Home » Dan at The Movies » WAITING FOR THE BARBARIANS: POTRET KEKUASAAN DAN KEMANUSIAAN DI TENGAH KOLONIALISME

WAITING FOR THE BARBARIANS: POTRET KEKUASAAN DAN KEMANUSIAAN DI TENGAH KOLONIALISME

Sutradara: Ciro Guerra

Produksi: Iervolino Entertainment, AMBI, Samuel Goldwyn Films, 2020

@2020 Iervolino Entertainment S.P.A., AMBI Distribution, Samuel Goldwyn Films

Kecuali pemerhati festival film Internasional, tak banyak mungkin yang mengenal nama sutradara asal Kolombia, Ciro Guerra meskipun dua filmnya, Embrace of the Serpent (2016) dan Birds of Passage (2018), bukan saja menjadi official entry Kolombia ke Oscar (Embrace malah masuk dalam 5 nominasi Film Asing Terbaik di tahunnya sebagai film Kolombia pertama di kategori itu), tetapi juga menjadi film Kolombia berbahasa Spanyol tersukses dari perolehan BO internasional (Birds menumbangkan rekor ini, yang sebelumnya dipegang Embrace). Waiting for the Barbarians yang diangkat dari novel berjudul sama karya J.M. Coetzee ini merupakan debut film berbahasa Inggris pertamanya yang tak tanggung-tanggung mengolaborasikan aktor-aktor papan atas; Johnny Depp, Robert Pattinson dan Mark Rylance – aktor yang belakangan menjadi langganan Steven Spielberg sejak Bridge of Spies (2015), berlanjut ke BFG (2016) dan Ready Player One (2018).

@2020 Iervolino Entertainment S.P.A., AMBI Distribution, Samuel Goldwyn Films

Berlatar di sebuah wilayah perbatasan terpencil di tengah gurun yang tengah dijajah pemerintahan kolonial Inggris bertangan besi, Waiting for the Barbarians mengisahkan tentang seorang Pejabat Pemerintahan setempat (Mark Rylance) yang menyadari sisi kemanusiaannya lewat seorang wanita buta korban kekejaman perang dari suku yang mereka sebut barbar. Menentang atasannya, Kolonel Joll (Johnny Depp) yang kejam dan gemar menyiksa tawanan perang, usahanya memulangkan wanita itu pada sukunya justru terbentur pada bawahan Joll, Mandel (Robert Pattinson) yang tak kalah keji. Dituduh sebagai pengkhianat, Joll pun kemudian bergabung bersama Mandel untuk mengadili dan memperlakukannya tak berbeda dari seorang tawanan perang.

Boleh jadi terlihat seperti sebuah film perang dari tampilannya, Waiting for the Barbarians sebenarnya lebih merupakan film anti-perang yang menggambarkan kekejaman perang di tengah tekanan-tekanan hirarki dan penjajahan, untuk kemudian dibenturkan dengan sebuah gejolak kemanusiaan yang bukan serta-merta tersaji secara melodramatik. Bergerak perlahan namun penuh perhitungan dan tak jarang membuat kita bergidik lewat visual dan sinematografi lanskap gurun luar biasa cantik besutan DoP veteran nominee Oscar Chris Menges (The Killing Fields, The Mission, The Reader), aspek ini menjadi salah satu unsur terbaik yang ikut berbicara, terkadang secara puitis dalam menyampaikan kedalaman tiap alegori-nya.

@2020 Iervolino Entertainment S.P.A., AMBI Distribution, Samuel Goldwyn Films

Bersama itu pula, iringan komposisi musik dari Giampiero Ambrosi yang minimalis namun menyayat ikut memberi nuansa di tengah performa powerhouse trio Rylance, Depp dan Pattinson.  Turut mencuri perhatian di tengah nama-nama besar ini adalah penampilan model/aktris Mongolia Gana Bayarsaikhan sebagai wanita tawanan perang yang menjadi sentral konfliknya. Sang kreator sumbernya, J.M. Coetzee yang menulis langsung adaptasi skripnya juga dengan leluasa membangun emosi lewat eskalasi hubungan karakter Rylance dan Bayarsaikhan secara sangat manusiawi, sementara Guerra menyajikan visual nyata kejamnya perang secara fisik dan kadang sadistik demi efek psikis para pemirsanya.

Walau cenderung bergerak pelan tanpa tergesa-gesa, lewat elemen-elemen kuat dari sisi teknis, penceritaan ke departemen pemeranan itu, Waiting for the Barbarians tak pernah kehilangan aspek-aspek emosinya sebagai sebuah potret kekuasaan dan kemanusiaan di tengah kolonialisme yang kejam. Sebuah film penting yang harus ditonton bukan hanya melulu berdasar star factors-nya.

@2020 Iervolino Entertainment S.P.A., AMBI Distribution, Samuel Goldwyn Films

Mendapat slot premiere di Venice International Film Festival September tahun lalu, beruntung kita bisa menyaksikan Waiting for the Barbarians bersamaan dengan rilis Internasional dan Amerika mulai tanggal 7 Agustus secara eksklusif lewat layanan kanal streaming Mola TV meskipun bioskop kita belum lagi dibuka berkenaan dengan pandemi Covid-19. Sebagai platform hiburan yang menyajikan konten eksklusif dan menarik melalui segmen-segmen Mola Movies, Mola Living, Mola Sports dan Mola Kids, mengakses layanan Mola TV juga mudah dan tergolong sangat ekonomis, apalagi pilihan filmnya yang beragam sebagai alternatif tontonan.  Hanya dengan mengunduh aplikasi mobile, perangkat streaming full HD Mola Polytron ataupun mengaksesnya langsung lewat situs Mola TV (www.mola.tv), registrasi bisa diakses melalui link berikut: https://mola.tv/accounts/register. Dengan pembelian paket berlangganan seharga Rp. 12.500,- saja untuk Paket Anak Indonesia, Waiting for the Barbarians langsung bisa disaksikan di gadget atau perangkat Anda. (dan)