GEOSTORM: A CORNY SCI-FI DISASTER MEETS CONSPIRACY THRILLER, BUT WORKS AT EVERY LEVEL
Sutradara: Dean Devlin
Produksi: Warner Bros. Pictures, Skydance Media, Electric Entertainment, 2017

Image: impawards.com
Meski sesekali tak selalu bersama, nama produser Dean Devlin biasa disandingkan dengan sutradara Roland Emmerich lewat perusahaan yang mereka dirikan, Centropolis; di balik film-film hit yang menjual elemen disaster dari Independence Day, Godzilla 1998, The Day After Tomorrow, 2012 hingga White House Down. Kali ini, di ranah serupa, Devlin bermain sendirian lewat PH solonya, Electric Entertainment, sekaligus merambah debutnya sebagai sutradara.
Walau genre-nya jelas sangat menjual, banyak mungkin yang tak tahu kalau setelah tes screening yang mendapat sambutan buruk, Geostorm akhirnya menggamit Jerry Bruckheimer sebagai salah satu produser eksekutifnya. Begitupun, Geostorm memang bukan sebuah film disaster biasa. Menggabungkan sci-fi disaster dengan thriller konspirasi politik, paduannya cukup jarang ada di Hollywood. Satu yang paling diingat adalah Capricorn One (1977), film bertabur bintang karya Peter Hyams.
Dikisahkan, di tahun 2019, atas serangkaian bencana yang menimpa bumi, 18 negara bersatu membuat satelit pengontrol iklim di sebuah stasiun luar angkasa yang mereka namakan Dutchboy berdasar sebuah dongeng fantasi. Namun penggagasnya, ilmuwan Jake Lawson (Gerald Butler), tak lama dipecat oleh komite pemerintah karena sikapnya yang dianggap kelewat idealis. Digantikan oleh Max (Jim Sturgess), adiknya yang bekerja di pemerintahan, Jake yang sakit hati memilih menyepi ke daerah terpencil bersama putrinya Hannah (Talitha Bateman), hingga tiga tahun kemudian, atas usulan Sekretaris Leonard Dekkom (Ed Harris) dan Presiden Palma (Andy Garcia), Jake diminta kembali. Pasalnya, investigasi terhadap bencana iklim yang kembali menyerang sejumlah negara dan sewaktu-waktu bisa menyebabkan kiamat, mengarah ke sangkaan malfungsi pada sistem Dutchboy. Mau tak mau bekerjasama dengan commander Ute Fassbinder (Alexandra Maria Lara) dan sekelompok ilmuwan, mereka mulai menemukan bahwa malfungsi ini tak seketika terjadi begitu saja. Misi menyelamatkan dunia ini kembali menguji hubungan Jake dan Max, sementara Max juga harus meyakinkan Sarah (Abbie Cornish), agen pemerintah yang selama ini menjalin hubungan rahasia dengannya untuk sewaktu-waktu mengambil tindakan ekstrim demi tujuan yang sama.
Walaupun menggagas sains yang meski kedengaran bombastis namun sebenarnya cukup didasari logika-logika ilmiah dan bukan tak mungkin menyimpan penjelasan terhadap riset-riset iklim masa depan, skrip yang ditulis sendiri oleh Devlin dan kolaboratornya di serial The Librarian, Paul Guyot, memang menahan Geostorm berada di ranah hiburan murni dengan dialog-dialog yang luar biasa corny dan campy bahkan melebihi film-film disaster Emmerich biasanya. Namun juga harus diakui, interelasi karakter-karakternya tetap bisa dibangun dengan menarik walaupun didasari twists & turns yang sangat tertebak.
Paling tidak, sematan dua genre yang saling mendominasi itu, sci-fi disaster dan thriller konspirasi politik, tetap bisa berpadu secara taktis untuk tak melulu menggelar faktor boom-bang di sepanjang film. Dialog-dialog corny itu bahkan bisa bekerja dengan baik sebagai punchlines yang akan diingat pemirsanya di tengah intensitas yang terus menanjak di antara aksi seru dan survival games dari karakter-karakter utamanya. Ini memang seperti menyaksikan film-film campy ’80-an dengan referensi campur aduk dari film-film Devlin-Emmerich hingga Armageddon. Seperti London Has Fallen dalam balutan sci-fi.
Sementara di departemen cast, lead duet antara Butler dan Sturgess yang masih kerap terasa naik turun, untungnya cukup bisa tertutupi oleh penampilan sejumlah first class cast dari Abbie Cornish, Ed Harris, Andy Garcia (karakterisasinya sangat terlihat dibesut dengan penuh respek oleh Devlin) plus aktor HK Daniel Wu yang lagi-lagi jadi senjata Hollywood menembus pasar China. Masih ada penampilan yang cukup mencuri perhatian dari aktris Rumania-Jerman Alexandra Maria Lara (Downfall, Rush), komedian Meksiko Eugenio Derbez (Sandy Wexler, How to be a Latin Lover) dan Zazie Beetz yang nanti akan muncul dalam sekuel Deadpool sebagai Domino.
Di sisi teknis pun, Geostorm tetap punya keseimbangan kurang lebihnya. CGI-nya mungkin tak pernah sekompleks film-film Emmerich dengan jumlah frame yang juga mungkin cukup terbatas dibandingkan saudara-saudaranya, namun tetap ada sejumlah never before seen sequence yang bekerja sebagai inovasi bagus baik di ranah genre maupun eksplorasi sainsnya. Tak ada yang terlalu spesial juga dari sinematografi Roberto Schaefer – DoP kolaborator Marc Forster, namun score dari Lorne Balfe yang sedikit banyak terasa senafas dengan Trevor Rabin di Armageddon, tetap mampu membangun intensitas adegan-adegan serunya.
So, nikmati saja paduan permainan yang ditawarkan Geostorm sebagaimana adanya. Membandingkannya dengan karya-karya Emmerich mungkin bisa jadi akan sangat relatif, namun jelas ada di sisi yang sama sebagai hiburan yang sangat menyenangkan. A rare sci-fi disaster meets conspiracy thriller, Geostorm plays like a much cornier Capricorn One, but also works at every level. Every level. (dan)
danieldokter
Latest posts by danieldokter (see all)
- HEREDITARY (2018) - July 1, 2018
- SICARIO: DAY OF THE SOLDADO (2018) - June 27, 2018
- JURASSIC WORLD: FALLEN KINGDOM (2018) - June 6, 2018
danieldokter.com A Movie a Day Keeps The Doctor Nearby
