Home » Dan at The Movies » THE SINGAPORE GRIP: SERIAL DRAMA SATIR KOLONIALISME INGGRIS DI SINGAPURA

THE SINGAPORE GRIP: SERIAL DRAMA SATIR KOLONIALISME INGGRIS DI SINGAPURA

Sutradara: Tom Vaughan

Produksi: Mammoth Screen, ITV, 2020

Image: Doc. Mola TV

Dari begitu banyak pilihan film serial yang ada di OTT platform, banyak orang biasanya berpegang kepada hype yang lagi ramai dibicarakan di media-media sosial. Padahal sebenarnya ada banyak pilihan menarik lainnya untuk diulik, terkadang bahkan bukan diisi oleh nama-nama yang tak dikenal pula.

The Singapore Grip, serial drama Inggris yang diangkat dari novel berjudul sama karya J.G. Farrell (diterbitkan tahun 1978), sebelumnya memulai debutnya di BBC First Australia di bulan Juli 2020 sebelum ditayangkan di jaringan ITV Inggris bulan lalu. Skripnya ditulis oleh Sir Christopher Hampton, penulis –  sutradara Inggris yang dikenal lewat adaptasi panggung Les Liaisons Dangereuses dan juga versi layar lebar tahun 1988 – Dangerous Liaisons, yang memenangkan piala Oscar untuk The Best Adapted Screenplay, dan disutradarai oleh Tom Vaughan (What Happens in Vegas, Extraordinary Measures).

Berlatar kolonialisme Inggris menjelang masuknya Jepang ke Singapura tahun ’40-an, The Singapore Grip mengisahkan intrik bisnis dan percintaan di tengah interaksi dua keluarga Inggris yang memegang perdagangan karet di tengah-tengah peralihan kolonialisme itu. Walter Blackett (David Morrissey) yang bekerja untuk Mr. Webb (Charles Dance) awalnya menjodohkan putrinya Joan (Georgia Blizzard) dengan putra Webb, Matthew (Luke Treadaway) yang belakangan malah tertarik dengan perempuan misterius asal Cina, Vera Chiang (Elizabeth Tan) yang awalnya diselamatkan ayahnya.  

Di tengah carut-marut kompleksitas hubungan antar karakternya, yang memang dikemas dengan gaya satir old-fashioned sesuai latar set-nya, hal paling menarik dalam The Singapore Grip memang mengacu ke judul novelnya sendiri. Farrell, sang kreator dan Hampton yang mengadaptasi sumbernya memang bermain dengan persepsi-persepsi komedi satir ke makna istilah ‘The Singapore Grip’ yang cenderung nakal dan menjurus ke persepsi seksual sebagai simbol terhadap perilaku-perilaku simbiosis karakter di tengah kolonialisme ini.

Namun tak hanya itu, walau sempat diwarnai kontroversi dari sebagian pihak atas tuduhan ‘terlalu putih’, seksis dan klise – yang sama sekali tak salah dari sudut pandang penceritanya, The Singapore Grip juga mengemas begitu banyak aspek-aspek historikal sejarah kolonialisme di Singapura dari kultur sosial, ekonomi bahkan sempalan adegan-adegan peperangan yang digarap serius berlokasi kebanyakan di Malaysia terutama Kuala Lumpur dan Penang yang masih sangat kental landmark kolonialnya. Semua aspek ini dihadirkan lewat garapan artistik dan sinematografi yang cukup rapi dan terlihat cantik, megah sekaligus eksotik, juga dengan iringan scoring ala Big Band yang sangat menarik. Pada akhirnya, The Singapore Grip tetaplah sebuah satir anti-kolonialisme yang disajikan dengan semua sindiran dan sentilannya.

Elizabeth Tan, aktris Inggris berdarah Cina yang sebelumnya pernah tampil dalam film India Love Aaj Kal (2013) dan juga ikut bermain dalam serial yang tengah banyak dibicarakan, Emily in Paris, tampil paling menarik menokohkan Vera Chiang dengan semua aspek misterius karakternya sebagai salah satu sentral terbesar konflik sekaligus lemparan satirikalnya. Luke Treadaway (Attack the Block dan film musikal You Instead) juga bermain menarik sebagai Matthew, dan ada tiga aktor Inggris senior – David Morrissey (paling dikenal di sini  lewat Basic Instinct 2), Colm Meaney dan Charles Dance yang terakhir kita lihat di The Mystery of the Dragon Seal bersama Jackie Chan dan Arnold Schwarzenegger.

6 episode The Singapore Grip yang masing-masing berdurasi sekitar 45 menit dapat disaksikan lewat layanan kanal streaming Mola TV di segmen Prime Time Series. Sebagai platform hiburan yang menyajikan konten eksklusif dan menarik melalui segmen-segmen Mola Movies, Mola Living, Mola Sports dan Mola Kids, mengakses layanan Mola TV juga mudah dan tergolong sangat ekonomis, apalagi pilihan film dan konten lainnya yang beragam sebagai alternatif tontonan.  (dan)