Home » Dan at The Movies » RAMBO: LAST BLOOD (2019)

RAMBO: LAST BLOOD (2019)

RAMBO: LAST BLOOD: NO BREAKS JUST HEARTACHES, A LONG ROAD TO ONE FINAL WARFARE… OR NOT?

Sutradara: Adrian Grünberg

Produksi: Millennium Media, Balboa Productions, Templeton Media, Lionsgate, 2019

Image: impawards.com

Terserahlah di luar mau jadi simbol kepahlawanan Amerika era Reagan bersama puncak karir Sylvester Stallone, tapi di sini, 37 tahun setelah First Blood (1982) sebagai instalmen awal ketokohan (John) Rambo, mau sebagian generasi milenial maupun Gen Z mungkin baru akan mengenalnya setelah ini, sosoknya memang sudah berkembang sebagai budaya yang merambah segala lapisan kalangan. Dari action figure kelas atau boxset Bluray kelas premium yang terpampang di home theatre pribadi super mewah sampai bus antar lintas bahkan bak belakang truk pengangkut sayur, Rambo adalah salah satu ikon aksi terbesar yang pernah dikenal.

Setelah Rambo/Rambo IV/John Rambo (2008), judul variatif yang dipakai untuk melanjutkan franchise-nya lama setelah Rambo III (1988), sepak terjang veteran perang Vietnam penderita PTSD yang ternyata belum lagi berakhir ini kembali seakan sebagai penutup circle-nya dengan judul Last Blood. 11 tahun berselang dari amukan terakhirnya di Burma, John Rambo (Sylvester Stallone) yang mencari ketenangan mengurusi peternakan warisannya di Arizona bersama sahabat lamanya, Maria (Adriana Barraza), kembali terusik kala Gabrielle (Yvette Monreal), cucu Maria yang sudah dianggapnya putri sendiri, diculik kartel Meksiko untuk dijual ke dunia pelacuran bawah tanah. Usaha Rambo menemukan Gabrielle tak berjalan mudah hingga sebuah kecerobohan akhirnya membuat semuanya berantakan. Dibantu jurnalis independen yang juga jadi korban, Carmen (Paz Vega), Rambo kembali mengamuk, kali ini menggiring semua buruannya ke medan tempur personal penuh jebakan yang sudah disiapkannya tanpa kemungkinan selamat.

Di tengah banyaknya spekulasi instalmen Rambo berikutnya setelah Rambo IV yang cukup cermat memindahkan motif dan medan perangnya ke Burma dengan relevansi di tahun itu, sayangnya Stallone memilih sebuah plot klise soal (lagi-lagi) kartel Meksiko, lengkap dengan sex trafficking yang sama sekali tak menawarkan sesuatu yang baru. Di balik resiko-resiko terhadap situasi pemerintahan Trump saat ini, bisa dimengerti mungkin kalau ia bersama konseptor ceritanya, Dan Gordon (Passenger 57, Wyatt Earp) berikut penulisnya, Matthew Cirulnick, memang mau menggerakkan Last Blood ke arah kisah balas dendam generik dan habis-habisan untuk menyempalkan kesadisan sebagaimana dalam Rambo IV sebagai jembatan penarik generasi penonton sekarang. Sementara, esensi-esensi soal Rambo yang seakan tak pernah bisa berdamai menemukan ketenangan, termasuk pakem modern western yang kembali ke First Blood. bukan heroisme Amerika ala Rocky yang penuh dengan harapan, bahkan dari sepenggal adegan pembukanya, tetap dipertahankan.

Salahnya, mereka – termasuk sutradara yang kali ini ada di tangan Adrian Grünberg (Get the Gringo), sedikit tersandung dengan pergerakan kisahnya hingga melupakan elemen ex-soldier termasuk kemampuan surveillance expert sebagaimana yang kita lihat di instalmen-instalmen sebelumnya dan juga selama ini membentuk sosoknya. Ada sedikit kesalahan cukup fatal walau tak sampai menggerus bangunan emosinya terlalu jauh, di mana Rambo sekali ini seakan melupakan kemampuannya menyusun strategi saat lagi-lagi harus masuk ke sarang singa yang juga sejak awal sudah tergambar cukup ekstrim lewat penokohan para villain-nya, yang meski klise, tapi digagas dengan cermat lewat pemilihan cast-nya (Sergio Peris-Mencheta dan Oscar Jaenada, berikut begundal-begundal kartel yang memang terlihat seperti begundal). Akibatnya, satu bagian pengisahannya seakan terpatah oleh kesalahan logika internal yang walau mungkin (maunya) bisa berlindung di alasan manusiawi, tapi tetap tak bisa menolak tebalnya unsur kecerobohan bagi sesosok ikon macam Rambo.

Begitupun, Stallone dan timnya mungkin memang terang-terangan ingin bermain di atas pilihan untuk membuat final act ala Home Alone yang sudah kita lihat di trailer dan promo-promonya. Berdiri di atas resiko pilihan tadi untuk bisa gila-gilaan menggelar adegan klimaks sebagai sebuah comeuppance yang akan memuaskan penonton di atas tema utama balas dendamnya – jelas sulit sekali dibantah, bagian ini memang didesain luar biasa cermat untuk menggelar bombardir adegan seru dipenuhi kesadisan tak terkira, no holds barred dan luar biasa savage-nya kali ini sebagai perang dan balas dendam paling personal buat Rambo. Dan untungnya, mereka tak pernah melupakan selipan-selipan kecil dalam usaha homage ke First Blood – dari gestur, artileri hingga karakter-karakter sampingan, serta menutup Last Blood dengan tribute penuh rasa dan nostalgia terhadap keseluruhan franchise-nya.

Kembali menokohkan Rambo di usianya yang sudah menginjak 73 tahun, meski jejas-jejas facelift dan botox bertebaran di antara kerutan membuat ekspresi yang seringkali terasa aneh, Stallone masih gesit menokohkan adegan-adegan aksi walaupun jelas sangat bergantung ke fast-paced editing dari Todd E. Miller & Carsten Kurpanek di adegan-adegan aksi sementara sinematografi Brendan Galvin lebih terasa serba raw serta tak pernah cukup mengeksplorasi detil set pieces-nya. Ketimbang film-film DTV atau The Expendables sebagai proyek pelepasannya, Stallone tetap terlihat ada di batas keseriusan beda berperan kembali sebagai Rambo walau tak sekuat dalam franchise Rocky/Creed. Dua villain-nya, Sergio Peris-Mencheta dan Oscar Jaenada cukup mencuri perhatian, tapi selain aktris Meksiko senior Adriana Barraza (Amores Perros, Babel), yang bakal punya masa depan terbesar dari Last Blood sepertinya adalah aktris muda Yvette Monreal sebagai Gabrielle. Sayang, Paz Vega tak pernah bisa dimaksimalkan sebagai Carmen yang seharusnya bisa punya porsi seimbang dengan Julia Nickson di Rambo: First Blood part II atau Julie Benz di Rambo IV. Dan satu yang tak boleh terlupa, tentulah scoring Brian Tyler yang secara pas memuat bagian-bagian komposisi scoring klasik Jerry Goldsmith dan theme song Dan Hill – It’s A Long Road dari First Blood.

Pada akhirnya, dengan perjalanan panjang hampir 40 tahun untuk sebuah franchise dengan pengaruh begitu besar baik terhadap film, video game, animasi hingga segudang film-film rip off berbagai negara dari Amerika sampai Asia termasuk dari film kita ada Pembalasan Rambu karya Yopie Burnama (1986 dalam dua versi; lokalnya diperankan Eddy Darmo dan internasional/The Intruder oleh Peter O’Brien), serta boleh dinanti official remake Bollywood berjudul sama yang dibintangi Tiger Shroff, mungkin belum waktunya bagi Rambo untuk berhenti di sini. Walau sudah beralih dari distribusi major studios di trilogi pertamanya ke produk kelas independen Lionsgate di Rambo IV dan Last Blood, ada ambiguitas yang digelar Stallone bersama Grünberg di pengujungnya sebelum tribute yang memuat sekuens-sekuens memorable itu muncul ke depan layar, bahwa memang, di tiap saat sinema aksi menemukan jalan untuk transformasi baru genrenya, ikon-ikon seperti Rambo – mau sekuel, remake atau prekuel, tetap layak ada di tengah-tengahnya. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter