Home » Dan at The Movies » YOUNGER – TV SERIES: TAK PERNAH TERLALU TUA UNTUK BERKARIR

YOUNGER – TV SERIES: TAK PERNAH TERLALU TUA UNTUK BERKARIR

Created by: Darren Star
Produksi: Darren Star Productions, Jax Media, 2015 – present

Image: Dok. Mola TV

6 musim dari 2015 dan masih bertahan hingga sekarang dengan musim ke-7 yang akan meluncur dalam waktu dekat, sekaligus mencatat rekor serial dengan masa tayang terpanjang di stasiun induknya, TV Land, serial TV berjudul Younger ini tentu bukan sekadar main-main. Diproduseri oleh kreator ternama Darren Star berdasar novel rilisan 2005 berjudul sama karya Pamela Redmond Satran, jawabannya mungkin ada pada ide sentralnya yang boleh jadi sangat simpel dan bukan lagi sesuatu yang benar-benar baru, tapi punya koneksi kuat bagi banyak orang, terutama kaum wanita.

Younger, serial TV bergenre drama komedi ini membahas dunia karir agensi penerbitan dari sudut pandang karakter utamanya, Liza Miller (Sutton Foster, aktris TV dan Broadway yang mungkin di layar lebar lewat The Angriest Man in Brooklyn, 2014), single mother beranak satu (diperankan Tessa Albertson) yang menyembunyikan usia dan identitasnya sebagai wanita 26 tahun agar bisa diterima bekerja. Di sekeliling karakter-karakter lainnya, Kelsey (Hillary Duff), editor yang langsung dekat dengan Liza, Maggie (Debi Mazar), sahabat sekaligus roommate-nya, Diana (Miriam Shor), bosnya yang temperamental, Liza juga mencoba menelusuri hubungan baru dengan Josh (Nico Tortorella), seniman tato yang berusia jauh lebih muda darinya.

Meski plotnya bukan lagi benar-benar baru, Younger jadi punya keleluasaan sangat luas membahas segala aspek dan konektivitas permasalahan utamanya sebagai sebuah serial yang tak harus diburu durasi. Detil-detil yang juga menjadi spesialisasi terkuat Darren Star sebagai salah satu kreator serial TV dengan nama terbesar di industrinya. Bayangkan dari Beverly Hills 90210, Melrose Place, Sex and The City bahkan Emily in Paris – semua tak akan ada yang berani tak mengakui status klasiknya sebagai serial-serial TV terbaik yang pernah dibuat, Star memang punya kemampuan luar biasa dalam eksplorasi karakter beserta dunia yang diangkatnya, menjadikan multikarakter dan personalisasi yang saling berinteraksi di dalamnya begitu menarik buat disimak satu-persatu tanpa kehilangan interkoneksinya.

Apa yang kita saksikan di Younger memang punya similaritas eksplorasi dengan kiprah Carrie Bradshaw di Sex and the City dalam industri fashion dan begitu pula di Emily in Paris dalam dunia profesi yang tak terlalu jauh berbeda. Hanya saja, Younger juga tak lupa memuat aspek-aspek soal industri buku dan penerbitan. Bentukan karakter utamanya pun masih berada di jalur yang sama dengan permasalahan yang sangat bersudut pandang feminis serta menyenggol banyak masalah serupa yang dialami banyak orang sebagai pemirsanya. Sementara soal usia-lah yang jadi sorotan paling menarik sebagai elemen terkuat dalam Younger – sesuai judul yang digagas Star berdasar novelnya. Ini, selain menyentuh trend seputar wanita dewasa dan ibu-ibu muda ke paruh usia yang kini marak di mana-mana, juga soal body positivity berkaitan dengan aging process, dan soal-soal seputar seksualitas, membuat Younger seolah jadi bahasan aktual yang sangat kekinian, terutama terhadap keresahan sama yang dialami gendernya.

Sebagai Liza, Foster – walaupun tak dikenal seluas pemeran-pemeran pendampingnya, adalah pilihan yang tepat. Menyatu dengan sensitivitas Star membahas segala aspek semestanya, selain soal gestur yang jelas sudah teruji lewat karir panggungnya, secara fisik pun, Foster dengan baik menegaskan percikan-percikan persona-nya di gambaran rentang dan peralihan usia yang diangkat. Selagi Hillary Duff dan Debi Mazar menjadi pendamping yang sepadan dan bergantian mencuri perhatian, Miriam Shor bermain tak kalah menarik sebagai bos temperamental dan eksentrik di garis abu-abu tipikal karakter yang selalu dibutuhkan kala sebuah film bercerita soal profesi dan pekerjaan.  Begitu pula, Nick Tortorella (Scream 4, Odd Thomas) yang seharusnya bisa punya karir lebih baik di film dengan tampilannya. Ada sejumlah karakter yang berkembang di musim-musim berikutnya, dan semua dikonsep dengan baik dalam proses-proses peralihannya.

Selebihnya adalah tampilan keseluruhan yang tak lantas jadi kehilangan kelas walau wujud Younger sebagai serial TV single camera yang berada di tengah-tengah gaya sitcom dan TV movie. Atmosfernya tetap bisa menangkap glamoritas sosialita dan profesi yang dihadirkan Star secara elegan. Jadi agaknya tak usah heran kenapa Younger bisa bertahan selama itu sebagai sebuah serial populer ala Darren Star biasanya. Ditambah gelaran OST yang energik, jawabannya adalah subjek yang diangkatnya benar-benar terasa aktual, komprehensif, relevan sekaligus sangat update di masa-masa sekarang, dan ini rasanya masih belum akan berubah dalam waktu dekat.

Merupakan tayangan eksklusif di pilihan TV series, Younger musim pertama hingga keenam – masing-masing berjumlah 12 episode dengan durasi 20 menitan per-episodenya, dapat disaksikan lewat layanan kanal streaming Mola TV. Sebagai platform hiburan yang menyajikan konten eksklusif dan menarik melalui segmen-segmen yang ada, layanan Mola TV yang punya banyak pilihan beragam dan bertambah terus juga tergolong sangat ekonomis. Hanya dengan mengunduh aplikasi mobile, perangkat streaming full HD Mola Polytron ataupun mengaksesnya langsung lewat situs Mola TV (www.mola.tv), registrasi bisa diakses melalui link berikut: https://mola.tv/accounts/register. Dengan pembelian paket berlangganan seharga Rp. 12.500,- saja, serial YOUNGER bisa langsung dinikmati di Mola TV pada gadget dan perangkat Anda. (dan)