Home » Dan at The Movies » SPIDER-MAN: FAR FROM HOME (2019)

SPIDER-MAN: FAR FROM HOME (2019)

SPIDER-MAN: FAR FROM HOME: SWING AND TINGLE BOTH AS A CHARMING EPILOGUE AND A TEMPTING SET UP TO THE MCU PHASES

Sutradara: Jon Watts

Produksi: Columbia Pictures, Marvel Studios, Pascal Pictures, Sony, 2019

Image: impawards.com

Baru saja rasanya Avengers: Endgame mengantarkan salam perpisahan, sebuah send-off emosional ke 11 tahun – 22 film – 3 fase dalam keseluruhan MCU, tanpa menghitung re-release versi extended-nya pekan ini, Spider-Man: Far From Home, film ke-23 sekaligus juga sekuel film solo Spider-Man bentukan MCU; Homecoming dan yang benar-benar menutup fase ke-3 MCU sudah hadir lagi ke layar lebar. Di tangan Kevin Feige, Marvel Studios memang tak main-main; apalagi setelah ikut menggamit Spider-Man dan segera, Fox pasca akuisisi Disney – yang bakal menggabungkan banyak lagi tokoh-tokoh superhero ke dalam ansambelnya.

Uniknya, dalam pengembangan instalmen solo para superhero ini, Feige menggunakan formula yang jadi trademark mereka sendiri dan mungkin tak pernah terpikirkan oleh studio lain; bermain lewat detil subgenre dan referensi dalam keseluruhan bentukannya. Dari genre film remaja di Homecoming, Far From Home kini merambah subgenre yang mungkin tak terlalu banyak bahkan mungkin tak banyak diingat – soal high school abroad teen-action seperti If Looks Could Kill/Teen Agent atau Agent Cody Banks 2 yang lebih terang-terang mengambil destinasi liburan Eropa.

Setelah ekses Endgame, Peter Parker (Tom Holland) yang kembali ke sekolah bersama teman-temannya ikut serta dalam sebuah field trip ke Eropa. Berniat menyatakan perasaannya di tengah romantisme Paris pada MJ (Zendaya), Peter tak bisa menolak kala Nick Fury (Samuel L. Jackson) memberinya misi terkait kemunculan monster bernama Elemental dan superhero baru Mysterio/Quentin Beck (Jake Gyllenhaal) sebelumnya. Di bawah pengawalan Happy Hogan (Jon Favreau), Peter yang masih galau sepeninggal Tony Stark/Iron Man perlahan mulai menyadari apa yang sebenarnya tengah terjadi sekaligus bahaya yang bisa mengancam MJ dan teman-temannya sewaktu-waktu.

Tetap digawangi sutradara dan penulis yang sama dari Homecoming, masing-masing Jon Watts dan duo Chris McKennaErik Sommer (Ant-Man & the Wasp), Far From Home memang terlihat jauh lebih leluasa bermain di ranah subgenre field trip sekolah lewat referensi-referensi yang ada dengan tetap mencampurkan komedi lucu, aksi seru bahkan romansa remaja begitu menggemaskan sebagai elemen-elemen utamanya. Lihat bagaimana eskalasi chemistry-nya digelar menuju scene penutup yang luar biasa cantik lewat editing Dan LebentalLeigh Folsom-Boyd dalam konteks romansa tadi. Ini, paling tidak membawa feel source asli komik-komik Spider-Man awal yang sering dipandang sebagai ‘romance comic disguised as a superhero genre‘, yang dulu tak banyak disadari orang-orang tampil sangat menonjol lewat The Amazing Spider-Man versi Andrew Garfield. Ada pula subteks yang rasanya sangat relevan turut disempalkan ke dalamnya.

Kemunculan Jake Gyllenhaal sebagai tokoh barunya pun terasa menyegarkan bersama Holland yang semakin solid menyatu ke sosok Spidey sekaligus dalam chemistry-nya ke karakter MJ yang sedikit diplesetkan dari Mary Jane. Menambah porsi sidekick dalam identitas gandanya, selain Jacob Batalon, kini ada Jon Favreau yang terasa sekali membawa homage Iron Man, juga tentunya Aunt May versi Marisa Tomei. Sementara Samuel L. Jackson bersama Cobie Smulders mengisi bagian universe-nya ke S.H.I.E.L.D. Masih ada scoring bagus dari Michael Giacchino bersama OST yang dipenuhi referensi vintage classics.

Membuka banyak celah ke masa depan instalmen solo selanjutnya sekaligus melebarkan lagi detil-detil awal Peter Parker secara berbeda sampai nanti mungkin pelan-pelan menjadi sosok Spider-Man yang selama ini lebih banyak dikenal bahkan (sangat mungkin) bermain di multiverse film-film Spider-Man di luar MCU seperti animasi terunggulnya, Into the Spider Verse – lewat sebuah kejutan di salah satu post credits scene, kini Spider-Man MCU sudah melangkah jauh. Lebih dari sekadar selipan protege-mentor bersama Iron Man yang kita lihat pertama kali di Captain America: Civil War, proses pendewasaan karakternya muncul begitu solid dan menjadi salah satu bagian terbaik Far from Home.

Namun lebih dari semuanya, yang membuat Far From Home benar-benar terasa spesial selain adalah hint dan titik-titik kesinambungan benang merah MCU yang diusungnya. Menjawab sejumlah pertanyaan yang (mungkin) masih tersisa sejak scene-scene awal yang playful bagai sebuah epilog bagi fase 3 MCU dan membawa kita, pemirsanya, ke luar dari melankolia pasca Endgame – meski bukan berarti kehilangan hati, ia hebatnya masih sangat leluasa pula membangun set up ke masa depan MCU fase berikutnya lewat hint-hint yang bertaburan dari filmnya hingga ke post credits scene yang wajib untuk ditunggu. Ini semua, agaknya – memang hanya Marvel yang bisa. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter