Home » Dan at The Movies » POWER RANGERS (2017)

POWER RANGERS (2017)

POWER RANGERS: THE BREAKFAST CLUB MEETS CHRONICLE IN A NEW ORIGIN STORY

Sutradara: Dean Israelite

Produksi: Lionsgate, Temple Hill Entertainment, 2017

power rangers

Dalam trend reboot superhero, ‘Power Rangers’ pun tak mau ketinggalan. Produk unggulan Saban Entertainment yang mencantumkan bandrol resminya sebagai ‘Saban’s Power Rangers’ di judul lengkapnya ini menjadi film layar lebar ketiga franchise-nya yang tak saling berhubungan. Tentu, masih dalam kecenderungan trend-nya, sebuah reboot sekarang mestilah tampil secara inventif. Resikonya ada pada reaksi fans sebagai pangsa terbesarnya.

Namun begitu, dalam perkembangannya dari awal, ‘Power Rangers’ yang aslinya diilhami bahkan mengambil banyak footage dari serial tokusatsu Toei Company, Jepang – ‘Super Sentai’ ini memang sudah terdiversifikasi ke banyak sekali subseries/tema berbeda dari serial televisi hingga produk merchandising lain termasuk mainan dari action figures, other toy lines ke video game. So, which based on which – tampaknya tak terlalu perlu dipusingkan selama masih menggunakan titel dan esensi awalnya sebagai young superhero ensemble di atas pola-pola baku tokusatsu. Tone silly dan campy yang belum bergeser dari semua produknya – adalah masalah lain lagi.

Bergerak sebagai origin story baru dari ensembelnya yang menarik kisahnya dari awal dengan latar belakang Zordon (Bryan Cranston) dan archenemy mereka Rita Repulsa (Elizabeth Banks) sebagai former Power Rangers di zaman prasejarah, lima orang remaja bermasalah dalam detention program sekolah mereka; Jason (Dacre Montgomery), Kimberly (Naomi Scott), Billy (RJ Cyler), Trini (Becky G) dan Zack (Ludi Lin) menemukan Power Coins – sumber kekuatan yang disembunyikan Zordon puluhan juta tahun yang lalu. Mulai mengeksplorasi kekuatan baru hingga menemukan Zordon dan asistennya Alpha 5, mereka mau tak mau harus menerima takdirnya untuk sebagai jagoan-jagoan pilihan Zordon untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran. Kembali melawan Rita Repulsa yang ikut dibangkitkan bersama laskarnya, Goldar, untuk mencari keberadaan Zeo, sebongkah kristal yang dipercaya sebagai pelindung bumi.

Berdasar konsep cerita dari duo Matt SazamaBurk Sharpless dari ‘Dracula Untold’ dan ‘Gods of Egypt’ dan KieranMichele Mulroney; John Gatins, penulis skrip ‘Flight’ dan co-writerKong: Skull Island’ bersama sutradara Dean Israelite; sutradara asal Afrika Selatan yang baru saja memulai debut Hollywood-nya lewat ‘Project Almanac’, found footage fantasy thriller tahun lalu yang sungguh tak jelek, memang membawa proses-proses dalam origin story baru ini di ranah berbeda di atas referensi pop culture yang sangat beragam. Entah memang kebetulan, momen rilisnya memang bersamaan dengan anniversary ke-22 film remaja legendaris ‘The Breakfast Club’-nya The Brat Pack & John Hughes; satu referensi paling jelas yang mereka gunakan untuk pengembangan karakternya.

Lantas, proses-proses power gained-nya mereka gagas menyerupai salah satu referensi wajib banyak reboot sekarang ke darker tone di ranah superhero – ‘Chronicle’-nya Josh Trank & Max Landis nyaris hampir sedetil itu. Bergantian, di sela-selanya, juga banyak trivia dari genre yang saling bersinggungan seperti ‘Stand By Me’ , ‘Short Circuit‘ bahkan ‘The Goonies’ – namun menambah lagi porsi diversifikasi karakter utamanya dari warna hingga gender.

Menempati porsi utama Red Ranger sebagai leaderPower Rangers’ versi 2017 ini adalah aktor baru Dacre Montgomery yang secara fisik merupakan perpaduan Jamie Walters (‘The Heights‘ ‘90s serial) dan Michael Dudikoff muda dengan lead presence yang meyakinkan, lantas aktris berdarah Inggris-India Naomi Scott sebagai Pink Ranger, RJ Cyler, aktor Afrika-Amerika dari Sundance hitMe and Earl and a Dying Girl’ sebagai Blue Ranger, aktor Chinese-Kanada Ludi Lin sebagai Black Ranger dan penyanyi berdarah latin Rebecca Marie Gomez dengan stage name Becky G yang diserahi porsi publikasi LGBT character dalam trend yang tengah marak di mana-mana sekarang. Kelima aktor muda ini adalah salah satu faktor terkuat dalam ‘Power Rangers’ baru dengan diverse blend yang membentuk chemistry-nya dengan baik, berproses semakin kuat ke titik finalnya. Mendampingi mereka, Elizabeth Banks sebagai Rita Repulsa, Bryan Cranston yang seluruhnya terbalut makeup dan grafis serta Bill Hader yang mengisi suara Alpha 5 pun sama baiknya. If you’re not blinking, too, ada cameo Jason David Frank dan Amy Jo Johnston, masing-masing pemeran Green Ranger dan Pink Ranger di serial aslinya.

Namun hal terbaik dalam ‘Power Rangers’ adalah bahwa di tengah elemen-elemen racikan bertabur referensi dan homage itu – Israelite dan Gatins tak lantas membuatnya seperti ‘Fant4stic Four’ terakhir yang jadinya justru kacau-balau dan mengkhianati source aslinya. Instead, menahan eksplorasinya ke ranah lebih gelap cukup sebatas tampilan – lewat sinematografi Matthew J. Lloyd, namun tetap membiarkan silly – campy tone franchise-nya berkali-kali menyeruak ke permukaan teratas penceritaannya – from dialogues to scenes, termasuk dari pendekatan komposisi score Brian Tyler yang sangat pop.

Menyisakan tak sampai 30 menit akhir durasinya untuk menggeber habis-habisan boom bang CGI – VFX di atas silly – campy tone yang terus konsisten itu, bahkan memuat product placement nyeleneh salah satu sponsor utamanya, seluruh eksposisi awalnya pun jadinya tetap terasa efektif, bukan kelewat meloncat seperti perubahan jomplang yang kita jumpai dalam ‘Man of Steel’-nya DCEU. Di situ pula mereka memunculkan fusion formation andalan franchise-nya, Megazord – satu yang paling ditunggu fans-nya bersama – walaupun muncul terpisah-pisah sebagai penggalan tapi diletakkan di dua momen terbaiknya, first morph and Megazord’s first strike – theme song versi film layar lebar pertama; ‘Mighty Morphin Power Rangers‘ yang paling dikenal, ‘Go Go Power Rangers’ yang dibawakan oleh thematic band bentukan eksklusif OST-nya ‘The Power Rangers Orchestra’ ; Eric Martin dari Mr. Big di vokalnya, gitaris Tim Pierce dan drummer Matt Sorum dari formasi awal Guns N’ Roses, di antaranya. End title song-nya; ‘Give it All‘ dari With You. feat Santigold & Vince Staples pun memasukkan sample salah satu eurodance hit ’90an yang juga masuk ke dalam OST versi 1995 itu, ‘The Power‘-nya Snap!

So, buat yang betul-betul mengenal perkembangan franchise-nya, rasanya tak ada alasan untuk tak menyukai inovasi-inovasi baru dalam ‘Saban’s Power Rangers’ versi 2017 ini. Ultimate diversity di penempatan karakternya, eksplorasi darker tone di atas cinematic references yang kaya, sementara semua silly & campy tone-nya tetap dipertahankan dengan kuat bersama final showdown yang fun dan seru luar biasa, plus mid credit scene yang menambah lagi referensi penting ke source aslinya, semua sudah menggaris keyword terpenting untuk kesuksesannya. Balance, and that, is a powerful one. It’s Morphin Time! Go go Power Rangers! (dan)