Home » Dan at The Movies » THE PROFESSOR AND THE MADMAN: KISAH PERSAHABATAN UNIK DI BALIK SEJARAH PEMBUATAN KAMUS OXFORD

THE PROFESSOR AND THE MADMAN: KISAH PERSAHABATAN UNIK DI BALIK SEJARAH PEMBUATAN KAMUS OXFORD

Sutradara: Farhad Safinia

Produksi: Fastnet Films, Icon Entertainment Intnl, Voltage Pictures, Fabrica de Cine, 2019

Image: Dok. Mola TV

Banyak sekali hal yang kita akses dan gunakan sehari-hari tanpa mengetahui sama sekali proses dan sejarah pembuatannya. Salah satunya, bahkan yang jarang sekali terpikirkan, adalah kamus. Berbicara soal kamus Oxford/The Oxford English Dictionary yang historis dan sekarang semakin menjadi kamus wajib untuk banyak kurikulum sekolah, inilah letak keunikan The Professor and The Madman. Mengangkat subjek yang sangat tersegmentasi dan mungkin belum pernah diangkat ke sebuah film biopic, topiknya bukan lantas jadi sesuatu yang  tak menarik. Tema utama soal sejarah pembuatan/perumusan kamus Oxford yang diangkat dari novel The Surgeon of Crowthorne karya Simon Winchester ini dikemas secara filmis lewat sorotan terhadap sebuah kisah persahabatan unik antara dua sosok asli di balik sejarahnya – filolog/bahasawan asal Skotlandia, Prof. James Murray – yang mengepalai proyek penyusunan kamus Oxford pertama di London tahun 1879, dengan seorang dokter bedah mantan Kapten Angkatan Darat AS – Dr. William Chester Minor yang menderita Schizophrenia dan dirawat di Broadmoor, Rumah Sakit Jiwa bak penjara dengan pengamanan tinggi saat itu. 

Nama Mel Gibson dan Sean Penn tentu sangat mengundang perhatian lewat kolaborasi pertama mereka di layar lebar. Namun proyek ambisius yang juga didukung salah satunya oleh PH milik Gibson, Icon, dan awalnya berniat disutradarai sendiri olehnya, juga menggamit banyak nama-nama aktor Inggris terkenal seperti Ioan Gruffud, Steve Coogan, Stephen Dillane, Jeremy Irvine, Eddie Marsan, Jennifer Ehle dan Natalie Dormer, sempat terhalang masalah kontrol pasca produksi dengan pihak Voltage Entertainment – yang berujung ke penolakan Gibson dan sutradara-penulis pilihannya, Farhad Safinia (juga ikut menulis Apocalypto) hingga akhirnya menggunakan pseudonym P.B. Sherman.

Image: Dok. Mola TV

Begitupun, hasil akhir The Professor and the Madman sama sekali bukan sesuatu yang mengecewakan. Dengan semua aspek pendukungnya, kisah persahabatan unik antara Prof. Murray dan Kapten Dr. Minor itu benar-benar membuka mata bahwa proses penyusunan kamus bukanlah hal yang mudah, dan justru diwarnai banyak sekali tantangan yang mungkin sangat mengejutkan di bersama kontribusi Minor yang dinilai kontroversial karena menderita gangguan kejiwaan. Lebih lagi, The Professor and the Madman sekaligus mengupas sedikit banyak proses penatalaksanaan ekstrim terhadap penderita gangguan itu dalam sejarah medisnya, yang mungkin sudah pernah kita baca atau lihat di film-film lain dengan kesamaan latar.

Diawali dengan penggalan kisah Dr. Minor (Penn) dan kasusnya membunuh seorang lelaki di London, 1872, The Professor and the Madman memperkenalkan kita ke sosok James Murray (Gibson) – ahli bahasa yang ditunjuk sebagai kepala proyek dalam penyusunan kamus bahasa Inggris Oxford setelah terrus-terusan menemui jalan buntu selama dua dekade. Keputusan dewan delegasi Oxford University Press ini menjadi kontroversi karena Murray yang putus sekolah sama sekali tak punya kualifikasi gelar akademik namun menguasai 17 bahasa lewat jalur otodidak. Dengan segala aturan yang dititahkan padanya, meski kelewat luas bak sebuah tugas mustahil, Murray yang merasa mendapat kesempatan besar membuat keputusan radikal; meminta semua publik yang menggunakan bahasa Inggris di Britania Raya menjadi volunter untuk mengirimkan semua kata yang pernah mereka gunakan. Misi yang dijanjikannya selesai paling lama 7 tahun ini kemudian mengantarkannya ke sebuah proses korespondensi dengan Dr. Minor yang masih menjalani perawatan tahanan di Broadmoor. Korespondensi ini akhirnya berkembang menjadi sebuah persahabatan unik di balik pengungkapan media yang mengobarkan polemik atas kontribusi Minor menyumbangkan lebih dari 10 ribu kata, juga dengan kondisi fisiknya yang kian memburuk setelah serangkaian eksperimen penatalaksanaan ekstrim.

Meski sarat dialog dan bergulir dengan tempo yang mungkin memerlukan perhatian ekstra buat bisa diikuti dengan nyaman, skrip yang ditulis oleh Safinia bersama Todd Komarnicki secara konsisten membangun proses penceritaan dengan rentang panjang itu benar-benar menarik. Selain aspek-aspek etimologi, istilah dan banyak lagi hal lain seputar pengetahuan linguistik yang mungkin selama ini luput dari perhatian para pemirsanya, dramatisasi halus yang mengalir lewat subplot-subplot pergulatan jiwa para karakternya – terutama Murray dan Minor, tetap muncul dengan manusiawi. Benturan motivasi di balik profesi-profesi yang saling terhubung secara tak biasa ini menggerakkan The Professor and the Madman ke dalam sebuah penuturan kuat yang tak membuat jemu walau berdurasi lebih dari 2 jam, terutama buat penonton yang menyukai tontonan-tontonan sarat ilmu.

Tampil paling meyakinkan menerjemahkan karakternya, jelas adalah Sean Penn sebagai Dr. Minor. Dengan intensitas akting di atas eskalasi dengan perhitungan cermat, Penn menjadikan karakternya sebagai sentral paling menarik dalam sejarah penciptaan Kamus Oxford ini tanpa pernah terpikirkan. Namun bukan berarti Gibson tak bermain cemerlang. Meski tak se-meledak Penn, ia memerankan Prof. Murray dengan kapasitas sangat pas untuk kemudian dipertemukan dalam satu frame bersama Penn. Begitu pula, semua deretan pendukungnya yang bukan berkredibilitas main-main itu. Meski tak semua mendapat porsi besar, pengaturan ansambel lewat pengarahan Safinia terasa sangat terjaga.

Image: Dok. Mola TV

Dari sisi teknisnya pula, sinematografi bernuansa muram dari Kasper Tuxen, bersama scoring minimalis Bear Mc Creary yang mengisi titik-titik emosinya dengan baik, membangun sinergi kuat dengan keseluruhan desain produksinya yang tergarap dengan cermat. Dalam banyak kriteria aspek-aspek filmis yang kalau saja dikampanyekan dengan semestinya, The Professor and the Madman seharusnya bisa jadi sebuah kontender award yang kuat. Namun satu hal yang lebih penting adalah esensi utamanya yang dengan berani mengetengahkan tema tak biasa untuk bisa membuka mata kita. Bahwa seringkali hal yang ada di depan mata tanpa kita sadari punya guliran sejarah panjang yang benar-benar layak buat disimak, dan betapa sebuah proses penemuan penting dan pencapaian ambisi seringkali tak jadi serta-merta, tetapi ditempuh lewat kisah-kisah manusia yang luar biasa.  

Merupakan tayangan Bioskop Exclusive Mola TV, The Professor and the Madman dapat disaksikan lewat layanan kanal streamingMola TV. Sebagai platform hiburan yang menyajikan konten eksklusif dan menarik melalui segmen-segmen yang ada, film biasa ataupun film-film HBO GO, layanan Mola TV juga mudah dan tergolong sangat ekonomis, apalagi pilihan filmnya yang beragam sebagai alternatif tontonan. Hanya dengan mengunduh aplikasi mobile, perangkat streaming full HD Mola Polytron ataupun mengaksesnya langsung lewat situs Mola TV (www.mola.tv), registrasi bisa diakses melalui link berikut: https://mola.tv/accounts/register. Dengan pembelian paket berlangganan seharga Rp. 12.500,- saja, juga paket terbaru Mola TV yaitu HBO GO senilai Rp. 65.000/bulan, The Professor and the Madman langsung bisa dinikmati di Mola TV pada gadget dan perangkat Anda. (dan)