masterpiece-nya. Yang paling menonjol adalah kemampuannya sebagai pencerita yang bukan saja unik, tapi dalam posisinya sebagai seorang auteur, karya-karyanya tetap bisa terasa komunikatif dan accessible buat penonton awam di balik estetika filmis bukan sepenuhnya komersil, yang tak jarang – mencampuradukkan genre dari drama, thriller bahkan fantasi tanpa kehilangan signature terkuatnya di ranah realisme terutama dalam kritik serta studi sosial yang vokal soal kesenjangan kelas terutama dalam memandang masyarakatnya.

Parasite, judul simbolik yang memuat alegori sangat kaya bagi yang sudah menyaksikannya, juga bergerak tak jauh dari situ. Membawa kita ke sebuah potret keluarga kelas bawah yang hidup di basement rusun kumuh; Kim Ki-taek (Song Kang-ho; ayah), Choong Sook (Jang Hye-jin; ibu) dan sepasang anak mereka; Ki-jeong (Park So-dam) dan Ki-woo (Choi Woo-sik) pelan-pelan masuk ke keluarga jetset Mr. Park (Lee Sun-kyun) memanfaatkan kekhawatiran sang istri (Cho Yeo-jeong) atas permasalahan dua anaknya; Da-hye (Jung Ji-so) di masa pubertas dan si bungsu Da-song (Jung Hyun-joon) yang terganggu secara psikologis, plot-nya bergerak menuju penyelesaian tak terduga di balik banyak aspek yang sungguh tak tertebak ke mana arahnya.

Ditulis oleh Joon-ho bersama Han Jin-won, asistennya di Okja, Parasite memang dipenuhi kritik sosial yang cenderung berupa satir, seringkali terlihat berpihak, bahkan tak jarang terasa sekali dipenuhi amarah dibanding film-film Joon-ho sebelumnya. Namun jalan yang mereka bangun ke titik ujungnya – di dalamnya ada percikan Burning karya Lee Chang-dong, Shoplifters-nya Hirokazu Kore-eda – peraih Palme d’Or tahun sebelumnya dan juga inspirasi terbesarnya – The Servant (1963) karya Joseph Losey, harus diakui luar biasa cerdas.

Dimulai seperti sebuah dark heist comedy ala Coen Brothers yang kerap meledakkan tawa – dipenuhi permainan taktik dengan kecermatan nyaris komikal ke fantasi, selipan simbol-simbol sosial dan tebal tipis lapis maknanya (sebagian memang memerlukan pemahaman lebih soal konflik-konflik internal negaranya) diletakkan di titik-titik yang tepat bagai sumbu yang siap meledak sewaktu-waktu dengan eskalasi emosi penuh perhitungan, membawa pergeseran tone perlahan balik menuju realisme pahit yang bukan main mulusnya. Bahkan ketika titik ujung itu menggila ke sebuah presentasi yang sangat mengganggu dan meninggalkan pemirsanya dalam perasaan tak nyaman walau disusupi secuil kehangatan, tapi tetap secara simbolik menggerus persepsi-persepsi soal harapan seperti salah satu inti terbesar dari kaum yang menjadi fokus subjeknya; the best plan, to these people – is no plan.

Bersama kekuatan gaya tutur itu, Joon-ho menggerakan elemen-elemen teknisnya dengan kecermatan tinggi, dari sinematografi Hong Kyung-pyo yang membawa kita menelusuri lapis-lapis kesenjangan itu lewat penelusuran ruang secara geometrikal, musik dari Jung Jae-il dan juga editing Yang Jin-mo yang memoles dinamika dan kontinuitas genre bending itu dengan mulus. Soal akting pun, tentu tak perlu ditanya. Muse actor Joon-ho; Song Kang-ho tetap jadi MVP paling menonjol dalam menerjemahkan tekanan-tekanan dan ledakan karakternya; dari soal harga diri sampai maskulinitas dan libido dengan relatable, begitu juga seluruh pendukungnya, terutama Lee Jeung-eun yang memerankan Moon-kwang, ART keluarga Park.

Ini, seperti film-film Bong Joon-ho lainnya, tak peduli secara personal bisa disukai pemirsa dari berbagai lapisan selera penonton, harus diakui memang spesial dan sangat tak biasa. Tanpa bisa ditampik, dari gaya tuturnya, Parasite mungkin merupakan film pemenang Palme d’Or yang paling accessible tanpa kehilangan estetika dan sentuhan artistiknya. Siapa ataupun apa sebenarnya Parasite dalam pemaknaan keseluruhan simbiosisnya, ia mungkin jadi karya Joon-ho yang paling terasa provokatif, dipenuhi amarah atas signature kritik sosialnya, tapi juga – sebuah masterclass yang akan terus dibicarakan dalam bentukan penulisan, storytelling, karakterisasi, tone shift dan di atas segalanya, kalaupun bukan yang terbaik – salah satu film paling unpredictable yang pernah ada. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter