Home » Interview » WAWANCARA EKSKLUSIF DENGAN SUTRADARA SHINOBU YAGUCHI DAN AKTOR LEGENDARIS AKIRA TAKARADA DARI DANCE WITH ME

WAWANCARA EKSKLUSIF DENGAN SUTRADARA SHINOBU YAGUCHI DAN AKTOR LEGENDARIS AKIRA TAKARADA DARI DANCE WITH ME

Akira Takarada dan Shinobu Yaguchi bersama Artistic Director IFFAM Mike Goodridge (
Ⓒ IFFAM 2019)

Di tengah jarangnya tema musikal yang hadir di sinema Jepang, Dance With Me muncul sebagai gebrakan dalam trend film musikal yang tengah digemari belakangan. Menggunakan sejumlah lagu-lagu pop klasik/evergreen Jepang, komedi musikal dengan sentuhan fantasi ini mengisahkan Shizuka (diperankan Ayaka Miyoshi), gadis kantoran di tengah rutinitas membosankan yang seketika menyibak kembali trauma masa lalunya setelah ia tak sengaja bertemu dengan seorang ahli hipnotis, Machin Ueda (Akira Takarada) saat membawa keponakannya ke sebuah karnaval. Shizuka yang tiba-tiba tak bisa berhenti menyanyi dan menari setiap ia mendengar bunyi musik pun menempuh perjalanan panjang untuk menemukan Ueda sambil menelusuri apa yang sebenarnya terjadi.

Hadir di IFFAM (International Film Festival & Awards Macao) 2019 untuk mempresentasikan Dance With Me yang ditayangkan dalam segmen Gala, sutradara Shinobu Yaguchi dari sejumlah film-film hits seperti Waterboys, Swing Girls dan Survival Family juga membawa aktor Jepang legendaris Akira Takarada. Menjadi tamu spesial di perhelatan karpet merah dan seremoni pembuka, Yaguchi dan Takarada yang masih terlihat sangat energik di usianya yang sudah menginjak 85 tahun ini juga menyempatkan untuk berbincang-bincang dengan kami tentang Dance With Me dan banyak hal lain soal genre musikal dan sinema Jepang.

Adegan film Dance With Me (Ⓒ 2019 IFFAM)

Dance With Me juga termasuk salah satu line up Japanese Film Festival tahun ini yang digagas Japan Foundation untuk ditayangkan keliling negara termasuk Indonesia.

Berikut adalah kutipan wawancaranya:

Sutradara Shinobu Yaguchi

Jepang tak terlalu banyak membuat film musikal, malah bisa dikatakan sangat jarang, tapi Anda sebelumnya juga membuat film bernuansa musikal dalam Swing Girls. Apa kira-kira yang menjadi kendalanya?

Shinobu Yaguchi: Benar. Sangat sedikit film musikal yang dibuat di Jepang. Swing Girls pun menurut saya bukan film musikal bila kita mengacu pada pengertiannya secara mendasar. Saya mungkin lebih setuju dengan persepsi bahwa film musikal lebih berupa adanya adegan musikal atau dialog yang dilagukan di dalamnya. Swing Girls saya rasa lebih ke film tentang musik di mana karakter-karakternya sebatas memainkan instrumen di panggung, dengan audiens yang menonton mereka. Dalam Dance With Me Anda bisa melihat musik hadir secara berbeda di mana karakter utamanya bisa tiba-tiba menyanyi, menari dan orang-orang di sekitarnya ikut melakukan hal yang sama. Ini bukan hal biasa secara realita dan karena itu juga mungkin sering dianggap sebagai sesuatu yang janggal bagi penonton yang tak biasa. Tapi saya memang ingin mendobrak hal itu, bahwa walau tak terjadi di realita, inilah yang terjadi pada karakter saya dan lingkungannya. Jadi ya, itu mungkin yang menjadi kendala – soal tak terbiasa, tapi saya rasa harus ada yang memulai dan lebih banyak lagi yang mengikuti.

Dari Waterboys, Swing Girls, Survival Family ke Dance with Me, saya melihat ada tema keluarga yang kuat di film-film Anda. Apakah Anda merasa ini salah satu signature Anda dalam membuat film?

Shinobu Yaguchi: Menarik bila Anda melihat itu… (berpikir sejenak), tapi mungkin lebih dari soal itu adalah bentukan individu-individunya yang lebih ingin saya gambarkan dalam melihat soal kultur negara saya sendiri – manusia-manusia yang secara karakteristik sangat Jepang dan terkadang membuat saya melihat sesuatu yang lucu dan khas, juga terkadang aneh (tertawa).

Adegan film Dance With Me (Ⓒ 2019 IFFAM)

Adegan-adegan musikal dalam Dance With Me terasa lebih mendekati film-film musikal Hollywood tempo dulu. Apa yang Anda lakukan untuk suatu langkah penyesuaian terhadap karakteristik yang Anda katakan barusan?

Shinobu Yaguchi: Saya menonton banyak sekali film-film musikal dari seluruh dunia dan ya, mungkin memang menggemari genrenya. Namun saya rasa yang berbeda adalah saat film-film musikal Hollywood dulu kerap menggunakan aktor – aktris utama dengan latar belakang musikal, Dance With Me berbeda secara karakter. Saya tak mengetengahkan set kota yang biasanya menyatu dengan genrenya tapi karakter utama di Dance With Me justru datang dari wilayah pinggiran (suburb) dan justru awalnya sangat terganggu dengan musik oleh suatu trauma. Jadi bisa jadi memang ada pengaruh dari film-film musikal yang saya tonton, tapi saya melakukan pendekatan berbeda ke bentukan karakternya.

Sebagai seorang sutradara, apa yang paling Anda harapkan dari penonton terhadap karya-karya Anda?

Shinobu Yaguchi: Saya pikir yang pertama, lebih dari soal suka atau tidak, adalah rasa. Lewat film saya ingin penonton merasakan apa yang saya rasakan ketika menuangkan cerita ke sebuah adegan. Apa yang Anda rasakan dari Dance With Me?

Saya merasa tersentuh dengan idenya yang paling mendasar. Saya pikir Dance With Me adalah sebuah pengingat yang penting terhadap apa yang kita sukai semasa muda atau kecil namun terkadang kita lupakan seiring dewasa atas beberapa hal yang terjadi. Dan saya suka lagu-lagunya.

Shinobu Yaguchi: Terima kasih. Itulah yang paling saya harapkan dan saya sukai dari penonton saat menonton film-film saya. Ada rasa yang bisa tersampaikan.

Aktor Akira Takarada

Oke, saya akan bertanya pada Akira (Takarada)-San. Saya pengagum Anda sejak Godzilla, tentunya. Saya bahkan membawa buku strip film Mothra Vs Godzilla versi Indonesia (diadaptasi oleh Yan Widjaya – kritikus/jurnalis film senior Indonesia) untuk meminta Anda menandatanganinya.

Akira Takarada: Wah, terima kasih. Godzilla ya (tertawa). Boleh saja. 10 USD untuk satu tanda tangan (tertawa).

(Tertawa) Dalam Dance With Me Anda memerankan seorang ahli hipnotis yang juga piawai menyanyi serta menari. Saya membaca juga bahwa Anda melakoni semua adegan musikal itu sendiri. Sejauh mana Anda mengeksplorasi akting untuk memainkan peran ini? Berlatih tarikah, menyanyikah atau malah benar-benar belajar hipnotis?

Saya percaya setiap produser dan sutradara, bersama seluruh kru yang terlibat dalam sebuah film – dalam Dance With Me keseluruhan ada lebih dari 150 pemain dan kru, tak pernah berniat untuk membuat film jelek tapi sebaliknya. Semua ingin yang terbaik dari hasil kerjanya demi menciptakan film yang baik. Jadi ya, saya juga termasuk salah satunya. Meski sudah bermain dalam lebih dari 150 film selama karir saya, saya selalu mau menampilkan yang terbaik baik bagi pembuat film dan orang-orang di sekitar saya. Untuk itulah apapun perannya saya selalu berusaha mengeksplorasinya sekaya mungkin. Sebisa mungkin, sebagai aktor atau aktris, kita harus bisa menghidupkan imaji yang diinginkan sutradara terhadap karakter-karakternya lewat seluruh tubuh dan pikiran kita. Penghayatan peran ini saya lakukan dengan banyak cara, paling tidak – melakukan riset dan bertanya ke orang-orang di sekitar saya. Tapi saya memang bisa menyanyi dan menari (tertawa).

Bermain dalam begitu banyak film melintasi regenerasi talenta-talenta akting di sinema Jepang, apa yang Anda rasakan setiap kali membuat film?

Saya sangat senang dengan pertemuan-pertemuan baru. Semua saya anggap sebagai pengalaman yang belum tentu bisa didapatkan semua orang dan ini selalu saya rasakan sangat spesial. Bekerja bersama orang-orang baru selalu menyenangkan bagi saya. Dalam Dance With Me juga sama, saya banyak sekali bertemu talenta-talenta baru baik dari jejeran pemain dan kru. Saya selalu ingin belajar dan belajar lagi dari orang-orang di sekitar saya.

Apa yang Anda lihat dari Shinobu Yaguchi sebagai sutradara saat bekerjasama dengannya?

Saya rasa Shinobu punya kemampuan yang sangat luas dalam bidang kerjanya sebagai sutradara. Walau saya jauh lebih senior, saya wajib mengikuti apa yang ia inginkan dan saya lihat ia merupakan seorang sutradara yang benar-benar tahu apa yang ia buat.

Apa pandangan Anda terhadap genre musikal di sinema Jepang?

Begini. Saya rasa kita tak mesti selalu menganggap genre musikal atau yang jarang-jarang dibuat merupakan hal spesial. Semua (negara) punya sejarah budayanya, begitu juga Indonesia sebagai negara Anda, toh? Jauh lebih dari sekadar menyanyi atau menari, Jepang juga punya bentuk musikalisme yang berbeda misalnya dari Kabuki dan sebagainya. Buat saya, musikal juga bukanlah hanya soal menyanyi atau menari, tapi lebih kepada sebuah bentuk ekspresi dari apa yang kita alami sehari-hari. Saat kita mengekspresikan rasa, budaya serta humanitas, kita semua punya musikalitas kita sendiri. Begitu pula semua genre film. Jadi itulah yang saya rasa menjadi hal terpenting dalam genre apapun yang sedang kita kerjakan. Mengekspresikan diri.