Home » Dan at The Movies » GUNDALA (2019)

GUNDALA (2019)

GUNDALA: NOT WITHOUT FLAWS, A NEW DAWN OF INDONESIAN SUPERHERO GENRE

Sutradara: Joko Anwar

Produksi: Legacy Pictures, Screenplay Films, Ideosource, Bumilangit Studios, 2019


Fantasi boleh ke mana saja. Tapi tentu, ada langkah-langkah serta tahapan yang harus dijaga, terlebih sebagai sebuah adaptasi sumber orisinal yang melegenda dalam konteks kultur populer asalnya. Gundala, sebagai bagian sekaligus pemantik awal dari ambisi besar bentukan Jagat Sinema Bumilangit, semesta jagoan-jagoan super milik mereka yang kini dijadikan waralaba sinematik, apalagi. Meski terang-terang terinspirasi dari tokoh-tokoh jagoan super luar terutama DC Comics, kita tak bisa tidak harus mengakui bahwa karakter-karakter rekaan Hasmi, Wid NS hingga Ganes TH – di antaranya (kini ada di bawah bendera Bumilangit), sudah membentuk kekayaan intelektual lokal yang harus dibanggakan. Bahwa saat negara tetangga lain, paling tidak dalam skup Asia Tenggara, tak punya cukup banyak perwakilan di ranah serupa, meski yang benar-benar akrab melintas generasi hanya beberapa, kita punya ratusan bahkan katanya, ribuan karakter jagoan super.

Langkah Gundala untuk diangkat ke layar lebar setelah versi Lilik Sudjio (1981, diperankan Teddy Purba) yang selesai sampai di situ saja pun cukup panjang. Baru sekitar 10 tahun lalu pihak Bumilangit sempat meminta beberapa sineas menggagas ide buat ulangnya, salah satunya ke Charles Gozali. Setelah itu proyeknya lama tak berlanjut karena tak ada konsep yang sesuai dengan keinginan mereka hingga muncul nama Hanung Bramantyo lewat rumah produksi Mahaka. Tak juga kunjung direalisasi walau sudah merilis berita dan muncul di sebuah perhelatan cukup besar, lantas sempat terdengar nama Anggy Umbara. Namun akhirnya lampu hijau proyeknya berpindah ke Joko Anwar, kali ini lewat rumah produksi Screenplay Films bekerjasama dengan Legacy, Ideosource berikut Bumilangit sendiri. Di tangan Joko dan rencana Screenplay – Bumilangit yang berniat menjadikannya sebuah jagat sinema ala MCU (Marvel Cinematic Universe) dan DCEU (DC Extended Universe), Gundala dibawa ke ranah film asal-usul (origin) pembuka Jagat Sinema Bumilangit (BCU = Bumilangit Cinematic Universe) tanpa embel-embel Putra Petir yang baru akan muncul di sekuel sesuai peluncuran BCU dengan nama-nama aktor papan atas beberapa waktu lalu.

Joko pun menggagas kisah asal-usul ini ke latar set yang sangat khas hadir di karya-karyanya, sebuah gambaran alternatif hiper-realistik negeri ini yang serba muram, penuh kekacauan akibat ketimpangan sosial di mana kemiskinan menjadi lapis masyarakat terendah berbalut penderitaan atas ulah mafia yang menguasai wakil rakyat. Di sana, Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) kehilangan ayahnya (Rio Dewanto) yang jadi korban saat demo buruh pabrik menuntut kesejahteraan berujung rusuh. Sang ibu (Marissa Anita) kemudian meninggalkannya entah ke mana. Menggelandang sebagai anak jalanan yang diselamatkan oleh seorang anak lain (Faris Fajar) yang lantas mengajarinya bela diri di balik sebuah pesan untuk bersikap apatis demi keselamatannya saat ia lagi-lagi harus terpisah sendirian. Tumbuh dewasa sebatang kara tanpa peduli dengan kekacauan yang makin merebak di sekitarnya, kesadaran Sancaka (Abimana Aryasatya) yang kini bekerja sebagai petugas sekuriti perlahan mulai terdorong menelusuri takdirnya, berjuang membela kaum tertindas kala sambaran petir yang dialaminya berkali-kali sejak kecil ternyata memberinya sebuah kekuatan misterius yang belum benar-benar bisa ia mengerti.

Bentukan dunia kelam – muram ala Joko dengan segala elemen khasnya ini (anak-anak, ibu hamil, kaum marjinal dan hal-hal getir lainnya) sebenarnya  sudah bekerja sebagai latar yang sangat efektif untuk motivasi heroik karakter jagoannya, terlebih saat dibenturkan dengan karakter Pengkor (Bront Palarae), korban penindasan lain yang merupakan antitesis karakter Sancaka dalam pengembangannya. Tampil kuat dalam konsep superhero dan archenemy di ranah genrenya, meski tak sampai menyamai Batman dengan Joker yang inspirasinya sangat terasa, keduanya sama-sama dipicu oleh tragedi dan penderitaan namun punya titik belokan berbeda untuk menyambung rantai interkoneksinya. Di lapis bawah dan atasnya, bersama konsep-konsep lazim genrenya soal bagaimana sosok pembela kebenaran menginspirasi perlawanan terhadap penindasan atau people power, Joko melengkapinya dengan karakter-karakter sampingan pelaku teror yang saling berhubungan sementara ada satu sosok penting yang pasti sangat dikenal pembaca komik orisinalnya serta punya potensi dibuka di kelanjutannya nanti.

Dan meski Joko kelihatan menolak mengikuti kisah asal-usul kelewat fantastis yang selama ini dikenal pembacanya dan memilih elemen-elemen lebih membumi, ia sebenarnya hanya menariknya lebih lagi ke belakang. Ada petunjuk-petunjuk yang tetap ditinggalkannya untuk dikembangkan secara setia terhadap esensi Gundala, bahwa Hasmi, kreatornya, memang menciptakan bentukan karakter ini dalam keseluruhan semestanya, untuk membenturkan pemahaman sains lawan klenik yang sangat kental di balik sosok Sancaka orisinal yang berprofesi sebagai ilmuwan, bukan sekuriti. Sementara musuh-musuh yang dihadapi Gundala memang rata-rata punya latar belakang kultur mistis yang dalam pakem genrenya kerap disebut ghastly atau supernatural villains. Nafas horor dari sumber orisinalnya ini pula yang membuat Joko sebenarnya merupakan sosok yang tepat dalam sejumlah elemen racikannya.

Sayangnya, dalam mengiringi konsep itu, naskah yang ditulis sendiri oleh Joko juga menyebar menjadi bom waktu penuh distraksi di sana-sini atas kegemarannya menampilkan elemen-elemen kritik sosial yang sinis hingga sarkastis di film-filmnya. Dalam durasi yang mau tak mau harus terbatas itu, Joko justru terlihat sedikit berlebih menyemat adegan demi adegan hingga ke dialog-dialog politis berbahasa kelewat baku yang sebagian besar tak nyaman didengar secara tak habis-habis. Dan ini semakin melebar lagi kala ia memilih menggunakan elemen perangkat teror yang murni sains (kata kunci; serum) sementara efeknya cenderung serba abstrak (kata kunci; moral) tanpa penjelasan lebih detil soal neurosains ataupun efek anatomis kurang relevan yang ditampilkan, paling tidak, yang sebenarnya bisa diulik lebih untuk menjembatani fusi itu agar benar-benar menyatu secara sempurna.

Begitu pula dalam soal eskalasi kekuatan Sancaka yang mutlak harus tergelar dalam kepentingan proses penceritaan film-film fantasi superhero, naskah Joko sayangnya gagal menampilkan hal ini. Usaha ke arah sana memang terlihat, dari titik masuk kekuatan secara anatomis yang terasa sudah dicoba dengan modifikasi lebih ilmiah terutama terkait lewat penjelasan elemen-elemen kostumnya, tapi salahnya tak bisa terjelaskan penuh dalam visualisasinya lebih lanjut. Seperti konsep kekuatan super yang tak bisa dibarengi aturan main lebih jelas dan terarah, pun konsep-konsep rangkaian energi kelistrikan, makin ke belakang semakin banyak benturan yang serba kacau dalam logika-logika internalnya. Sematan komikalnya pun seringkali terasa canggung dan masih cukup banyak kelemahan penyuntingan dari Dinda Amanda.

Belum lagi soal penataan koreografi laga yang harusnya bisa menjadi daya tarik lebih saat usaha-usaha menampilkan CGI secara mumpuni mungkin masih terbentur dengan waktu dan batasan bujet film kita. Ternyata, setelah tampil meyakinkan di bagian-bagian awal, adegan-adegan laga ini menjadi semakin berantakan ke pengujungnya. Pengaturan aksi (action staging) lemah inilah yang agaknya merupakan hal paling fatal karena sebagai pembuka konsep jagat di mana Joko melepaskan lonjakan amunisi klimaksnya dengan menggelar taburan nama-nama terkenal ke tengah layar (Hannah Al Rashid, Kelly Tandiono, Daniel Adnan, Cornelio Sunny, Asmara Abigail, Cecep Arif Rahman, di antaranya), pada akhirnya tak bisa terbayar dengan pertarungan final yang terkesan kelewat singkat, buru-buru dan lewat sekelebat begitu saja.

Tak ada sebenarnya yang salah dengan koreografi laga dari Cecep yang berdiri di atas konsep aksi pertarungan jalanan, namun secara visual, tata kamera Ical Tanjung yang memang bekerja baik sekali menuangkan latar set dan atmosfernya, sayangnya gagal menangkap detil-detil dinamika adegan aksi yang juga minim impak dan intensitas akibat rata-rata teknik pengambilan long take yang malah terkesan berkejaran, sementara laganya terkadang dimainkan dengan aksi-reaksi sangat lambat oleh para pemain seolah di tengah sesi latihan, terutama di paruh kedua Gundala dan klimaks final yang mestinya sangat krusial tadi. Pada akhirnya, penempatan karakter yang cukup penuh sesak dan diramaikan bintang-bintang papan atas tadi jadi terasa tak lebih dari sekadar ambisi publisitas tanpa bisa benar-benar memanfaatkan talenta mereka, baik dalam berakting atau berlaga dengan sepenuhnya baik atau paling tidak, menyisakan cukup respek buat kredibilitas aktor-aktor ini.

Namun begitu, Gundala bukanlah film yang sepenuhnya gagal walau terasa lemah sebagai karya Joko yang kali ini diwarnai ambisi lebih. Ada dukungan teknis di tengah tata produksi berkelas cukup raksasa dari Wencislaus de Rozari yang masih sangat layak selain tata kamera dan ‘mata’ Joko menggelar visual megahnya termasuk tata musik Aghi Narottama, Bemby Gusti dan Tony Merle, juga tata suara dari Khikmawan Santosa dan Anhar Moha. Tata busana dan rias, masing-masing dari Patrice Isabelle dan Darwyn Tse, meski masih punya kekurangan di beberapa bagian, juga tampil cukup baik.

Selebihnya, di departemen pemeranan, walau rasanya terlalu banyak aktor-aktor terkenal yang tak dimanfaatkan benar-benar pantas dalam mengisi karakter-karakter sampingan sambil lewat saja demi status taburan bintang, Gundala masih menyisakan sejumlah penampil terbaiknya, di antaranya Pritt Timothy dan Rendra Bagus Pamungkas yang sangat mencuri momentum mereka, kemudian Dea Panendra, Lukman Sardi, Marissa Anita, Tara Basro, Faris Fajar, Ario Bayu, Bront Palarae dan tentu saja dua pelakon Sancaka; Muzakki Ramdhan dan Abimana.

Sebagai pembuka Jagat Sinema Bumilangit pula, ia jelas tak bisa disepelekan dan sangat patut mendapat dukungan lebih. Di balik ambisinya membangun sebuah semesta jagoan-jagoan super demi keragaman genre yang selama ini rata-rata gagal terbangun dari sejumlah film superhero lokal kita di luar Wiro Sableng kalaupun subgenre-nya mau dibedakan, ini jelas tak mudah. Perlu juga agaknya menyebut satu hal terkait kekeliruan pemasaran finalnya sebagai produk yang aman disaksikan keluarga, padahal berisi tingkat kesadisan yang tak pantas juga dibandrol penggolongan usia tontonan 13 tahun atas elemen-elemen kekerasan anak meski memang tak mengumbar darah. Dan sayang kostum kedua Gundala bukan malah dimunculkan di pertarungan klimaks tapi masih disimpan sebagai teaser pasca kredit akhir ke film berikutnya. Paling tidak, ia sudah dikerjakan di batasan-batasan kelas produksi sangat layak dan berhasil memancing antusiasme pengembangan BCU dengan sematan ekstra karakter berikut yang ditunggu; satu musuh terkenal Gundala dan satu lagi jagoan super wanita jagatnya yang muncul menjelang akhir dan di awal kredit akhir bergulir.

Lagi-lagi, fantasi boleh ke mana saja. Tapi tentu perlu ada hal-hal yang perlu lebih dijaga dalam keseluruhan gagasan semestanya. Gundala tak sepenuhnya bebas dari kekurangan, memang, bahkan cenderung punya banyak kelemahan. Tapi sebagai pembuka kunci agar semakin banyak lagi lahir yang lain, mari sambut fajar baru sinema superhero Indonesia! (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter