Home » Events » BICARA SOAL MASA DEPAN INDUSTRI DAN FESTIVAL FILM DI PANEL DISKUSI TIFF KE-34: THE FUTURE OF THE FILM INDUSTRY

BICARA SOAL MASA DEPAN INDUSTRI DAN FESTIVAL FILM DI PANEL DISKUSI TIFF KE-34: THE FUTURE OF THE FILM INDUSTRY

Ichiyama Shozo – Programming Director – TIFF & Frederic Boyer – Artistic Director – Tribeca ©2021 TIFF

Tokyo, 31 Oktober 2021 – Memasuki tahun kedua keikutsertaan-nya menjadi programming director Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-34 tahun ini,  Ichiyama Shozo, dalam wawancara terpisah mengatakan bahwa satu hal yang menurutnya selama ini masih belum tercapai di TIFF, sebagai salah satu festival film internasional di Asia adalah panel diskusi yang menghadirkan nama-nama penting di ajang festival internasional luar Jepang. Situasi pandemi yang mulai mereda bersama penyelenggaraan TIFF tahun ini pada akhirnya memungkinkan Shozo mewujudkan programnya. Digelar akhir pekan lalu di lokasi baru TIFF, Tokyo Midtown Hibiya, ada 5 panelis yang tampil bersama Shozo.

Mereka adalah Christian Jeune – Deputy General Delegate dari Cannes, Carlo Chatrian, Artistic Director Berlinale, Frederic Boyer – Artistic Director Tribeca Film Festival, Lorna Tee – Kurator dari sejumlah festival film internasional dan Jean-Michel Frodon – Kritikus dan Cinema Historian untuk mewakili sisi penonton. Kelima panelis ini membahas topik dalam sesi yang diberi nama World Cinema Conference: The Future of the Film Industry.

Setelah membuka diskusi, menyampaikan pandangannya soal festival film pasca Covid yang memiliki banyak pengaruh terhadap perkembangan sinema internasional dan penyesuaian – menyebut festival film internasional terakhir menjelang pandemi Covid-19; Berlinale 2020 di bulan Februari, Carlo Chatrian memulai sesinya. Chatrian menjelaskan kesulitan yang dihadapinya bersama timnya untuk menentukan edisi 2021 dengan perubahan yang muncul selama pandemi.

Carlo Chatrian – Artistic Director – Berlinale ©2021 TIFF

“Kami terpaksa mengambil dua langkah. Pertama adalah komponen online di mana segmen-segmen yang ada terpaksa dikurangi dari 300 film menjadi 100, dan kami tetap mengundang juri untuk menyaksikan film-film itu, hanya saja di gedung bioskop kosong yang tak dihadiri audiens seperti biasanya”, kata Chatrian. Pihaknya juga terpaksa menunda event European Film Market ke bulan April setelah mendapat izin dan mengadakan pemutaran outdoor dengan social distancing. Ada 65.000 total jumlah admisi, yang menurut Chatrian sungguh tak jelek.

Cannes, sementara terpaksa meniadakan festivalnya di 2020. Christian Jeune, sebagai perwakilannya, mengatakan bahwa pihaknya sebenarnya tengah menyeleksi film-film yang ada untuk diluncurkan di bulan Mei sebagai rencana semula, dan sama sekali tak punya pilihan ketika pandemi melanda. Banyak permasalahan yang terjadi, namun pada akhirnya mereka menggelar edisi berikutnya dengan label Cannes 2020 dan mereka berhasil mengatasinya. Cannes bisa tetap mempertahankan brand image-nya dan filmmaker bisa tetap meluncurkan filmnya dengan bandrol Cannes. Shozo lantas menanyakan apa pengaruhnya ketika Cannes digelar di Juli tahun ini ketimbang Mei seperti biasanya, Jeune mengatakan hasilnya cukup baik walaupun separuh penduduknya tengah berlibur.

Christian Jeune – Deputy General Delegate – Cannes ©2021 TIFF

Frederic Boyer dari Tribeca, festival internasional yang digelar di New York mengatakan dampak untuk tetap menggelar festivalnya di 2020 mungkin tak punya pengaruh pada industri, namun lebih ke film fans, yang biasanya tak punya kesempatan menghadiri festivalnya. Dengan adanya restriksi geografis akibat pandemi, terutama di AS. Menurutnya, Sundance cukup berhasil dengan mengalihkan ke online dalam menjangkau lebih banyak audiens terutama non-sinefil lewat penayangan online. Walaupun ia tetap menyayangkan film-film itu tak bisa disaksikan secara fisik, ini, menurutnya cukup menguntungkan untuk film-film berskala kecil yang memerlukan perhatian lebih dari para pengamat. Dengan penayangan online, paling tidak, distribusinya secara internasional justru jadi lebih luas.

Pendapat Boyer disetujui oleh Lorna Tee sebagai kurator yang juga produser film-film independen Asia. Benar menurutnya bahwa komponen online sangat membantu sebuah film terutama film-film independen untuk menemukan penonton internasionalnya, namun tetap, menurut Lorna, salah satu tujuan paling vital festival film adalah untuk membawa penonton menikmatinya secara bersama-sama. Ia mencontohkan salah satu festival yang juga ikut diorganisirnya, IFFA Macao, yang sangat terasa dampaknya ketika beralih ke online di akhir 2020. Untuk berada di satu ruang, berbagi energi dan passion membicarakan sinema, menurutnya tetap tak bisa tergantikan. Kalaupun mau menyebut salah satu keuntungannya, kata Lorna lagi, kondisi pandemi ini menyadarkan para organizer seberapa jauh kemampuan sebuah festival untuk menayangkan film.

Lorna Tee ©2021 TIFF

Masih ada pula masalah lain yang disampaikan Chatrian soal kecenderungan trend yang berbeda di lain-lain negara. Kebanyakan festival di Eropa bisa tetap berlangsung dengan adanya dukungan publik, namun menurutnya, di AS, antusiasmenya jauh lebih sedikit terutama dari pemerintah. Di satu sisi konten online bisa membantu namun juga punya resiko terhadap kultur kompetitif dari mediumnya. “Kita menjangkau lebih banyak audiens lewat online, namun pada akhirnya kita berkompetisi dengan ‘behemoths’ (begitu ia menyebutnya) seperti Netflix. Ini dari sisi marketing sangat berbeda”, tambahnya.

Jean-Michel Frodon yang merupakan seorang kritikus dan cinema historian kemudian menanggapi, dari sisi sebagai penonton, ia tak merasa keberatan menikmati festival secara online. Ada ribuan festival film berskala kecil yang tetap sangat menghidupi sinema dan justru memperlebar platform pasar, menurutnya. Bahkan ketika saling berkompetisi satu dengan lainnya, Frodon beranggapan lama-kelamaan kultur ini akan jadi lebih besar dan lebih baik. “Kepentingannya menjadi lebih jelas ketika fragilitas dari sistemnya terekspos lewat pandemi”, sebut Frodon. Sempat berargumen dengan Boyer yang mengatakan sebagai avid fan, Frodon memiliki proyektor sekelas home theatre di basement rumahnya di Paris sehingga tak bisa disamakan dengan yang menikmati online screening seadanya, namun Frodon menjelaskan bahwa bukan berarti ia menentang konsep festival sesungguhnya secara fisik, hanya saja mesti ada penyesuaian yang bisa dilakukan.

Jean-Michel Frodon ©2021 TIFF

Lorna Tee kembali menambahkan bahwa pandemi memang mau tak mau memengaruhi kultur festival film, namun memang benar, ditimpali oleh panelis lain, walau banyak festival yang sudah berulang kali membahas ini, belum ada sebenar-benarnya sebuah solusi ideal yang muncul. Menurut Chatrian, online screenings bukanlah suatu solusi yang tepat karena tetap membutuhkan energi lebih dalam pengaturan server masif yang bisa jadi tak jauh berbeda dari sisi bujet untuk penyelenggara ketimbang menyediakan akomodasi dan transportasi, namun mau tak mau setuju cara ini mungkin bisa meningkatkan admisi dari hanya ribuan yang biasanya bersedia melakukan perjalanan lintas negara menjadi jutaan. Di satu sisi, ini juga menurutnya agak mengecilkan arti festival sambil mengenang masa mudanya di mana ia harus berusaha cukup banyak untuk bisa menghadiri sebuah festival film.

Memasuki sesi Q&A, pertanyaan seorang jurnalis menanyakan apa bedanya sebuah festival film menayangkan konten secara online dengan stasiun TV lokal menayangkan konten mereka lewat internet, Chatrian lagi-lagi menjawab, ia setuju bahwa ketersediaan instan dari konten online memang sangat melukai sistem festival. Frodon menawarkan opini berbeda bahwa tetap ada perbedaan dari sisi ‘programming’, bahwa walau digelar secara online, sebuah festival jelas tak sama dengan identitas-identitas berbeda yang dibawa lewat kurasi dan programming-nya, bukan melulu dilihat dari sisi marketing. Yang justru menjadi bahaya – ini disetujui semua panelis, adalah ketika polanya menjadi sama di semua festival. Membangun audiens yang berdedikasi lewat programming yang cermat dan tepat – tetap merupakan kunci  untuk mendefinisikan festival film.

Tokyo International Film Festival masih berlangsung hingga 9 November 2021. (dan)